Rupiah Bergerak Melemah Terhadap Dolar AS, Imbas Perdamaian AS-Iran yang Masih Labil
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (30/6/2026). Rupiah melemah 0,21% menjadi Rp 17.889 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, sejumlah mata uang di Asia bergerak melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang terpantau melemah 0,13%, rupee India melemah 0,15%, won Korea Selatan melemah 0,47%, peso Filipina melemah 0,23%, dolar Singapura melemah 0,07%, dan baht Tailan melemah 0,08%.
Sementara itu, penguatan terpantau terjadi pada ringgit Malaysia dan yuan China. Ringgit menguat 0,27% dan yuan menguat 0,02%.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi melihat situasi AS-Iran yang lebih menimbulkan keraguan atas kesepakatan damai yang diambil kedua belah pihak.
AS dan Iran saling melancarkan serangan hingga akhir pekan lalu di tengah ketidaksepakatan mengenai klaim otoritas Teheran di Hormuz. Serangan tersebut menyebabkan perlambatan aliran melalui Hormuz dan meningkatkan harga minyak pada hari Senin. Namun, kenaikan harga minyak dibatasi oleh laporan Axios bahwa AS dan Iran telah sepakat untuk segera menghentikan permusuhan mereka dan mengadakan pembicaraan baru di Qatar.
Di luar itu, permusuhan yang terus berlanjut antara Israel dan Lebanon tetap menjadi poin penting yang menjadi penghalang antara AS dan Iran, dengan Teheran menuntut agar Lebanon dimasukkan dalam kesepakatan damai. Di Lebanon Selatan masih terus terjadi bentrokan antara Israel dan kelompok Hizbullah Lebanon meskipun berulang kali ada upaya mediasi dan dorongan ke arah gencatan senjata.
Baca Juga
Kondisi pasokan minyak mentah yang membaik menekan harga minyak, karena aliran melalui Selat Hormuz kembali mendekati tingkat sebelum perang pekan lalu. Namun, serangan yang kembali terjadi selama akhir pekan memicu kekhawatiran yang lebih tinggi tentang kerapuhan kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran.
Sementara itu beberapa pejabat The Fed mengeluarkan pernyataan yang hawkish dengan Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari, yang memperkirakan satu kenaikan suku bunga pada 2026. Dia mengatakan kepada Bloomberg bahwa "inflasi yang meluas" menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga diperlukan.
Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan inflasi inti tetap terlalu tinggi dan cenderung ke arah yang salah. Presiden Fed New York John Williams menambahkan bahwa inflasi masih terlalu tinggi, meskipun ia mengungkapkan bahwa kebijakan "sudah tepat".
Di dalam negeri, pelaku pasar masih menunggu sejumlah indikator ekonomi awal bulan Juli, yakni data neraca perdagangan Indonesia serta tingkat inflasi. Kedua data tersebut diperkirakan menjadi pertimbangan penting dalam membaca kondisi ekonomi nasional dan arah pergerakan rupiah selanjutnya.
