Hormuz Terancam, Lalu Lintas Tanker Anjlok dan Harga Minyak Melonjak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia kembali melonjak setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memanas. Serangan AS-Iran meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan Selat Hormuz dan kelancaran distribusi minyak serta gas dari kawasan Teluk.
Baca Juga
AS Serang Pulau Larak di Selat Hormuz, Minyak Brent Kembali Tembus US$ 90
Kontrak berjangka Brent, patokan harga minyak global, pada perdagangan Senin (31/8/2026) ditutup naik US$2,39 atau 2,71% menjadi US$90,49 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$2,36 atau 2,83% menjadi US$85,76 per barel. Bahkan Brent, seperti dilaporkan Reuters, sempat menyentuh US$91,52 per barel dalam perdagangan intraday, level tertinggi sejak 25 Agustus.
Kenaikan tersebut terjadi setelah militer AS menyerang dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak, kawasan strategis yang berada di dekat Selat Hormuz. Iran kemudian meluncurkan rudal ke dua pangkalan militer AS di Yordania sebagai respons.
Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberikan respons lebih keras terhadap Iran. Eskalasi tersebut merupakan pertukaran serangan langsung pertama antara kedua negara dalam sekitar satu bulan dan menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa konflik yang sebelumnya lebih banyak berlangsung melalui sanksi ekonomi dan tekanan perdagangan dapat kembali berkembang menjadi konfrontasi militer.
Pasar kini kembali memasukkan premi risiko pasokan ke dalam harga minyak karena meningkatnya ketidakpastian mengenai keamanan jalur pelayaran di Teluk.
Lalu Lintas Tanker di Hormuz Merosot
Dampak paling nyata dari eskalasi terbaru terlihat pada lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Data pelacakan kapal menunjukkan hanya sekitar lima kapal komoditas per hari yang terlihat melintas di Selat Hormuz selama akhir pekan. Angka tersebut jauh di bawah kondisi normal sebelum perang.
Baca Juga
Sebagai perbandingan, Reuters sebelumnya melaporkan hanya tujuh kapal komoditas yang melintasi Hormuz pada Kamis, 27 Agustus, turun dari 17 kapal sehari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 15 kapal per hari. Dari tujuh kapal tersebut, terdapat dua tanker kelas medium, satu very large gas carrier, satu kapal Ultramax, satu intermediate tanker dan dua kapal tanker kimia.
Sehari sebelumnya, jumlah kapal yang terlihat mencapai 10 kapal, sedikit meningkat dari delapan kapal, tetapi masih jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 15 kapal. Reuters juga melaporkan sebuah tanker terkena proyektil tak dikenal di Selat Hormuz dan sempat mengalami kebakaran sebelum berhasil dipadamkan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun jalur tersebut secara fisik belum sepenuhnya tertutup, ancaman serangan membuat perusahaan pelayaran dan operator tanker sangat berhati-hati.
Sebelumnya, Reuters mencatat lalu lintas Hormuz bahkan nyaris terhenti. Pada salah satu akhir pekan di pertengahan Agustus, hanya lima kapal komoditas yang tercatat melintas pada Sabtu dan tidak ada kapal yang terdeteksi pada Minggu, dibandingkan 31 kapal pada akhir pekan sebelumnya.
Namun, angka pelacakan kapal perlu dibaca secara hati-hati. Sebagian kapal mematikan transponder atau sistem identifikasi otomatis (AIS) ketika melewati kawasan berisiko tinggi sehingga tidak seluruh aktivitas pelayaran dapat terdeteksi.
Tanker China Hindari Hormuz
Risiko keamanan tersebut juga mulai mengubah strategi perusahaan pelayaran.
Reuters melaporkan dua perusahaan pelayaran milik negara China, COSCO Shipping Energy Transportation dan China Merchants Energy Shipping (CMES), menghentikan pengiriman tanker minyak melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb sejak akhir Juli. Kapal-kapal mereka dialihkan untuk mengambil minyak di luar kawasan Teluk, termasuk di sekitar Fujairah dan pelabuhan Oman.
Kedua perusahaan tersebut mengendalikan lebih dari 100 kapal Very Large Crude Carrier (VLCC), yang masing-masing mampu mengangkut sekitar 2 juta barel minyak. Sebelum perang, keduanya menangani sekitar separuh impor minyak mentah China dari Timur Tengah.
Strategi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Hormuz bukan sekadar ancaman terhadap harga minyak, tetapi juga mulai meningkatkan biaya logistik dan mengubah rute perdagangan energi global.
Kapal yang menghindari Hormuz harus menggunakan jalur alternatif yang lebih panjang atau menunggu situasi keamanan membaik. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya pengangkutan, premi asuransi dan tarif kapal tanker.
Minyak Bisa Tembus US$ 100?
Meskipun lalu lintas kapal menurun drastis, pasar minyak belum menghadapi penghentian total pasokan.
Reuters melaporkan estimasi Goldman Sachs menunjukkan ekspor minyak dari kawasan Teluk masih berada di kisaran 15-16 juta barel per hari (bph). Namun, angka tersebut masih sekitar 7-8 juta bph di bawah level sebelum perang. Meski demikian, volume tersebut sudah 5-6 juta bph lebih tinggi dibandingkan titik terendah pada Maret.
Sebagian kapal juga dilaporkan tetap berlayar pada malam hari dan mematikan transponder untuk mengurangi visibilitas posisi mereka.
Dengan demikian, penurunan jumlah kapal yang terdeteksi tidak otomatis berarti volume minyak yang benar-benar bergerak turun dalam proporsi yang sama. Namun, kondisi tersebut menunjukkan tingginya tingkat risiko yang harus ditanggung perusahaan pelayaran.
Selat Hormuz memiliki arti strategis yang sangat besar bagi pasar energi. Sebelum perang, jalur tersebut menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.
Karena itu, gangguan yang berkepanjangan dapat memberikan dampak jauh lebih besar daripada sekadar kenaikan harga minyak.
Tom Hainlin dari U.S. Bank Asset Management menilai harga minyak pada kisaran US$80-US$90 per barel memang tinggi, tetapi belum cukup untuk memberikan pukulan besar terhadap ekonomi global.
“Dunia masih memiliki pasokan minyak yang cukup untuk memenuhi kebutuhan, sehingga harga pada kisaran tersebut belum sampai pada level yang dapat membuat aktivitas ekonomi runtuh,” ujar Hainlin, dikutip CNBC.
Namun, situasinya akan berbeda jika harga minyak menembus US$100 per barel. Pada level tersebut, tekanan terhadap konsumen dan dunia usaha berpotensi menjadi jauh lebih besar.
Perkembangan terbaru di Hormuz membuat risiko tersebut kembali menjadi perhatian investor.
