Harga Minyak Dunia Melonjak Setelah Serangan Tanker di Hormuz
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia melonjak setelah Iran menyerang sebuah kapal tanker milik Qatar di dekat Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.
Insiden tersebut kembali menegaskan rapuhnya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran, yang saat ini masih bernegosiasi untuk mengakhiri konflik berkepanjangan secara permanen.
Baca Juga
Trump Sebut Pembicaraan AS-Iran Positif, Harga Minyak Anjlok
Dikutip dari CNBC, minyak Brent, yang menjadi acuan internasional, melonjak 3% menjadi US$74,16 per barel pada perdagangan Selasa (7/7/2026). Minyak AS West Texas Intermediate (WTI) naik 2,8% menjadi US$70,44 per barel.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Dr. Majed Al Ansari, menyatakan kapal tanker LNG Al-Rekayyat diserang ketika melintasi perairan dekat Selat Hormuz.
Qatar mendesak Iran segera menghentikan tindakan yang mengancam keamanan kawasan dan keselamatan pelayaran internasional serta menyatakan Teheran bertanggung jawab penuh atas seluruh kerugian yang ditimbulkan akibat serangan tersebut.
Konfirmasi Qatar muncul setelah United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) sebelumnya melaporkan sebuah kapal tanker dihantam proyektil tak dikenal sekitar delapan mil laut di sebelah timur Limah, Oman.
Baca Juga
Kapal Berbendera Singapura Diserang di Selat Hormuz, AS Tuduh Iran Langgar Kesepakatan
Dalam laporan terpisah, UKMTO juga mengungkap kapal tanker lain yang melintasi Selat Hormuz terkena proyektil tak dikenal dan diduga mengalami kerusakan struktural.
Meski Washington dan Teheran telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) bulan lalu untuk mengakhiri perang yang berlangsung hampir empat bulan, ketegangan kembali meningkat.
Kenaikan harga minyak bahkan bertambah tajam setelah pemerintah Amerika Serikat mencabut izin Iran untuk menjual minyaknya.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada CNBC bahwa pelaksanaan nota kesepahaman tersebut sepenuhnya bergantung pada kepatuhan Iran terhadap isi perjanjian.
Dalam perdagangan setelah penutupan pasar (after-hours), harga Brent melonjak 5,6% menjadi US$76,04 per barel, sementara WTI naik 5,4% menjadi US$72,25 per barel.
Kepala Ekonom Berenberg, Holger Schmieding, menilai situasi di sekitar Selat Hormuz masih belum stabil. Namun, ia memperkirakan kedua pihak pada akhirnya memiliki kepentingan untuk mencegah konflik semakin meluas.
Menurutnya, Presiden AS Donald Trump menginginkan harga minyak tetap rendah menjelang pemilu sela Kongres, sementara Iran berkepentingan memperoleh pendapatan tambahan apabila sanksi ekonomi dilonggarkan.
