Suku Bunga Acuan Tinggi, Pefindo Proyeksikan Penerbitan Obligasi Korporasi Rp 155,46 Triliun
JAKARTA, investortrust.id - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan surat utang (obligasi) korporasi tahun 2024 akan berada pada kisaran Rp 148,15-169,05 triliun. Hal ini karena faktor kondisi likuiditas perbankan yang semakin ketat dan suku bunga acuan yang meningkat.
Chief Economist Pefindo Suhindarto mengatakan, penerbitan surat utang korporasi tahun ini akan berada pada kisaran Rp 148,15-169,05 triliun, dengan titik tengah pada Rp 155,46 triliun. "Kami memasukkan kenaikan suku bunga acuan (BI rate) sebagai salah satu downside risk yang perlu diawasi dan diantisipasi sepanjang tahun 2024. Hal ini seiring dengan kondisi higher for longer yang diperkirakan masih akan terjadi hingga beberapa waktu di semester II mendatang," katanya kepada investortrust.id, Senin (13/5/2024).
Baca Juga
Bos OJK Sebut Pelaku Pasar Pesimis The Fed akan Pangkas Suku Bunga dalam Waktu Dekat
Yield Bertahan Tinggi
Selain kenaikan suku bunga acuan, Suhindarto menyebut perlu mengantisipasi adanya faktor risiko lainnya. Ini di antaranya adalah risiko konflik geopolitik yang tinggi, yang membuat yield bertahan tinggi karena ketidakpastian global akan membuat investor risk averse dan meminta premi yang lebih tinggi.
"Hal ini akan menyebabkan yield surat utang pemerintah akan tetap tinggi. Akhirnya, berdampak pada yield dan kupon surat utang korporasi, membuat biaya penerbitan surat utang masih bertahan tinggi," imbuhnya.
Sementara itu, dampak lain dari kenaikan suku bunga seperti potensi pelemahan konsumsi, Suhindarto menilai perlu menjadi perhatian. Pasalnya, hal ini akan dapat membuat bisnis menghadapi permintaan yang lebih lemah.
"Kondisi ini bisa memberikan dampak pada kebutuhan untuk modal kerja dan investasi oleh bisnis yang juga kembali tertahan," ucapnya.
Baca Juga
Asing Masih Net Sell Saham Rp 0,72 Triliun, Net Buy SBN Rp 3,79 Triliun
Kenaikan suku bunga juga bisa membuat premi risiko naik, karena leverage yang meningkat akibat bunga lebih tinggi. Hal ini akan meningkatkan spread imbal hasil obligasi korporasi dan membuat biaya pinjaman juga tinggi.
"Risiko lainnya yang perlu terus diwaspadai adalah terkait potensi keluar arus modal. Ini sebagaimana yang terjadi belakangan," katanya.
Jika hal itu terus berlanjut, menurutnya, bukan tidak mungkin akan mendorong penyerapan penerbitan obligasi menjadi lebih rendah. Hal ini dapat membuat realisasi penerbitan surat utang korporasi lebih rendah daripada yang dibutuhkan atau ditargetkan.

