Pefindo: Penerbitan Surat Utang Korporasi di 2025 Catatkan 'All Time High', Sektor Swasta Memimpin
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Tahun 2025 mencatatkan sejarah baru bagi pasar keuangan nasional dengan menjadi periode penerbitan surat utang korporasi tertinggi sepanjang masa atau all time high. Lonjakan ini mencerminkan pergeseran strategi pendanaan korporasi di tengah dinamika biaya dana, kebutuhan refinancing, serta perubahan lanskap pembiayaan perbankan.
Tahun 2025 oleh Pefindo digambarkan sebagai tahun "booming" bagi instrumen surat utang. Dengan nilai penerbitan mencapai Rp284,3 triliun.
Head of Economic Research Division Pefindo, Suhindarto, dalam paparan di Jakarta, Rabu (11/2/2026) mengatakan peningkatan signifikan penerbitan surat utang korporasi pada 2025 terutama didorong oleh tingginya kebutuhan refinancing seiring jatuh tempo surat utang yang meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu penyebab lainnya adalah tingkat imbal hasil di pasar surat utang korporasi yang turun lebih cepat.
Banyak korporasi memilih menerbitkan instrumen baru untuk melunasi kewajiban lama, sekaligus memperpanjang profil jatuh tempo utang agar lebih selaras dengan arus kas dan rencana ekspansi jangka panjang.
“Tahun lalu memang terjadi lonjakan penerbitannya menjadi Rp284,3 triliun. Ini melampaui rekor sebelumnya yang pernah terjadi di tahun 2017 yaitu di angka Rp185 triliun. Nah salah satu sebabnya adalah kondisi imbal hasil di pasar surat hutang korporasi yang turun lebih cepat,” kata Suhindarto.
Imbal hasil surat utang korporasi yang turun lebih cepat dibandingkan suku bunga kredit perbankan, menciptakan selisih biaya pendanaan yang menguntungkan bagi emiten. Kondisi ini mendorong perusahaan beralih ke pasar obligasi sebagai sumber pendanaan alternatif yang lebih efisien, terutama bagi korporasi dengan peringkat kredit yang solid.
“Kondisi yield untuk tenor 1 tahun di pasar surat utang korporasi hampir di seluruh peringkat, yield-nya mengalami penurunan. Bahkan untuk yang peringkat BBB saja kondisinya hampir menyamai dengan average lending rate itu sendiri,” tuturnya.
Baca Juga
Pefindo Nilai Dampak Outlook Negatif Moody’s ke Yield SBN Relatif Terbatas
Di sisi lain, pendanaan perbankan dinilai relatif lebih mahal, baik dari sisi suku bunga maupun persyaratan kredit. Dalam situasi tersebut, pasar surat utang menawarkan fleksibilitas yang lebih besar, baik dalam struktur tenor maupun penentuan skema pembayaran. Tren ini juga tercermin dari meningkatnya porsi penerbitan surat utang dengan tenor menengah hingga panjang, yang dimanfaatkan korporasi untuk mengunci biaya dana rendah dalam jangka waktu lebih lama.
Surat Utang Didominasi Swasta
Berikutnya Suhindarto memaparkan, pasar surat utang korporasi pada tahun 2025 didominasi oleh emiten berperingkat "Prime" atau AAA yang mencakup 58,02% dari total profil penerbitan. Emiten dengan profil risiko rendah tenagh memanfaatkan momentum biaya dana yang sudah relatif lebih murah dibandingkan periode sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan tahun 2024, penerbitan surat utang berperingkat AAA melonjak drastis dari Rp58,90 triliun menjadi Rp164,96 triliun, sementara penerbitan pada peringkat rendah seperti BBB justru mengalami penurunan dari Rp2,14 triliun menjadi Rp1,62 triliun.
Dari paparan yang disampaikan, tampak sektor swasta cukup dominandengan nilai penerbitan yang mencapai Rp146,8 triliun, melampaui kelompok BUMN yang mencatatkan nilai Rp137,5 triliun pada tahun 2025. Padahal biasanya kelompok BUMN sering kali memimpin pasar, seperti yang terlihat pada tren tahun 2017 dan 2019.
Sementara dari sisi tujuan penggunaan dana, korporasi tampak semakin agresif dalam melakukan ekspansi dan menjaga stabilitas arus kas. Alokasi dana untuk modal kerja menjadi kontributor terbesar dengan nilai mencapai Rp135,76 triliun pada periode Januari hingga Desember 2025, meningkat pesat dari Rp95,41 triliun pada tahun sebelumnya.
Selain itu, dana yang dialokasikan untuk investasi juga mengalami pertumbuhan yang sangat tajam, naik dari Rp11,19 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp83,48 triliun pada tahun 2025. Sementara itu, kebutuhan dana untuk refinancing atau pembayaran utang lama juga meningkat menjadi Rp64,85 triliun.

