Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, Imbas Kecamuk Perang Timur Tengah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Rupiah melemah -0,24% dan berada di level Rp 16.827 per US$ pada Senin (2/3/2026).
Usai serangan AS dan Israel ke Iran, posisi indeks dolar AS bergerak naik 0,26% ke 97,85. Dengan posisi ini, dolar AS menguat di sejumlah mata uang negara-negara penting perdagangan dunia.
Dolar AS menguat terhadap yuan China sebesar 0,10%. Penguatan dolar AS juga terlihat pada euro Uni Eropa dan poundsterling Britania Raya. Dolar menguat masing-masing 0,21% dan 0,27%.
Sementara itu, negara mitra dagang Indonesia juga mengalami tekanan terhadap penguatan dolar AS. Rupee India melemah -0,07%, ringgit Malaysia melemah -0,33%, peso Filipina melemah -0,65%, dolar Singapura melemah -0,13%, dan baht Tailan melemah -0,55%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan eskalasi serangan AS–Israel terhadap Iran selama akhir pekan meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas serta potensi gangguan pasokan minyak global. Setelah serangan militer diluncurkan ke Iran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Teheran membalas serangan rudal dan drone ke pangkalan militer, meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih luas. Negara yang terlibat antara lain AS, Israel, dan Iran.
Baca Juga
Rupiah Bergerak Menguat di Tengah Sentimen 'Risk On' di Pasar Ekuitas
Tak hanya itu, pascaserangan, Iran juga menutup Selat Hormuz, menyebabkan harga Brent naik ke US$ 78,3 per barel dari sebelumnya USD 72,8.
Kondisi ini dapat memicu perilaku risk-off di pasar keuangan di tengah meningkatnya kekhawatiran tekanan inflasi global dan potensi penundaan pelonggaran moneter oleh bank sentral utama.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak yang konsisten di atas asumsi APBN sebesar USS 70 per barel akan menambah tekanan fiskal. Pada pembukaan pasar pagi ini, saham kemungkinan menghadapi tekanan turun, terutama di sektor transportasi, manufaktur, dan konsumsi diskresioner.
“Di sisi mata uang, Rupiah juga berpotensi melemah di tengah meningkatnya volatilitas pasar global,” kata Andry.

