AS Hancurkan 5 Tanker Minyak Iran, Selat Hormuz Kembali Membara
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran pada Selasa (8/9/2026). Aksi militer AS ini diklaim sebagai balasan atas dua serangan rudal balistik Garda Revolusi Iran (IRGC) terhadap kapal perang Amerika dalam dua hari terakhir.
Baca Juga
AS Perketat Isolasi Ekonomi Iran, 27 Maskapai Masuk Daftar Sanksi
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan kapal perang Amerika berhasil menghindari serangan rudal tersebut dan tidak ada personel AS yang terluka. Lima kapal tanker yang menjadi sasaran disebut terkait dengan jaringan perdagangan minyak Iran yang digunakan untuk membiayai IRGC.
Menurut CENTCOM, seperti dikutip CNBC, empat kapal dihantam di Teluk Oman, yakni M/T Kaviz, M/T Charminar, M/T Horizon 1 dan M/T Riesco. Satu kapal lainnya, M/T Derya, diserang di dekat Pulau Kharg, salah satu pusat utama ekspor minyak Iran.
Sebelum serangan dilakukan, pasukan AS mengatakan telah memerintahkan awak kapal untuk meninggalkan kapal. Setelah itu, kapal-kapal tersebut diserang hingga tidak dapat beroperasi.
“Pasukan Amerika mengarahkan para awak untuk meninggalkan kapal sebelum kapal-kapal tersebut diserang dan dibuat tidak dapat beroperasi,” sebut CENTCOM dalam pernyataannya.
Langkah terbaru ini memperlihatkan bahwa konflik yang sebelumnya berpusat pada serangan terhadap fasilitas militer kini semakin berubah menjadi perang ekonomi dan perang tanker, dengan Selat Hormuz sebagai medan utama perebutan pengaruh.
Iran merespons dengan ancaman pembalasan yang lebih keras. Menurut laporan Reuters dan AP, Teheran mengancam kapal-kapal di sekitar Kuwait dan Bahrain serta memperingatkan bahwa infrastruktur energi di kawasan Teluk dapat menjadi sasaran. Iran juga menyatakan rencana membentuk zona pembatasan maritim di sekitar Selat Hormuz.
Situasi tersebut membuat risiko terhadap pelayaran komersial meningkat tajam.
Reuters melaporkan jumlah kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi hanya tujuh kapal pada Senin, dari delapan kapal sehari sebelumnya, berdasarkan data Kpler. Dalam 10 hari terakhir, rata-rata hanya sekitar 10 kapal komoditas per hari yang melewati selat tersebut, level terendah sejak Mei. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut.
AS-Iran Terjebak dalam Siklus Serangan
Serangan terbaru tersebut bukan insiden terpisah. Pada akhir pekan sebelumnya, AS telah menghancurkan tiga tanker Iran setelah IRGC menembakkan rudal balistik ke kapal induk dan kapal perusak AS. Iran kemudian melancarkan serangan terhadap sejumlah kapal dan kepentingan AS di kawasan.
Baca Juga
Al Jazeera menyebut perkembangan tersebut sebagai bentuk “tanker war”, ketika kedua pihak menggunakan kapal tanker dan jalur pelayaran sebagai instrumen tekanan militer dan ekonomi.
Washington menilai tanker-tanker Iran merupakan bagian dari jaringan “shadow fleet” yang membantu Teheran menjual minyak sekaligus menyediakan sumber pendanaan bagi IRGC dan kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran.
Sementara itu, Iran menilai blokade laut AS sebagai tindakan agresi dan berusaha menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tawar untuk memaksa Washington menghentikan tekanan militer dan ekonomi.
Situasi ini membuat risiko salah perhitungan semakin besar. Satu serangan terhadap kapal perang atau kapal komersial berpotensi memicu serangkaian serangan balasan yang lebih luas.
Iran Klaim Tangkap Drone Bawah Laut AS
Ketegangan juga meningkat setelah Iran mengeklaim telah menangkap sebuah kapal selam tak berawak atau unmanned underwater vehicle milik AS di dekat pintu masuk Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran, Fars, menampilkan foto dan video yang diklaim memperlihatkan perangkat tersebut telah diangkat dari laut.
Namun, Washington mengecilkan signifikansi perangkat itu.
Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins mengatakan drone tersebut mengalami kerusakan lebih dari sehari sebelumnya ketika sedang melakukan survei perairan regional untuk mendukung operasi militer AS.
Hawkins, dikutip The Guardian, menegaskan bahwa operasi Amerika di kawasan tetap berlangsung. CENTCOM juga menyatakan perangkat tersebut tidak membawa data sensitif maupun peralatan rahasia.
Dengan demikian, insiden drone tersebut belum menjadi perubahan besar dalam kemampuan militer kedua pihak, tetapi menunjukkan betapa dekatnya kontak antara pasukan AS dan Iran di sekitar Selat Hormuz.
Houthi Serang Arab Saudi
Ancaman terhadap pasokan energi tidak hanya datang dari Selat Hormuz. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman pada Selasa melancarkan serangan drone dan rudal terhadap sejumlah wilayah di Arab Saudi, termasuk Khamis Mushait, Abha, Najran dan Jazan.
Reuters melaporkan lebih dari 70 orang terluka dalam serangkaian serangan tersebut dan sejumlah fasilitas energi mengalami gangguan. Fasilitas Saudi Aramco di Jizan juga dilaporkan kembali menjadi sasaran. (Reuters)
Perluasan serangan ke wilayah Arab Saudi meningkatkan risiko bahwa konflik AS-Iran berubah menjadi konflik regional yang melibatkan semakin banyak negara dan fasilitas energi.
Arab Saudi sebelumnya juga mengecam serangan Iran terhadap tanker milik perusahaan pelayaran nasional Bahri yang menewaskan dua awak asal Filipina ketika kapal tersebut melintasi Selat Hormuz.
Pasar energi menjadi salah satu korban langsung dari eskalasi terbaru.
Harga Brent sempat mencapai sekitar US$99,46 per barel, menurut AP. Kenaikan harga tersebut memperpanjang reli minyak yang telah berlangsung selama beberapa hari. Brent kini berada jauh di atas level sekitar US$70 sebelum konflik kembali memanas.
