AS dan Iran Kembali Saling Serang, Kapal Tanker di Hormuz Jadi Sasaran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harapan dunia agar Selat Hormuz kembali menjadi jalur pelayaran energi yang aman setelah tercapainya memorandum of understanding (MoU) antara Amerika Serikat (AS) dan Iran hanya bertahan beberapa hari. Memasuki akhir pekan, kawasan yang dilalui hampir 20% perdagangan minyak dunia itu kembali bergolak setelah kapal tanker dan kapal kargo menjadi sasaran serangan, disusul aksi saling balas antara militer AS dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Menurut Al Jazeera pada 27 Juni 2026, konflik memasuki hari ke-120 sejak perang pecah. Untuk pertama kalinya sejak penandatanganan MoU perdamaian, Washington dan Teheran kembali terlibat baku serang secara terbuka. Pemerintah AS menyatakan operasi militernya merupakan respons terhadap serangan drone Iran terhadap kapal dagang di Selat Hormuz sehari sebelumnya. Sementara Iran menegaskan justru AS yang lebih dahulu melanggar MoU sehingga seluruh proses diplomasi kini berada di ambang kegagalan.
Laporan CNN yang diperbarui Minggu (28/06/2026) menyebut aksi militer telah berlangsung tiga hari berturut-turut, menguji gencatan senjata yang sebelumnya disepakati untuk memulihkan keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut kembali menjadi pusat konfrontasi setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal niaga memicu respons militer Washington.
Baca Juga
Gencatan Senjata Kembali Retak, AS Serang Iran Usai Insiden Hormuz
Kapal di Hormuz Jadi sasaran
Menurut CNBC, serangan terbaru bermula ketika kapal tanker berbendera Panama M/T Kiku yang mengangkut lebih dari dua juta barel minyak mentah dihantam drone saat melintas di dekat Selat Hormuz pada Sabtu (27/6). Beberapa hari sebelumnya, kapal kargo berbendera Singapura Ever Lovely juga mengalami serangan drone di jalur yang sama ketika berlayar di lepas pantai Oman. Kedua insiden tersebut menjadi alasan Washington melancarkan operasi militer balasan.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pesawat tempurnya menyerang berbagai sasaran militer Iran, meliputi fasilitas penyimpanan rudal dan drone, sistem komunikasi militer, radar pantai, pertahanan udara, infrastruktur pengawasan, hingga kemampuan penebaran ranjau laut yang dinilai menjadi ancaman terhadap kebebasan navigasi internasional.
Al Jazeera melaporkan gelombang kedua serangan udara AS menghantam sejumlah lokasi strategis di Provinsi Hormozgan, termasuk Sirik, Bandar-e Lengeh, serta Pulau Qeshm, yang selama ini menjadi basis penting Angkatan Laut IRGC dalam mengawasi Selat Hormuz. Media pemerintah Iran juga melaporkan adanya ledakan di sekitar pelabuhan Sirik dan Pulau Qeshm setelah serangan tersebut.
Lokasi-lokasi tersebut memiliki arti strategis karena berada di sisi utara Selat Hormuz dan menjadi titik pengawasan utama lalu lintas kapal tanker yang keluar-masuk Teluk Persia. Selama perang berlangsung, kawasan ini juga disebut menjadi pusat operasi drone, rudal pantai, radar maritim, dan kapal cepat IRGC.
IRGC Serang Bahrain dan Kuwait
Iran tidak tinggal diam. IRGC mengumumkan telah meluncurkan rudal dan drone ke berbagai lokasi tempat pasukan AS ditempatkan di kawasan Teluk, terutama di Bahrain dan Kuwait. Pemerintah Kuwait mengonfirmasi sistem pertahanan udaranya diaktifkan untuk mencegat sejumlah proyektil yang mengarah ke wilayahnya. Bahrain juga mengecam serangan drone Iran sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan negaranya.
Dalam pernyataannya, IRGC memperingatkan bahwa setiap serangan lanjutan dari AS akan dibalas dengan “crushing response” atau respons yang menghancurkan. Iran juga menyatakan operasi militer AS telah melanggar kesepakatan damai dan akan mengakhiri seluruh proses diplomasi yang sedang berjalan.
Trump: Iran Melanggar MoU
Presiden AS Donald Trump menuduh Iran sengaja melanggar MoU yang baru ditandatangani sekitar dua pekan lalu. Menurut Trump, Teheran telah diberi kesempatan untuk menghormati kesepakatan damai, tetapi justru memilih menyerang kapal-kapal sipil yang melintas di Selat Hormuz.
Trump kemudian memperingatkan bahwa bila Iran kembali menyerang kapal internasional maupun kepentingan AS di kawasan, Washington siap “militarily complete the job” atau menyelesaikan konflik melalui kekuatan militer.
Sebaliknya, Iran menilai serangan udara AS dilakukan ketika proses negosiasi masih berlangsung. Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyatakan AS kembali menyerang Iran di tengah perundingan sehingga tidak lagi memiliki komitmen terhadap prinsip-prinsip diplomasi maupun gencatan senjata.
Risiko di Hormuz Meningkat
Meski situasi keamanan memburuk, CENTCOM menegaskan bahwa lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz masih terus berlangsung. Namun serangan terhadap dua kapal dagang hanya dalam waktu dua hari menunjukkan bahwa risiko pelayaran masih sangat tinggi. Perusahaan pelayaran dan asuransi maritim kini kembali meningkatkan status kewaspadaan terhadap jalur tersebut.
Bagi pasar energi global, stabilitas Selat Hormuz tetap menjadi faktor yang sangat menentukan. Sekitar 20% pasokan minyak dunia dan sebagian besar ekspor LNG dari negara-negara Teluk melewati jalur ini. Setiap gangguan keamanan berpotensi meningkatkan premi asuransi kapal, ongkos logistik, volatilitas harga minyak, serta memperburuk ketidakpastian ekonomi global.
Baca Juga
Harga Minyak Naik Lagi Setelah Iran Serang Kapal di Selat Hormuz
Konflik Meluas ke Lebanon
Di saat bersamaan, konflik regional juga merembet ke Lebanon. Israel kembali melancarkan serangan drone di Lebanon selatan, hanya sehari setelah tercapai kerangka kesepakatan dengan pemerintah Lebanon mengenai penarikan sebagian pasukan. Situasi tersebut menunjukkan bahwa ketegangan di Timur Tengah tidak lagi terbatas pada konflik AS-Iran, tetapi telah berkembang menjadi krisis keamanan regional yang melibatkan beberapa negara sekaligus.
Dengan demikian, kesepakatan damai yang semula diharapkan membuka kembali jalur perdagangan energi dunia kini menghadapi ujian terberatnya. Selat Hormuz memang belum ditutup dan kapal-kapal masih dapat melintas, tetapi serangan terhadap kapal tanker, aksi balasan militer, serta meningkatnya keterlibatan negara-negara Teluk menunjukkan bahwa salah satu jalur energi paling penting di dunia itu kembali berada dalam situasi yang sangat rentan.
