Selat Hormuz Kian Mencekam, Dua Tanker Dilaporkan Meledak Saat Melintas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Meningkatnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali mengguncang jalur energi terpenting dunia. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeklaim dua kapal tanker minyak meledak saat melintasi jalur selatan Selat Hormuz yang disebut sebagai "jalur tidak aman", dan menuduh kapal-kapal tersebut dipaksa oleh militer AS untuk tetap berlayar di rute tersebut.
Baca Juga
Eskalasi Baru Konflik AS-Iran, Perebutan Kendali Selat Hormuz Kian Memanas
Dalam pernyataan yang dirilis Senin (20/7), IRGC menyatakan kedua tanker kini tidak dapat melanjutkan pelayaran. Namun hingga kini Iran tidak mengungkap identitas kapal, bendera, maupun informasi mengenai awak kapal dan korban. Klaim tersebut juga belum dapat diverifikasi secara independen.
Iran menegaskan selama "agresi Amerika Serikat" di kawasan masih berlangsung, jalur tersebut tidak akan aman bagi pengiriman minyak, gas, maupun produk petrokimia. IRGC bahkan memperingatkan militer AS agar bersiap menghadapi "operasi pembalasan" atas tindakan yang disebut melanggar hukum internasional.
Di sisi lain, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan adanya sebuah kapal yang terbakar sekitar delapan mil laut di barat laut Kumzar, Oman. Hingga kini penyebab insiden tersebut masih belum dapat dipastikan dan sedang dalam penyelidikan.
Perkembangan terbaru menunjukkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz semakin menurun tajam. Data LSEG yang dikutip Reuters menunjukkan hanya sedikit kapal tanker yang masih berani memasuki jalur tersebut, sementara pengiriman LNG praktis terhenti dalam beberapa hari terakhir. Banyak perusahaan pelayaran memilih menunda pelayaran karena risiko keamanan yang terus meningkat.
Sementara itu, Amerika Serikat melanjutkan gelombang serangan udara terhadap sasaran-sasaran Iran untuk hari kesembilan berturut-turut. Washington menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam pelayaran internasional di Selat Hormuz, sedangkan Iran terus membalas dengan serangan rudal terhadap sejumlah fasilitas militer AS di kawasan.
Baca Juga
Memanasnya konflik langsung memicu kekhawatiran pasar energi global. Harga minyak Brent kembali menembus level US$90 per barel karena investor mengantisipasi terganggunya pasokan dari Teluk Persia. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia sehingga setiap gangguan berpotensi memengaruhi harga energi global.
Media internasional seperti Reuters, Financial Times, The Guardian, dan Arab News melaporkan bahwa situasi di Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik paling berbahaya bagi pelayaran internasional sejak konflik AS-Iran kembali memanas. Meski demikian, sejumlah klaim Iran mengenai ledakan dua tanker masih belum memperoleh konfirmasi independen dari otoritas maritim maupun pemerintah negara lain.
