Pasar Asia Cetak Rekor Baru di Tengah Sinyal Kenaikan Bunga AS, Nikkei Tembus 71.000
Poin Penting
|
TOKYO, investortrust.id - Pasar saham global menunjukkan respons yang beragam setelah Federal Reserve mengirimkan sinyal kebijakan yang lebih ketat di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh. Pasar Asia menguat, dengan Nikkei Jepang dan Kospi Korea mencatat rekor baru.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga Acuan di Kisaran 3,5% - 3,75%, Buka Peluang Kenaikan Tahun Ini
Kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak menguat pada perdagangan malam setelah aksi jual besar yang melanda Wall Street menyusul hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC).
Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,2%, sementara Nasdaq 100 Futures menguat 0,4%. Futures Dow Jones Industrial Average juga bertambah sekitar 73 poin atau lebih dari 0,1%.
Kenaikan tersebut terjadi setelah pasar saham AS ditutup melemah tajam pada Rabu. Dow Jones Industrial Average turun 507 poin atau 0,98%, S&P 500 merosot 1,21%, sedangkan Nasdaq Composite kehilangan 1,34%.
Investor masih berusaha mencerna pesan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75%, namun membuka peluang kenaikan suku bunga pada tahun depan.
Nikkei Cetak Rekor
Di kawasan Asia-Pasifik, perdagangan berlangsung beragam dengan Jepang dan Korea Selatan memimpin penguatan. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,79% dan untuk pertama kalinya menembus level psikologis 71.000. Rekor baru tersebut menegaskan kuatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi dan laba korporasi Jepang. Indeks Topix juga naik 1,48%.
Di Korea Selatan, indeks Kospi menguat 0,89% dan kembali mencetak rekor tertinggi baru.
Penguatan dipimpin oleh saham produsen chip memori SK Hynix yang melonjak 3,45% ke level tertinggi sepanjang masa. Raksasa teknologi Samsung Electronics juga naik 1,23%. Namun, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 0,5%.
Sementara itu, pasar lain bergerak lebih hati-hati. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,76%, sedangkan indeks CSI 300 Tiongkok daratan bergerak datar. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,29%.
Pasar Nilai The Fed Lebih Hawkish
Rapat Federal Reserve pada Rabu merupakan pertemuan pertama sejak Kevin Warsh resmi menjabat sebagai ketua bank sentral AS.
Meski tidak mengubah suku bunga, para pembuat kebijakan mengirimkan pesan yang lebih hawkish melalui proyeksi suku bunga atau "dot plot".
Proyeksi median kini menunjukkan suku bunga acuan berada di level 3,8% pada akhir 2026, naik dari 3,4% dalam perkiraan Maret lalu.
Perubahan tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar pejabat The Fed melihat kemungkinan perlunya setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada 2026.
Ketidakpastian bertambah karena Warsh memilih tidak menyerahkan proyeksi suku bunga pribadinya, sesuatu yang jarang terjadi bagi seorang ketua The Fed.
Akibatnya, pasar obligasi langsung bereaksi. Yield Treasury AS tenor dua tahun, yang paling sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter, melonjak hingga 4,22%.
Baca Juga
Pasar Obligasi AS Terguncang, Yield Treasury 2-Tahun Tembus 4,2%
Menyesuaikan Diri dengan Era Warsh
Chief Macro Strategist Carson Group, Sonu Varghese, menilai The Fed berhasil mempertahankan suku bunga, tetapi mengejutkan pasar melalui perubahan arah proyeksi kebijakan.
"The Fed mempertahankan suku bunga, tetapi merusak sentimen pasar dengan dot plot yang jauh lebih hawkish. Inflasi yang masih tinggi memang menjelaskan sikap tersebut, tetapi para pejabat sendiri belum sepenuhnya sepakat mengenai arah kebijakan," ujarnya.
Menurut Varghese, isu yang lebih penting adalah bahwa kebijakan moneter saat ini masih tergolong longgar untuk kondisi ekonomi yang inflasinya tetap menjadi masalah sementara pasar tenaga kerja mulai stabil.
Pandangan serupa disampaikan Chief Market Strategist Jefferies, David Zervos. "Pasar tidak menyukai perubahan rezim," katanya dalam wawancara dengan CNBC.
Komentar tersebut merujuk pada perubahan gaya komunikasi dan arah kebijakan yang mulai terlihat sejak Warsh mengambil alih kepemimpinan Federal Reserve.
Beralih Fokus
Selain mencermati arah kebijakan The Fed, investor kini menunggu sejumlah katalis baru yang dapat menentukan arah pasar dalam jangka pendek.
Perusahaan konsultan global Accenture dan jaringan ritel Kroger dijadwalkan merilis laporan keuangan sebelum pembukaan perdagangan Kamis.
Pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting AS, termasuk indeks indikator utama ekonomi bulan Mei, survei manufaktur Philadelphia Fed periode Juni, serta data klaim pengangguran mingguan.
Data-data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai kekuatan ekonomi AS dan potensi langkah Federal Reserve selanjutnya di tengah upaya menurunkan inflasi tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
