Eskalasi Konflik AS-Iran Meningkat, Minyak Brent Dekati US$ 95 per Barel
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah kembali melonjak setelah militer AS melancarkan serangan terbaru terhadap target Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Eskalasi konflik meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, terutama lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz.
Baca Juga
Hormuz Terancam, Lalu Lintas Tanker Anjlok dan Harga Minyak Melonjak
Dikutip dari CNBC, harga minyak Brent, patokan internasional, melonjak 4,5% menjadi US$94,52 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik sekitar 5% menjadi US$90,03 per barel, level yang tidak terlihat sejak 24 Juli.
Komando Pusat AS (U.S. Central Command/CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukan AS mulai menyerang target IRGC di Iran. Washington menyatakan serangan tersebut dilakukan setelah IRGC mencoba menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz serta personel militer AS yang ditempatkan di kawasan tersebut.
Ketegangan semakin meningkat setelah sebuah kapal tanker dilaporkan terkena tiga proyektil tak dikenal ketika melintasi Selat Hormuz pada Senin. Menurut laporan UK Maritime Trade Operations Centre (UKMTO), kapal tanker tersebut berada di jalur pelayaran selatan, dekat pantai Oman. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Serangan terhadap kapal tanker tersebut menambah kekhawatiran pasar bahwa konflik AS-Iran dapat mengganggu salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dari kawasan Teluk menuju pasar global.
Iran sebelumnya melancarkan serangan terhadap dua pangkalan militer AS di Yordania sebagai balasan atas serangan AS terhadap Pulau Larak. Pasukan AS pada Minggu menargetkan dua peluncur roket Iran di pulau tersebut dan dilaporkan menewaskan tiga orang.
Pulau Larak, yang berada di kawasan Selat Hormuz, memiliki arti strategis bagi Iran karena menjadi salah satu titik penting untuk mengawasi lalu lintas kapal di jalur pelayaran tersebut.
Baca Juga
AS Serang Pulau Larak di Selat Hormuz, Minyak Brent Kembali Tembus US$ 90
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran tidak menginginkan perang, tetapi siap merespons apabila diserang.
Dalam pernyataannya pada pertemuan puncak Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), Pezeshkian mengatakan Iran akan segera memberikan respons jika Washington kembali memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni.
Aksi saling serang terbaru ini menjadi salah satu eskalasi serius antara AS dan Iran setelah kedua negara tidak melakukan serangan langsung selama lebih dari satu bulan.
Upaya Memecah Kebuntuan
Meski demikian, sejumlah analis menilai belum ada indikasi kuat bahwa Washington maupun Teheran menginginkan perang berskala penuh. Kedua pihak justru menunjukkan keinginan untuk memberikan respons terbatas sekaligus mempertahankan tekanan terhadap lawannya.
Presiden AS Donald Trump, dalam wawancara dengan Fox News, memperingatkan bahwa Washington akan memberikan respons keras terhadap serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
“Kami akan menghantam mereka dengan keras,” kata Trump, seraya menegaskan akan ada respons terhadap serangan Iran.
Analis International Crisis Group Ali Vaez menilai serangan AS terhadap Pulau Larak lebih merupakan upaya memecah kebuntuan daripada perubahan besar dalam strategi militer Washington.
Menurut Vaez, keputusan AS menargetkan peluncur roket, bukan infrastruktur militer Iran secara lebih luas, menunjukkan bahwa Washington untuk saat ini berusaha menghukum tindakan tertentu tanpa memperluas tujuan perang.
Jason Brodsky, direktur kebijakan United Against Nuclear Iran, menilai langkah tersebut berkaitan erat dengan upaya AS mengurangi kemampuan Iran untuk menanam ranjau laut di Selat Hormuz.
“Ini adalah upaya untuk menegakkan blokade,” kata Brodsky.
Pada saat yang sama, pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui sanksi sekunder yang menargetkan negara dan perusahaan yang membeli minyak mentah Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Iran kini melakukan serangan secara militer karena tekanan ekonomi dari sanksi AS mulai memberikan dampak terhadap perekonomian negara tersebut.
Bessent menyebut Iran sedang “melakukan perlawanan secara kinetik” setelah tekanan ekonomi semakin meningkat.
Trump juga mengatakan sistem keuangan, angkatan bersenjata, dan struktur pemerintahan Iran telah mengalami pelemahan signifikan. Namun, ia menegaskan Washington tetap siap mengambil tindakan militer apabila diperlukan.
Konflik yang kini memasuki bulan ketujuh tersebut telah mengganggu pasokan energi global dan menimbulkan gejolak di pasar keuangan dunia.
Brodsky menilai konflik tersebut pada dasarnya telah berubah menjadi “pertarungan daya tahan”. Ketidakpastian mengenai langkah Trump berikutnya menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan Teheran.
Di sisi lain, tekanan ekonomi yang semakin berat berpotensi mendorong Iran mengambil langkah militer yang lebih agresif. Kondisi tersebut membuat Selat Hormuz menjadi salah satu titik risiko utama bagi pasar minyak dunia.
Bagi pasar energi, setiap gangguan terhadap lalu lintas tanker di Hormuz berpotensi memberikan tekanan baru terhadap harga minyak. Jika eskalasi berlanjut dan arus kapal terganggu secara signifikan, risiko kenaikan harga minyak akan semakin besar karena pasar harus memperhitungkan kemungkinan berkurangnya pasokan minyak dari kawasan Teluk.
