Pengelolaan Sampah UMKM Bisa Jadi Persyaratan Pendanaan KUR
JAKARTA, investortrust.id - Pengelolaan sampah menjadi salah satu topik yang muncul di tengah mencuatnya gagasan ekonomi hijau. Untuk mendukung langkah tersebut, perlu ada insentif bagi produsen yang mampu mengelola sampahnya.
Project Manager Waste4Change, Albert Dana Suherman menyebut pengelolaan sampah oleh UMKM bisa menjadi alternatif untuk pendanaan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dia menyebut, pengelolaan sampah bisa menjadi assessment pencairan KUR dari bank.
“Aku pikir ini bisa jadi alternatif buat bank ya,” kata Albert, saat ditemui Investortrust.id di gelaran BRI UMKM Expo(RT) Brilianpreneur 2023, di JCC, Jakarta, Sabtu (9/12/2023).
Albert mengatakan berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen LH) Nomor 75 Tahun 2019 sebetulnya sudah ada insentif dan disinsentif dari pemerintah pusat untuk produsen yang bertanggung jawab atas sampah mereka. Dari situlah, kata dia, insentif bisa diberikan ke para pelaku UMKM yang bertanggung jawab terhadap sampahnya.
Baca Juga
Kisah Rumah Atsiri Indonesia dan Wewangian dari Kaki Gunung Lawu
“Mereka bisa mendapat insentif tadi, supaya itu bisa menjadi inspirasi bagi yang lain,” ujar dia.
Albert mengatakan, untuk menjaga lingkungan, UMKM bisa menggunakan produk yang disesuaikan dengan perhitungan bisnis. Salah satunya plastik. Meski menjadi pilihan murah dan praktis, kata dia, UMKM tetap harus punya kiat khusus untuk mengurangi dampak plastik.
“Misalnya, kalau mau beli produk makanan, mereka (konsumen) yang membawa wadah sendiri ada potongan 5%, itu bisa dilakukan,” ujar dia.
Sementara itu, kata Albert, jika terpaksa memberikan wadah plastik, UMKM harus bisa memastikan wadah plastik tersebut ke mana. Dia mengatakan UMKM bisa mengarahkan sampah plastik itu diberikan ke bank sampah.
Baca Juga
“Hal yang paling simple yaitu memastikan si wadah itu terdaur ulang, tidak dibuang sembarangan. Masih mending diberikan ke pemulung sebenarnya. Itu karena pemulung bisa digunakan sebagai rezeki mereka,” ujar dia.
Ke depannya, Albert mengatakan UMKM bisa memahami bagaimana produknya terbentuk dan dipertanggungjawabkan dari sebelum dan setelahnya. Albert mencontohkan bagaimana produsen sepatu Pijak Bumi bisa mengelola sampah dari produknya.
“Konsumen yang membeli sepatunya itu tahu ketika sepatu usang bisa dikembalikan ke mana, konsumen tahu,” ujar dia. (CR-7)

