Pefindo: Penerbitan Baru Surat Utang Korporasi di 2026 Bisa Capai Rp196,86 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Lembaga pemeringkat surat utang Pefindo memproyeksikan penerbitan baru surat utang korporasi pada 2026 akan berada di kisaran Rp154,00 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan titik tengah Rp175,77 triliun.
Proyeksi tersebut mencerminkan kombinasi antara kebutuhan pendanaan yang masih besar di sektor korporasi dan ekspektasi kondisi pasar yang relatif kondusif dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun dibayangi berbagai ketidakpastian global.
Disampaikan Chief Economist Pefindo, Suhindarto belum lama ini di Jakarta (11/2/2026), pada 2026, nilai surat utang korporasi yang jatuh tempo diperkirakan mencapai Rp162,72 triliun. Besaran jatuh tempo ini menjadi faktor utama pendorong penerbitan baru, terutama untuk keperluan refinancing.
Dengan titik tengah realisasi penerbitan di Rp175,77 triliun, pasar diperkirakan masih memiliki kapasitas untuk menyerap penerbitan baru guna menutup kewajiban jatuh tempo sekaligus mendukung kebutuhan pendanaan ekspansi.
Baca Juga
Surat Utang Korporasi Indonesia 2025 Cetak Rekor, Tembus Rp284,3 T
Dalam skenario optimistis, penerbitan dapat menembus batas atas Rp196,86 triliun apabila sentimen investor tetap positif dan likuiditas pasar terjaga. Sebaliknya, pada skenario yang lebih berhati-hati, penerbitan berpotensi berada di batas bawah Rp154,00 triliun.
"Sisi faktor pendorongnya yang pertama adalah dari sisi kebutuhan refinancing ini masih tinggi, di tahun ini di 2026 surat utang jatuh tempo masih berada di kisaran Rp162,72 triliun, tidak berbeda jauh dengan tahun lalu yang berada di kisaran Rp161 triliun. Dengan kondisi suku bunga yang relatif masih rendah dan ada peluang untuk penurunan lagi lebih lanjut di tahun depan, diperkirakan kebutuhan untuk refinancing ini bisa jadi akan dicukupi dari penerbitan surat utang korporasi,"kata Suhindarto saat paparan.
Kebutuhan untuk penerbitan masih akan tinggi kemudian, (didukung) dari sisi fundamental ekonomi kita masih berada pada kondisi yang kuat, dimana di tahun 2026 ini diperkirakan kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansioner akan diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2026," imbuhnya.
Ia juga menyebut yield obligasi diproyeksikan lebih rendah dibandingkan 2025, meskipun ruang pelonggaran moneter diperkirakan tidak sebesar tahun sebelumnya. Penurunan rata-rata yield Surat Utang Negara tenor lima tahun ke sekitar 5,8 persen pada 2026 memberi peluang bagi emiten untuk menekan biaya dana dan memperbaiki struktur leverage.
Premi risiko yang relatif melandai juga turut mendukung minat penerbitan, seiring permintaan investor yang masih kuat, khususnya dari investor institusi dan manajer investasi yang mencari imbal hasil lebih tinggi dibandingkan instrumen pemerintah.
Namun demikian, sejumlah risiko masih membayangi outlook tersebut. Ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan ekonomi global berpotensi memicu fluktuasi sentimen pasar dan biaya penerbitan sepanjang tahun.
Tekanan depresiasi nilai tukar rupiah di tengah dinamika dolar AS serta potensi kebijakan tarif dapat meningkatkan risiko inflasi, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap yield. Pasokan surat utang pemerintah yang tetap tinggi, meskipun masih diserap pasar, berpotensi menahan laju penurunan yield obligasi korporasi.
Dari sisi sektoral, perlambatan bisnis di sektor keuangan, khususnya perbankan dan multifinance yang selama ini menjadi kontributor utama penerbitan EBUS, berisiko menekan minat dan kualitas penerbitan baru.
Selain itu, kecenderungan investor untuk memprioritaskan emiten berperingkat A ke atas membuat ruang penerbitan bagi emiten berperingkat BBB dan sektor tertentu menjadi lebih terbatas. Di saat yang sama, membaiknya prospek pasar saham juga membuka peluang substitusi pendanaan melalui ekuitas, sehingga sebagian emiten berpotensi menunda atau mengurangi rencana penerbitan surat utang.

