Jangan Mimpi Ekonomi Tumbuh 8% Tanpa Menjalankan Berbagai Persyaratan Ini
Poin Penting
|
Oleh Primus Dorimulu
JAKARTA, investortrust.id -- Lupakan impian Indonesia menjadi negara maju jika laju pertumbuhan ekonomi hanya rata-rata 5% seperti yang terjadi sepuluh tahun terakhir. Untuk menjadi negara maju, ekonomi Indonesia harus bertumbuh di atas 7% hingga 2045, saat Indonesia merayakan 100 kemerdekaan.
Sangat tepat ketika Presiden Prabowo Subianto mencanangkan laju pertumbuhan ekonomi 8%. Banyak orang yang nyinyir. Mana mungkin ekonomi Indonesia bertumbuh 8%, sementara untuk mencapai 5% saja sulit?
Hari Selasa, 5 Agustus 2025, BPS mengumumkan laju pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 sebesar 5,12% (year on year/yoy) dan pertumbuhan semester I-2025 sebesar 4,99%. Pemerintah berencana memberikan stimulus signifikan untuk mendongkrak kinerja semester II-2025 agar tahun ini pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,2%.
Target harus tinggi meski harus pula realistis. Pertumbuhan ekonomi 8% tidak ditargetkan tahun depan. Pertumbuhan ekonomi direncanakan naik perlahan, setahun 0,5%, dan jika itu terjadi, pertumbuhan 8% akan dicapai tahun 2030. Inilah sebuah target yang realistis.
Mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia harus didongkrak hingga menembus 8%? Pertama, Indonesia sedang menikmati puncak bonus demografi dan puncak demografi akan berlangsung hingga 2035.
Semua negara yang saat ini sudah masuk kategori negara maju —dengan PNB per kapita minimal US$ 13.846 – mencatat laju pertumbuhan ekonomi mencengangkan selama mereka menikmati bonus demografi. Indonesia pada akhir Juni 2025 baru mencatat PDB per kapita US$ 4.958. Hanya sedikit lebih tinggi, sekitar US$ 500 dari batas atas kelompok negara lower middle income.
Indonesia sudah mencapai bonus demografi sejak 2012 dan akan berakhir tahun 2045. Saat ini sekitar 70% atau 199 juta penduduk Indonesia tergolong usia produktif. Bonus demografi terjadi ketika usia produktif, 15-64 tahun, lebih besar dari usia non-produktif.
Ada empat kategori negara-negara di dunia berdasarkan pendapatan, seperti terlihat pada grafis berikut.
Sejumlah negara maju sukses memanfaatkan fase bonus demografi, seperti Jepang (1950–1990). Bonus demografi dimulai 1950-an, memuncak 1970–1980. Pertumbuhan PDB tahunan > 7%.
Korea Selatan (1970–2010), bonus demografi terjadi selama industrialisasi. Pertumbuhan rata-rata 8–9% per tahun selama 1980–1990. Bertransformasi dari negara agraris menjadi negara industri
Singapura (1965–2000). Bonus demografi dikombinasikan dengan kebijakan pendidikan dan keterampilan. Pertumbuhan ekonomi tahunan bisa > 10% pada 1970–1980.
China (1980–2015). Bonus demografi masif akibat kebijakan satu anak dan keberhasilan menurunkan angka ketergantungan. Rasio usia produktif >70% pada 2000–2010. Hasilnya, PDB tumbuh rata-rata >10% per tahun (1980–2010) dan bertransformasi cepat dari negara agraris ke manufaktur & ekspor global.
Setelah era bonus demografi, sebuah negara masuk era aging society dengan ciri pertumbuhan penduduk menurun, belanja menurun, produktivitas menurun, dan laju pertumbuhan ekonomi menurun.
Bencana Demografi
Kedua, negara yang tidak mampu memanfaatkan dengan baik periode bonus demografi akan terperangkap, yakni tidak akan keluar dari kategori negara menengah. Mereka terkena middle income trap.
Bonus demografi hanya dialami sekali. Tidak ada negara yang mengalami dua kali bonus demografi. Periode bonus demografi harus dimanfaatkan dengan baik.
