Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, Imbas Rapuhnya Negosiasi AS-Iran
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin pagi (13/4/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah sebesar 0,18% berada di posisi Rp 17.134 per US$.
Sejumlah mata uang negara mitra dagang Indonesia seperti yen Jepang, dolar Singapura, ringgit Malaysia, baht Tailan, dan rupee India, serta yuan China melemah terhadap dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan perkembangan pembicaraan gencatan senjata terkait perang di Timur Tengah akan tetap menjadi pendorong utama pergerakan pasar. Meski demikian, kesepakatan yang ada saat ini masih rapuh dan ekspor energi dari kawasan tersebut belum kembali normal.
Baca Juga
Cadangan Devisa Turun, Rupiah Tertekan, Surplus Perdagangan Terancam Menyusut
Data harga produsen di AS akan menjadi sorotan, untuk mengukur dampak awal lonjakan harga energi terhadap produsen barang. Di Eropa, data perdagangan dan produksi industri juga dinantikan.
"Investor terus memantau perkembangan di Timur Tengah dan mengevaluasi data terbaru," ucap Andry, Senin (13/4/2026).
Delegasi AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Pakistan, sementara Israel telah menyetujui untuk mengadakan pembicaraan dengan pemerintah Lebanon, yang memunculkan harapan akan meredanya ketegangan di kawasan tersebut.
Indeks DXY tetap berada di bawah 99, seiring investor mencermati perkembangan di Timur Tengah dan laporan CPI terbaru AS.
Baca Juga
Tingkat inflasi tahunan AS melonjak menjadi 3,3% pada Maret 2026, level tertinggi sejak Mei 2024 dan meningkat tajam dari 2,4% pada Februari dan Januari. Angka ini sesuai dengan perkiraan, dengan kenaikan terutama didorong oleh biaya energi yang lebih tinggi, khususnya bensin, dan bahan bakar minyak, akibat perang dengan Iran.
Secara bulanan, harga konsumen naik 0,9%, kenaikan terbesar sejak Juni 2022, setelah meningkat 0,3% pada Februari dan juga sesuai perkiraan, didorong lonjakan harga gas sebesar 21,2%.
Pemerintah AS mencatat defisit anggaran sebesar US$ 164,1 miliar pada Maret 2026, dibandingkan defisit US$ 160,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu, serta lebih buruk dari perkiraan US$ 156,7 miliar. Belanja pemerintah meningkat menjadi US$ 549 miliar dari US$ 528,2 miliar, dengan sebagian besar pengeluaran dialokasikan untuk jaminan sosial sebesar US$ 139 miliar, layanan kesehatan US$ 90 miliar, dan pertahanan nasional US$ 69 miliar.
