Pefindo Prediksi Emisi Obligasi Korporasi 2025 Capai Rp 143,91 Triliun, Sejumlah Faktor Ini Jadi Tangangan
JAKARTA, investortrust.id - PT Pemringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan baru surat utang korporasi pada tahun 2025 akan menghadapi tantangan nilai tukar rupiah, kenaikan yield, dan persaingan dengan emisi Surat Berharga Ritel Indonesia (SBRI). Diproyeksikan nilai emisi obligasi korporasi tahun ini berkisar Rp 139,29-155,43 triliun dengan titik tengah Rp 143,91 triliun.
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo Suhindarto mengatakan, ada sejumlah faktor yang mendukung optimisme terhadap penerbitan surat utang korporasi di 2025.
"Salah satunya adalah kebutuhan refinancing yang diperkirakan masih tinggi. Total nilai surat utang yang jatuh tempo mencapai Rp 161,21 triliun, sehingga perusahaan akan kembali memilih penerbitan surat utang baru, terutama dengan tenor pendek," kata Darto secara virtual, Selasa (11/2/2025).
Baca Juga
Ekonomi Indonesia 2025 Diprediksi Positif, HSBC: Peluang Bagi Investasi di Obligasi Rupiah
Dia juga menyebut aktivitas sektor riil juga diperkirakan akan relatif menguat. Pemerintah diprediksi menerapkan kebijakan ekonomi yang lebih ekspansif, dengan inflasi yang tetap terkendali, sehingga pertumbuhan ekonomi bisa terus berlanjut.
Faktor lain yang mendukung adalah suku bunga acuan yang diprediksi lebih rendah, dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter yang dapat meningkatkan minat investor terhadap surat utang korporasi.
Likuiditas lembaga keuangan yang semakin ketat juga dapat menjadi pemicu meningkatnya penerbitan surat utang. "Banyak perusahaan akan mencari alternatif pendanaan dengan tenor lebih panjang dibandingkan pinjaman perbankan, seperti melalui penerbitan obligasi korporasi yang lebih stabil," jelasnya.
Baca Juga
Penerbitan Surat Utang Korporasi 2025 Diprediksi Capai Rp 143,91 Triliun
Selain itu, premi risiko yang diperkirakan tetap melandai juga menjadi peluang positif. Dengan leverage keuangan yang lebih baik, suku bunga untuk penerbitan surat utang diharapkan relatif lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski terdapat peluang, tantangan tetap harus diwaspadai. Salah satunya adalah risiko geopolitik yang masih tinggi akibat perang yang belum berakhir. "Atas ketidakstabilan ini bisa membuat pasar keuangan lebih volatile dan meningkatkan premi risiko bagi penerbit surat utang," jelas Darto.
Tantangan SRBI
Potensi fluktuasi nilai tukar juga menjadi tantangan. Jika pelonggaran moneter di AS berjalan lebih lambat dari perkiraan, maka tekanan terhadap nilai tukar rupiah bisa meningkat. Ditambah dengan ekonomi global yang belum stabil dan risiko inflasi yang masih tinggi, ketidakpastian di pasar surat utang bisa semakin besar.
Dari sisi imbal hasil atau yield, surat utang korporasi diprediksi akan sulit mengalami penurunan, mengingat rencana penerbitan surat utang pemerintah yang lebih besar. Hal ini dapat mempengaruhi daya tarik surat utang korporasi di mata investor.
Persaingan dari instrumen investasi lain seperti Surat Berharga Ritel Indonesia (SBRI) dan Surat Utang Negara (SUN) juga menjadi tantangan. Instrumen ini bisa menyerap sebagian permintaan investor yang seharusnya masuk ke surat utang korporasi.
Terakhir, investor utamanya cenderung menghindari penerbit dengan peringkat rendah (BBB ke bawah) serta sektor tertentu yang dianggap lebih berisiko.
Baca Juga
Saham Indosat (ISAT) ‘Babak Belur’ Usai Rilis Kinerja Keuangan di Bawah Ekspektasi
"Ini bisa membatasi peluang pendanaan bagi perusahaan dengan kondisi keuangan yang kurang solid," jelas Darto.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat peluang pertumbuhan dalam penerbitan surat utang korporasi di tahun 2025, tantangan seperti ketidakpastian global dan persaingan dari instrumen lain tetap harus diperhatikan.
Perusahaan yang ingin menerbitkan surat utang harus mempertimbangkan faktor risiko dengan cermat agar dapat menarik minat investor di tengah kondisi pasar yang dinamis. (C-13)

