Iran Klaim Serang Kapal Tanker dengan Rudal, Harga Minyak Melonjak Lagi
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Perang Iran semakin memanas, yang mendorong kenaikan harga minyak. Harga minyak mentah AS melonjak melampaui 80 dolar per barel pada Kamis (5/3/2026). Lalu lintas di Selat Hormuz terhenti akibat serangan terhadap kapal tanker. Perang Iran telah mengganggu pasokan bahan bakar global.
Baca Juga
Gejolak Harga Minyak Mereda, tapi Brent Masih Bercokol di Atas US$ 80
Dikutip dari CNBC, harga minyak West Texas Intermediate melonjak 8,51%, atau 6,35 dolar, ditutup pada 81,01 dolar per barel. Patokan global Brent naik 4,93%, atau 4,01 dolar, menjadi 85,41 dolar per barel. Harga minyak AS telah melonjak sekitar 21% sepanjang pekan ini.
Harga bensin ritel di AS melonjak hampir 27 sen sejak pekan lalu menjadi rata-rata 3,25 dolar per galon, menurut kelompok pengendara AAA. Terakhir kali harga bensin mengalami lonjakan serupa adalah pada Maret 2022 setelah Rusia menginvasi Ukraina, kata kelompok tersebut.
Iran mengeklaim telah menyerang sebuah kapal tanker minyak dengan rudal, menurut laporan media pemerintah. Garda Revolusi Iran memerintahkan penutupan Selat Hormuz awal pekan ini dan mengancam akan menyerang tanker yang melintas di jalur tersebut.
Angkatan Laut Inggris pada Kamis melaporkan sebuah ledakan besar pada kapal tanker yang sedang berlabuh di perairan teritorial Irak. Kapten kapal melaporkan melihat sebuah kapal kecil melarikan diri dari lokasi kejadian. Awak kapal dilaporkan selamat dan tidak ada kebakaran yang terjadi.
Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz terhenti sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai, karena pemilik kapal khawatir terhadap situasi keamanan yang sangat tidak stabil. Sekitar 20% konsumsi minyak global diekspor melalui selat tersebut.
Baca Juga
Iran Tutup Selat Hormuz di Tengah Meningkatnya Ketegangan di Timur Tengah, Harga Minyak Meroket
Presiden Donald Trump pada Selasa mengatakan AS akan menyediakan asuransi risiko politik bagi kapal tanker yang melintas di selat tersebut. Trump juga mengatakan Angkatan Laut AS akan mengawal kapal-kapal melalui Teluk Persia jika diperlukan.
Pemerintahan Trump belum memiliki jadwal kapan selat tersebut akan kembali aman bagi pelayaran komersial, kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan pada Rabu.
“Saya tidak ingin menetapkan jadwal, tetapi ini jelas sesuatu yang sedang dihitung secara aktif oleh Departemen Perang dan Departemen Energi,” kata Leavitt ketika ditanya dalam sebuah pengarahan.

