Konflik AS-Iran Meluas, Minyak Brent Tembus US$ 88 per Barel
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak dunia melonjak hampir 5% setelah Kuwait menyatakan Iran menyerang fasilitas pembangkit listrik dan pabrik desalinasi air di negara tersebut. Insiden terbaru itu memperburuk eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kini semakin meluas di kawasan Teluk Persia.
Baca Juga
Separuh Jalan MoU Iran–AS: Hormuz Membawa Konflik ke Babak Baru
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, yang menjadi acuan harga minyak internasional, melonjak sekitar 4,6% dan ditutup di level US$88,10 per barel pada perdagangan Jumat (17/7/2026). Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat sekitar 4,5% dan berakhir di US$82,49 per barel.
Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan Kuwait menyatakan serangan tersebut merusak fasilitas strategis sehingga memicu kebakaran yang mengganggu sejumlah unit pembangkit listrik. Menurut laporan The Kuwait Times, kerusakan juga berdampak terhadap operasional instalasi desalinasi yang menjadi sumber utama pasokan air minum di negara tersebut.
Kuwait merupakan salah satu negara yang sangat bergantung pada fasilitas desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Selama bertahun-tahun, para analis telah memperingatkan bahwa infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan instalasi pengolahan air berpotensi menjadi sasaran apabila konflik di Timur Tengah semakin meluas.
Di sisi lain, Iran menyatakan telah menyerang sejumlah sasaran militer Amerika Serikat di Bahrain, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, dan Suriah sebagai balasan atas gelombang terbaru serangan udara Washington. Klaim tersebut disampaikan media pemerintah Iran, PressTV.
Ketegangan juga meluas ke jalur pelayaran internasional. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (United Kingdom Maritime Trade Operations/UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil di lepas pantai Oman sehingga mengalami kerusakan ringan.
Dalam sepekan terakhir, Iran dilaporkan berulang kali menyerang kapal tanker sebagai upaya memaksa kapal-kapal komersial melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang dikendalikan Teheran.
Sementara itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menyelesaikan serangan udara malam keenam secara berturut-turut terhadap Iran. Operasi tersebut menyasar puluhan target militer, termasuk infrastruktur logistik dan kemampuan maritim Iran.
CENTCOM juga menyebutkan lebih dari 50.000 personel militer Amerika Serikat kini dikerahkan di berbagai kawasan Timur Tengah dan tetap berada dalam kondisi siaga penuh.
Eskalasi terbaru terjadi setelah gencatan senjata yang rapuh antara Washington dan Teheran, yang dicapai bulan lalu, kembali runtuh. Kondisi tersebut kembali mengganggu arus pasokan energi melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa Washington akan menyerang infrastruktur Iran pada pekan depan apabila kedua negara gagal mencapai terobosan diplomatik.
Baca Juga
AS Lumpuhkan Pertahanan Pantai Iran, Harga Minyak Mentah Kembali Melonjak
Menanggapi ancaman tersebut, komando militer tertinggi Iran menyatakan seluruh infrastruktur penting di kawasan akan menjadi sasaran apabila Amerika Serikat benar-benar menyerang fasilitas energi Iran.
Ketegangan juga berpotensi meluas ke Laut Merah. Tiga sumber yang dikutip Reuters menyebutkan Iran telah meminta kelompok Houthi di Yaman untuk menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah jika Amerika Serikat menyerang infrastruktur kelistrikan Iran.
Meski demikian, analis geopolitik Rystad Energy, Jorge León, masih menilai peluang tercapainya kesepakatan terbatas antara Washington dan Teheran tetap menjadi skenario yang paling mungkin, meskipun tingkat keyakinannya mulai menurun.
Menurut León, kedua negara masih memiliki kepentingan ekonomi yang besar untuk menghindari kegagalan total dalam perundingan. Amerika Serikat berkepentingan menjaga harga minyak tetap terkendali menjelang pemilu sela pada November, sementara Iran tidak ingin kehilangan berbagai insentif ekonomi yang sedang dinegosiasikan.
"Teheran masih memiliki paket insentif ekonomi yang sangat besar, termasuk akses terhadap aset yang dibekukan dan pelonggaran ekspor minyak, sehingga mereka tidak ingin meninggalkan peluang tersebut secara permanen," kata León.
