Trump Perketat Syarat Damai Iran, Negosiasi Nuklir Kembali Buntu
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali menghadapi jalan terjal. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperketat syarat perjanjian damai dan program nuklir Iran, sementara Teheran menegaskan tidak akan menyepakati kesepakatan apa pun sebelum hak-hak nasionalnya dijamin sepenuhnya.
Ketegangan baru ini muncul di tengah konflik kawasan yang belum sepenuhnya mereda, termasuk eskalasi militer Israel di Lebanon selatan dan ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz yang vital bagi perdagangan energi global.
Dalam wawancara yang ditayangkan Fox News pada Sabtu malam (30/05/2026) waktu AS, Trump menegaskan bahwa satu jaminan utama yang harus diperoleh Washington adalah Iran tidak mengembangkan senjata nuklir. “Jaminan yang harus saya dapatkan adalah tidak ada senjata nuklir. Mereka telah menyetujuinya, dan itu sangat menarik,” kata Trump seperti dikutip Fox News.
Baca Juga
Negosiasi AS-Iran Masih Alot, Teheran Beri Hak Istimewa China dan Rusia Melintas di Selat Hormuz
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan The New York Times dan Axios menyebut Trump telah mengirim kembali rancangan kerangka damai baru kepada Teheran dengan syarat yang lebih keras dibanding proposal sebelumnya. Detail lengkap revisi itu belum dipublikasikan, namun sejumlah laporan menyebut fokus utama Washington mencakup pengawasan lebih ketat terhadap material nuklir Iran, nasib stok uranium yang telah diperkaya, serta kepastian kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. (New York Post)
Sumber Axios pada 28 Mei 2026 sebelumnya menyebut negosiator AS dan Iran sebenarnya telah menyusun memorandum awal gencatan senjata 60 hari yang membuka ruang pembicaraan mengenai program nuklir Iran dan kemungkinan pelonggaran sanksi. Namun, dokumen tersebut masih menunggu persetujuan akhir dari Trump maupun kepemimpinan Iran. (Axios)
Di pihak lain, Iran merespons dengan nada skeptis. Ketua parlemen sekaligus kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan Teheran tidak mempercayai Washington dan tidak akan menerima kesepakatan yang mengabaikan kepentingan nasional Iran.
Baca Juga
Trump Tahan Deal Iran, Hormuz dan Nuklir Jadi Batu Sandungan
“Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai yakin bahwa hak-hak rakyat Iran dijaga,” ujar Ghalibaf dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Minggu (31/5/2026). (Free Malaysia Today)
Pernyataan itu memperlihatkan jurang yang masih harus dijembatani kedua pihak. Iran selama ini menegaskan program nuklirnya bertujuan sipil, sedangkan Amerika Serikat dan sekutu Barat tetap mencurigai adanya ambisi pengembangan senjata nuklir. Perundingan yang telah berlangsung sejak Februari 2026 juga dibayangi luka konflik sebelumnya, ketika serangan udara dan rudal AS-Israel menghantam fasilitas strategis Iran dan menewaskan sebagian elite militer senior Republik Islam tersebut. (The Straits Times)
Ketidakpastian diplomasi AS-Iran terjadi bersamaan dengan meningkatnya ketegangan di front Lebanon. Militer Israel pada akhir Mei memperluas operasi darat dan merebut Kastel Beaufort, benteng strategis era Perang Salib di Lebanon selatan, dalam penetrasi terdalam Israel ke wilayah itu dalam lebih dari seperempat abad. Operasi tersebut memicu kecaman internasional dan memperbesar risiko meluasnya konflik regional yang melibatkan Hizbullah. (The Guardian)
Baca Juga
Hadiri Perayaan Waisak Nasional 2570, Gibran Ajak Perkuat Perdamaian dan Toleransi
Situasi Lebanon sendiri sesungguhnya berada dalam kerangka gencatan senjata yang dimediasi AS sejak April 2026. Namun implementasinya berjalan rapuh dengan saling tuding pelanggaran antara Israel dan Hizbullah, sehingga ancaman eskalasi tetap tinggi. (Wikipedia)
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa peluang kesepakatan damai formal antara Washington dan Teheran masih terbuka, tetapi semakin bergantung pada kemampuan kedua pihak menjembatani isu paling sensitif: program nuklir Iran, keamanan kawasan, serta masa depan jalur energi strategis Selat Hormuz.

