Didukung ‘Credit Enhancement’, Emisi Obligasi Korporasi 2026 Diproyeksikan Mencapai Rp 175,8 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi pada 2026 mencapai Rp 175,8 triliun. Emisi obligasi korporasi tahun ini akan didorong kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing) utang jatuh tempo, optimalisasi struktur pendanaan, suku bunga yang lebih kondusif, dan credit enhancement.
Credit enhancement adalah mekanisme yang digunakan penerbit surat utang untuk meningkatkan kualitas kredit dan peringkat (rating) instrumen utangnya guna meminimalisasi risiko investor dan menekan biaya pendanaan. Garansi surat utang termasuk di antaranya.
Hal itu terungkap dalam seminar bertajuk Optimalisasi Penerbitan Surat Utang dengan Credit Enhancement yang digelar PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF), dan PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Acara itu menghadirkan Direktur Utama Pefindo Irmawati, Presiden Direktur IIF Rizki Pribadi Hasan, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, dan Plt Direktur Utama BRIDS Fifi Virgantria.
Direktur Utama Pefindo, Irmawati memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi tahun ini tetap kuat. “Kami proyeksikan nilainya berkisar Rp 154 triliun hingga Rp 196,9 triliun, dengan estimasi titik tengah sekitar Rp 175,8 triliun,” kata dia.
Baca Juga
Insight Investments: Obligasi Tetap Atraktif, Saham Mulai Menawarkan Peluang di 2026
Berdasarkan catatan investortrust.id, emisi obligasi korporasi pada 2025 mencapai Rp 215,6 triliun. Angka itu berasal dari 181 emisi yang diterbitkan 78 emiten. Dengan asumsi mencapai Rp 175,8 triliun, berarti emisi obligasi korporasi tahun ini turun 18,5% dibanding tahun silam.
Menurut Irmawati, emisi obligasi korporasi tahun ini bakal didorong oleh kebutuhan refinancing utang jatuh tempo. “Pendorong lainnya yaitu optimalisasi struktur pendanaan dan kondisi suku bunga yang relatif lebih kondusif,” ujar dia.
Irma memperkirakan sentimen investor, khususnya investor institusi domestik, tetap positif terhadap obligasi korporasi sebagai instrumen investasi yang stabil di tengah volatilitas pasar. “Jadi, pasar surat utang pada 2026 masih dipandang sebagai salah satu sumber pendanaan utama bagi perusahaan, meskipun kemungkinan tidak setinggi penerbitan pada 2025,” tutur dia.
Menurut Irmawati, dalam metodologi pemeringkatan Pefindo, layanan credit enhancement diperhitungkan sebagai faktor untuk menaikkan peringkat (rating). “Surat utang yang diterbitkan suatu korporasi bisa mendapat rating yang sama dengan IIF apabila mendapat garansi penuh melalui credit enhancement dari IIF,” ucap dia.
Lebih Aman dan Menarik
Presiden Direktur IIF, Rizki Pribadi Hasan mengungkapkan, seminar tersebut bertujuan memberikan edukasi dan memperkaya wawasan pelaku usaha perihal penerbitan surat utang yang lebih aman dan menarik melalui layanan credit enhancement oleh IIF.
Baca Juga
“Layanan credit enhancement oleh IIF merupakan salah satu faktor kunci meningkatkan daya tarik dan kualitas penerbitan surat utang korporasi di pasar modal. Layanan ini adalah katalis bagi pasar surat utang,” papar dia.
Dia menambahkan, melalui pemberian jaminan kredit, proses pemeringkatan yang lebih kuat, serta dukungan struktur transaksi yang hati-hati (prudent), credit enhancement memungkinkan penerbit memperoleh peringkat kredit yang lebih baik dan biaya pendanaan yang lebih kompetitif.
Rizki Pribadi mengemukakan, skema credit enhancement tidak hanya memperkuat kepercayaan investor, tetapi juga memperluas basis investor dan mendorong keberhasilan penerbitan obligasi. “Ini sekaligus mendukung pembiayaan jangka panjang yang berkelanjutan bagi sektor infrastruktur dan korporasi strategis di Indonesia,” tegas Rizki.
Menurut Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, BEI secara aktif menyelenggarakan program sosialisasi dan konsultasi kepada para calon penerbit efek. “Program sosialisasi dan konsultasi ditujukan untuk mendorong penerbitan segala jenis efek, tidak terkecuali efek bersifat utang dan sukuk yang dapat dilakukan dengan skema credit enhancement,” ujar Nyoman.
Baca Juga
Dapat Respon Positif, Obligasi Berkelanjutan Tahap I 2025 Bank Mandiri 'Oversubscribed' 3,1 Kali
Plt Direktur Utama BRIDS, Fifi Virgantria optimistis layanan credit enhancement dari IIF akan membuat investasi di pasar surat utang makin menarik. “Dukungan credit enhancement dari IIF memberikan nilai tambah yang signifikan dalam proses penerbitan surat utang korporasi. Sebagai salah satu penjamin emisi, BRIDS optimistis,” tutur dia.
Dengan struktur penjaminan yang kuat dan peringkat kredit yang lebih baik, kata Fifi, penerbitan obligasi menjadi lebih kredibel di mata investor. “Hal itu juga memungkinkan penetapan biaya pendanaan yang lebih efisien,” ucap dia.
Fifi Virgantria menjelaskan, BRIDS bersama BEI, Pefindo, dan IIF akan terus mendorong pertumbuhan industri pasar modal, khususnya pasar surat utang, dengan memberi pemahaman yang lebih komprehensif kepada pelaku usaha mengenai pemanfaatan layanan credit enhancement.
“Credit Enhancement bukanlah hal baru, namun belum seluruh pelaku pasar memahami fungsi dan mekanismenya dengan jelas. Sejatinya, credit enhancement dari lembaga yang kuat dan kredibel seperti IIF ini dapat mendukung penerbitan surat utang yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan sejalan dengan upaya pendalaman pasar modal Indonesia,” papar dia.

