Lalu Lintas Kapal Tanker di Selat Hormuz Sudah Kembali Normal, Tanpa Toll Fee?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz mulai pulih setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani memorandum of understanding (MoU) untuk menghentikan konflik bersenjata di Timur Tengah. Namun, pemulihan tersebut belum sepenuhnya kembali ke kondisi normal. Meski kapal-kapal kembali melintas, sebagian besar operator pelayaran masih menerapkan langkah ekstra hati-hati, memilih rute alternatif, dan tetap menghadapi risiko keamanan yang tinggi.
Salah satu perkembangan penting adalah kesepakatan bahwa selama masa negosiasi 60 hari di Swiss, kapal-kapal komersial dapat melintasi Selat Hormuz tanpa dikenakan toll fee atau biaya transit. Namun, setelah masa negosiasi berakhir, status tersebut masih menjadi salah satu isu utama yang akan dibahas dalam perundingan lanjutan antara Iran, Oman, negara-negara Teluk, dan Amerika Serikat. (The Edge Malaysia)
Pada Kamis (25/06/2026), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dalam pertemuan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) di Manama, Bahrain, menegaskan bahwa Washington tidak akan pernah menerima rencana Iran mengenakan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran internasional tersebut.
Baca Juga
“Jalur pelayaran internasional bukan milik negara mana pun. Jika dunia menerima satu negara dapat memungut biaya hanya karena jalur itu berada di dekat wilayahnya, maka praktik tersebut akan menyebar ke seluruh dunia seperti penyakit menular (contagion) dan menciptakan kekacauan global,” kata Rubio. (RadioFreeEurope/RadioLiberty)
Rubio juga menegaskan bahwa Amerika Serikat menginginkan perdamaian dengan Iran, tetapi bukan perdamaian “dengan harga berapa pun”. Menurutnya, setiap kesepakatan harus dapat diverifikasi, dipatuhi seluruh pihak, serta tidak mengorbankan keamanan negara-negara Teluk.
Sikap Washington muncul setelah Iran mengusulkan penerapan maritime service fee secara permanen bagi kapal-kapal dagang yang menggunakan Selat Hormuz. Meski istilah yang digunakan bukan “toll”, pemerintah AS menilai kedua konsep tersebut pada hakikatnya sama karena sama-sama membebankan biaya atas penggunaan jalur pelayaran internasional. (The Edge Malaysia)
Sementara itu, dari sisi operasional pelayaran, kondisi di lapangan terus membaik. Data perusahaan intelijen pelayaran Kpler menunjukkan volume minyak mentah yang keluar melalui Selat Hormuz telah kembali mendekati level normal.
Baca Juga
Menteri Energi AS, Chris Wright, pada 24 Juni menyebut sekitar 20 juta barel minyak telah melewati Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, atau hampir setara dengan sekitar 20% konsumsi minyak dunia per hari. Reuters juga melaporkan bahwa volume pengiriman minyak telah kembali mendekati kondisi normal meskipun sebagian kapal masih memilih jalur di dekat perairan Oman atau pantai Iran untuk mengurangi risiko ranjau laut maupun gangguan keamanan lainnya. (Reuters)
Pada 25 Juni, Reuters kembali melaporkan bahwa pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz telah mencapai level tertinggi sejak perang Iran dimulai. Namun jumlah kapal yang melintas masih berada di bawah rata-rata sebelum konflik yang mencapai sekitar 125 kapal per hari, sehingga pemulihan belum sepenuhnya selesai. (Reuters)
Kehati-hatian operator pelayaran juga terlihat dari pola navigasi kapal. Banyak kapal tanker kini menghindari jalur utama (main shipping lane) dan memilih rute yang dianggap lebih aman. Penggunaan sistem identifikasi otomatis (AIS) juga kembali meningkat setelah sebelumnya banyak kapal mematikannya selama konflik berlangsung. (Reuters)
Baca Juga
Dua Gempa Dahsyat Guncang Venezuela, Ribuan Korban Dikhawatirkan Tewas Tertimbun
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan kapal-kapal agar hanya menggunakan jalur pelayaran yang disetujui Teheran. Ketentuan tersebut menambah kompleksitas pengaturan lalu lintas yang saat ini juga melibatkan Oman serta koordinasi dengan organisasi maritim internasional. (Reuters)
Pemulihan aktivitas pelayaran langsung tercermin pada pasar energi dunia. Hilangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan menyebabkan harga minyak Brent turun kembali ke kisaran US$72–73 per barel, mendekati level sebelum perang. Bahkan struktur pasar minyak berubah dari kondisi backwardation menjadi contango, yang mencerminkan pasar mulai melihat adanya kelebihan pasokan (oversupply) dalam jangka pendek. (Reuters)
Perusahaan pelacak kapal TankerTrackers juga mencatat Iran telah mengekspor sekitar 40 juta barel minyak mentah sejak 15 Juni, sementara produsen lain seperti Qatar dan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) mempercepat ekspor untuk memanfaatkan kembali terbukanya jalur perdagangan di Teluk Persia. (Anadolu Ajansı)
Baca Juga
Kadin: Status Aman MSCI Tak Cukup, Ekosistem Bisnis RI Harus Dibenahi Menyeluruh
Meski demikian, para analis menilai risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Gencatan senjata masih menghadapi ujian akibat ketegangan baru di Lebanon selatan, sementara isu pengelolaan Selat Hormuz, hak navigasi, dan rencana pengenaan biaya layanan maritim masih menjadi bagian penting dalam negosiasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran.
Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan apakah lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz sudah kembali normal adalah belum sepenuhnya. Dari sisi volume minyak yang diangkut, arus pengiriman telah mendekati kondisi sebelum perang. Namun dari sisi jumlah kapal, pola pelayaran, tingkat keamanan, dan kepastian hukum mengenai biaya transit setelah masa negosiasi 60 hari berakhir, pasar masih berada dalam fase transisi. Selama toll fee masih ditangguhkan, perdagangan energi global memperoleh ruang bernapas. Namun keputusan akhir mengenai status Selat Hormuz akan sangat menentukan stabilitas pasar minyak dunia pada paruh kedua 2026.
