Lalu Lintas Tanker di Hormuz Melonjak Setelah Deal AS-Iran, tapi Masih Jauh dari Normal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan setelah Amerika Serikat dan Iran mengimplementasikan kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran paling strategis bagi perdagangan energi dunia.
Baca Juga
Selat Hormuz Siap Dibuka Kembali, Minyak Brent Terjun di Bawah US$ 80
Data perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan sedikitnya 20 kapal tanker minyak berhasil melintasi Hormuz sejak kedua negara mulai menjalankan kesepakatan tersebut. Pada Kamis, total 25 kapal berbagai jenis tercatat melintas, termasuk kapal kargo dan peti kemas, menjadikannya volume harian tertinggi sejak awal Juni.
Meski demikian, angka tersebut masih jauh di bawah kondisi normal sebelum perang, ketika lebih dari 100 kapal per hari melintasi selat yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith, menyebut arus pelayaran mulai kembali seimbang dengan 13 kapal bergerak dari barat ke timur dan 12 kapal dari timur ke barat. Di antara kapal yang melintas terdapat tiga supertanker Arab Saudi dan satu supertanker Uni Emirat Arab yang masing-masing mampu mengangkut hingga dua juta barel minyak.
Pemulihan lalu lintas kapal menjadi sinyal penting bagi pasar energi global yang selama berbulan-bulan dihantui gangguan pasokan akibat konflik AS-Iran.
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan Iran sejauh ini "memenuhi komitmennya" dalam kesepakatan tersebut. Pemerintah AS juga memperkirakan volume pelayaran di Hormuz akan meningkat secara bertahap dalam beberapa pekan mendatang.
Kesepakatan yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian mencakup pembukaan kembali Hormuz, penghentian blokade laut AS terhadap Iran, serta dimulainya pembahasan lanjutan mengenai program nuklir Teheran dalam jangka waktu 60 hari.
Namun, perusahaan pelayaran internasional masih bersikap hati-hati. Banyak operator kapal memilih menunggu kepastian keamanan dan proses pembersihan ranjau laut sebelum mengembalikan operasi secara penuh.
Minyak Iran Mulai Mengalir Lagi
Tanda lain dari normalisasi terlihat dari kembalinya ekspor minyak Iran.
Analis Kpler melaporkan sejumlah supertanker Iran yang sebelumnya mematikan sistem pelacak (transponder) selama konflik kini kembali menyalakannya. Sedikitnya lima supertanker Iran yang membawa minyak terpantau meninggalkan kawasan Teluk menuju pasar Asia.
“Arus kapal dua arah menunjukkan bahwa perdagangan minyak mentah Iran secara bertahap kembali mendekati pola operasi normal,” beber analis, dikutip dari CNBC, Sabtu (19/6/2026).
Reuters melaporkan ekspor minyak Iran yang sempat anjlok ke level terendah dalam enam tahun kini mulai pulih. Beberapa kapal tujuan Asia dan China kembali bergerak setelah blokade AS mulai dicabut.
Perkembangan tersebut berpotensi menambah pasokan global dan menjadi salah satu faktor yang menekan harga minyak dalam beberapa hari terakhir.
Siapa Mengendalikan Hormuz?
Meski kapal-kapal mulai bergerak, pertanyaan terbesar justru muncul setelah masa transisi berakhir.
Berdasarkan ketentuan kesepakatan, Iran memberikan pembebasan biaya transit selama 60 hari. Setelah itu, Teheran akan berunding dengan Oman dan negara-negara Teluk untuk menentukan mekanisme pengelolaan Selat Hormuz ke depan.
Di sisi lain, pemerintah Iran telah mengisyaratkan kemungkinan penerapan izin pelayaran, biaya transit, dan skema asuransi baru melalui otoritas maritim yang dibentuk pascaperang. Wacana tersebut memicu kekhawatiran industri pelayaran karena Hormuz selama ini dipandang sebagai jalur perairan internasional.
Selain itu, sejumlah laporan menyebut masih terdapat ranjau laut dan hambatan navigasi yang belum sepenuhnya dibersihkan. Kondisi ini membuat perusahaan asuransi kapal dan operator tanker tetap menerapkan premi risiko yang tinggi.
Dunia Menunggu
Bagi pasar global, keberhasilan kesepakatan AS-Iran tidak akan diukur dari penandatanganan dokumen semata, melainkan dari kemampuan kedua pihak menjaga stabilitas jalur energi terpenting di dunia.
Baca Juga
Implementasi Kesepakatan AS-Iran Masih Perlu Waktu, IEA: Krisis Hormuz Ubah Peta Energi Dunia
Kembalinya puluhan kapal tanker ke Hormuz memang menjadi sinyal positif. Namun volume pelayaran yang masih jauh di bawah kondisi normal menunjukkan bahwa kepercayaan belum sepenuhnya pulih.
Dalam beberapa minggu ke depan, perhatian investor, negara-negara pengimpor energi, dan pelaku industri pelayaran akan tertuju pada apakah Hormuz benar-benar kembali terbuka secara permanen, atau hanya menikmati jeda sementara sebelum ketegangan geopolitik kembali meningkat.
