Iran Balas AS dan Perketat Kontrol di Hormuz, Harga Minyak Naik Hampir 1%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak dunia terus bergerak naik setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase eskalasi baru. Serangkaian serangan militer dan meningkatnya risiko terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz memicu kekhawatiran baru mengenai pasokan minyak global.
Minyak Brent naik 98 sen atau sekitar 1% menjadi US$95,63 per barel pada Rabu (2/9/2026). Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak pada Selasa melonjak lebih dari US$4 per barel dan mencapai level tertinggi dalam sekitar lima minggu. West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 79 sen atau sekitar 0,9% menjadi US$91,01 per barel.
Baca Juga
Eskalasi Konflik AS-Iran Meningkat, Minyak Brent Dekati US$ 95 per Barel
Kenaikan harga minyak berlangsung ketika AS kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran. Washington menyatakan serangan tersebut antara lain diarahkan terhadap kemampuan Iran yang dinilai dapat mengancam pelayaran di Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kampanye militer terbaru terhadap Iran tidak akan berlangsung lama, tetapi juga memperingatkan bahwa AS siap melakukan serangan lanjutan jika diperlukan. Reuters melaporkan serangan AS menargetkan antara lain sistem radar, rudal, pertahanan udara, serta fasilitas yang terkait dengan kemampuan Iran untuk mengancam jalur pelayaran.
Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah sasaran AS dan sekutunya di kawasan. Associated Press melaporkan Iran menyerang sasaran di Yordania, Bahrain dan sejumlah lokasi lain setelah serangkaian serangan AS. Eskalasi tersebut mengakhiri jeda pertempuran yang berlangsung sekitar satu bulan.
Ancaman Serangan terhadap Tanker
Risiko terbesar bagi pasar energi kini bukan hanya serangan terhadap fasilitas militer, tetapi potensi terganggunya kapal-kapal komersial yang membawa minyak dan produk energi melalui Selat Hormuz.
Dalam perkembangan terbaru, sedikitnya dua kapal tanker mengalami insiden dalam waktu berdekatan ketika melintasi kawasan Selat Hormuz.
Reuters melaporkan dua supertanker yang membawa minyak Saudi diserang proyektil tak dikenal pada 31 Agustus. Salah satu kapal dilaporkan terkena tiga proyektil ketika sedang melakukan perjalanan keluar dari Selat Hormuz melalui koridor selatan dekat perairan Oman.
CBS News, mengutip organisasi keamanan maritim Marisks dan UK Maritime Trade Operations (UKMTO), melaporkan kapal tanker Senegal Prosperity yang dimiliki Korea Selatan juga terkena tiga proyektil. Sebuah tanker berbendera Saudi bernama Sidr dilaporkan mengalami serangan sekitar delapan menit sebelumnya.
Tidak ada korban maupun dampak lingkungan yang dilaporkan dalam salah satu insiden tersebut. Namun, serangan terhadap kapal tanker meningkatkan biaya dan risiko pelayaran, terutama karena perusahaan pelayaran dan pemilik kapal harus mempertimbangkan keamanan awak, asuransi perang, rute alternatif dan kemungkinan keterlambatan pengiriman.
Kondisi tersebut juga mengikis klaim bahwa koridor selatan Selat Hormuz relatif aman untuk pelayaran komersial.
Data pelacakan kapal menunjukkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal.
Reuters melaporkan hanya empat kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa, turun dari 10 kapal sehari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 13 kapal.
Keempat kapal tersebut terdiri dari satu very large crude carrier (VLCC), satu kapal tanker Panamax, satu kapal Kamsarmax dan satu kapal tanker ukuran intermediate. Hanya satu kapal yang tercatat masuk dan tiga lainnya keluar dari selat.
Sehari sebelumnya, hanya lima kapal tercatat melintasi Hormuz dan tidak ada kapal tanker cair yang terdeteksi dalam data tersebut. Jumlah itu jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 14 kapal.
Angka aktual kemungkinan lebih tinggi karena sejumlah kapal mematikan transponder atau sistem identifikasi otomatis (AIS) ketika berlayar di kawasan berisiko. Namun, tren penurunan lalu lintas tetap menunjukkan bahwa perusahaan pelayaran semakin berhati-hati.
Selat Hormuz sebelumnya merupakan jalur bagi sekitar 20% perdagangan minyak global, sehingga penurunan aktivitas di jalur tersebut menjadi perhatian serius bagi pasar energi.
Iran Perketat Kontrol Kapal
Tekanan terhadap pelayaran juga meningkat setelah Iran memperluas daftar kapal yang dilarang melintasi Selat Hormuz.
Reuters melaporkan Iran menambahkan 11 kapal ke dalam daftar hitam, sehingga jumlah kapal yang dilarang melintas mencapai 56 kapal. Daftar tersebut mencakup kapal tanker minyak mentah, pengangkut LNG, LPG dan produk minyak olahan.
Iran sebelumnya telah memperingatkan puluhan tanker yang dianggap melanggar aturan pelayaran yang ditetapkan Teheran. Perusahaan yang melakukan transfer muatan dari kapal ke kapal atau ship-to-ship transfer dengan kapal yang masuk daftar hitam juga menghadapi risiko sanksi.
Langkah tersebut menambah ketidakpastian bagi perusahaan energi dan pelayaran karena risiko tidak hanya berasal dari serangan fisik, tetapi juga dari perubahan aturan navigasi dan potensi penahanan kapal.
AS Klaim 17 Juta Barel Masih Melintas
Di tengah penurunan jumlah kapal yang terdeteksi, pemerintah AS menyampaikan gambaran yang berbeda mengenai arus minyak melalui Hormuz.
Baca Juga
Harga Minyak Turun, AS Klaim Ekspor via Selat Hormuz Capai 9 Juta Barel per Hari
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada CNBC, lebih dari 17 juta barel minyak melewati Selat Hormuz pada Senin. Menurutnya, angka tersebut merupakan volume tertinggi sejak perang Iran dimulai pada Februari.
Perbedaan antara volume minyak yang diklaim pemerintah AS dan jumlah kapal yang terdeteksi menunjukkan bahwa kondisi lalu lintas di Hormuz sangat dinamis. Kapal berukuran besar dapat membawa jutaan barel sekaligus, sementara keterbatasan data pelacakan juga dapat terjadi ketika kapal mematikan transponder.
