Konflik AS-Iran Mereda, Minyak Brent Anjlok di Bawah US$ 90 per Barel
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia turun tajam setelah muncul indikasi bahwa ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda. Pasar menyambut positif laporan bahwa kedua negara sama-sama menahan aksi militer, sehingga mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Baca Juga
AS-Iran Jeda Serangan, Dow Futures Melonjak Lebih dari 200 Poin
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent kontrak September anjlok 8,7% menjadi US$88,36 per barel pada perdagangan Senin (27/7/2026). Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak September merosot 7,5% menjadi US$82,61 per barel.
Penurunan tersebut terjadi setelah Reuters melaporkan, mengutip seorang pejabat senior Iran, bahwa Teheran siap menghentikan serangan selama Washington juga tidak melancarkan serangan baru.
Menurut pejabat tersebut, posisi Iran tetap berpegang pada prinsip "serangan dibalas serangan". Jika serangan dari Amerika Serikat dihentikan, maka Iran juga akan menghentikan seluruh operasinya. Pesan tersebut disebut telah disampaikan kepada pemerintah AS.
Jeda konflik ini muncul setelah Washington memutuskan menghentikan sementara pemboman terhadap Iran. Sejumlah penasihat Presiden Donald Trump dilaporkan memperingatkan bahwa militer AS mulai kehabisan sasaran strategis yang layak diserang, sekaligus muncul kekhawatiran terhadap menipisnya persediaan persenjataan.
Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mike Waltz, mengatakan dalam wawancara dengan Fox News bahwa Presiden Trump memilih menghentikan sementara serangan guna memberikan kesempatan bagi proses diplomasi.
Baca Juga
Kapal Tanker Saudi Diserang di Laut Merah, Minyak Brent Tembus US$ 100 per Barel
Meredanya konflik langsung mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak melonjak selama hampir dua pekan terakhir.
Meski demikian, lonjakan harga energi sebelumnya masih menjadi perhatian pasar keuangan. Ahli strategi suku bunga HSBC, Dhiraj Narula, mengatakan kenaikan harga minyak sempat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve kemungkinan harus mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Namun, ia menilai ekspektasi inflasi jangka panjang masih relatif terkendali karena pejabat The Fed terus menegaskan komitmen mereka menjaga stabilitas harga. Sikap tersebut dinilai berhasil mencegah lonjakan harga minyak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih permanen.
Dengan meredanya konflik AS-Iran, perhatian pelaku pasar kini mulai bergeser kembali ke arah perkembangan diplomasi di Timur Tengah serta kebijakan suku bunga Federal Reserve yang akan diumumkan pekan ini.