Oleh karena itu, bagi Indonesia, bertumbuh 8% bukan sekadar impian, tapi sebuah keharusan! Mau menghasilkan generasi emas atau generasi cemas? Mau berkembang menuju negara maju atau tetap terjebak dalam middle income trap dan menjadi negara gagal, failed state.
Ketiga, seiring kenaikan jumlah penduduk, angkatan kerja Indonesia terus meningkat.
Saat ini terdapat 7,3 juta penganggur penuh dan 56,6 juta pekerja paruh waktu dan setengah penganggur. Setiap tahun, ada 3 juta orang masuk pasar kerja. Jika setiap 1% pertumbuhan ekonomi hanya mampu menyerap 250.000, maka laju pertumbuhan ekonomi 8% hanya mampu menyerap 2 juta pencari kerja baru. Apa yang akan terjadi jika pertumbuhan ekonomi hanya 5-6%? Gap antara jumlah pencari kerja dan tenaga kerja yang terserap akan semakin menganga.
Ledakan pengangguran akan terjadi dan akan semakin parah bila tidak upaya sistematis untuk mencegah dan mengatasinya! Bonus demografi akan menjadi bencana demografi!
Keempat, jumlah penduduk miskin masih besar. Jumlah penduduk miskin Indonesia per September 2024, menurut BPS, sebesar 8,6% atau setara 24,06 juta orang. Persentase penduduk miskin perkotaan pada periode yang sama 6,7%. Sedangkan persentase penduduk miskin perdesaan 11,3%. Sedang menurut Bank Dunia, jumlah penduduk miskin Indonesia 194,6 juta atau 68,3%. Perbedaan terjadi karena kriteria garis kemiskinan.
Kemiskinan hanya bisa diatasi dengan memacu pertumbuhan ekonomi hingga menembus 8%. Tentu yang dimaksudkan adalah pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Kelima, mengapa ekonomi Indonesia harus bertumbuh 8%? Karena kita punya kemampuan? Indonesia punya SDM yang besar dan SDA yang masih kaya.
Transformasi Struktural
Ekonomi Indonesia mampu bertumbuh 8%, tapi perlu sebuah transformasi struktural dan perubahan mental yang fundamental.
Pertama, Indonesia sedang menikmati puncak bonus demografi. Jika ada lapangan pekerjaan dan pendapatan yang bagus, penduduk usia produktif akan menjadi kelas menengah yang memiliki kekayaan dalam belanja. Kelas menengah dengan spending besar akan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi.
Kedua, pertumbuhan ekonomi hanya terjadi jika ada investasi, termasuk investasi asing. Tanpa investasi tidak ada produksi, tanpa produksi tidak ada ekspor dan tidak pertumbuhan ekonomi.
Oleh karena itu, perbaikan iklim investasi sangat penting agar ada investasi, khususnya investasi asing, FDI. Untuk mendukung laju pertumbuhan 8%, investasi yang dibutuhkan Indonesia selama 2024-20209 mencapai Rp 13.000 triliun.
Ketiga, meningkatkan kualitas SDM lewat peningkatan kesehatan dan pendidikan. Produktivitas pekerja Indonesia harus terus meningkat.
Keempat, Indonesia masih memiliki SDA yang besar, baik di bidang pertambangan, pertanian, perkebunan, peternakan, hingga kelautan.
Kelima, transformasi ekonomi dari ekspor bahan mentah ke ekspor produk jadi dan setengah jadi. Hilirisasi dan industrialisasi yang masif. Keenam, digitalisasi dan penggunaan AI.
Ketujuh, stabilitas dan kredibilitas fiskal. Spending harus diperbesar. Tak masalah Defisit APBN mentok 3% dari PDB sesuai UU, bahkan bisa di atas 3% asalkan tidak ada korupsi dan kebocoran. Rasio utang publik terhadap PDB baru 40%, jauh dari batas aman 60%.
Jangan lagi ada pengetatan yang mengganggu kelancaran birokrasi dan menghambat kemajuan ekonomi. Pajak dari rakyat harus dikembalikan ke rakyat lewat spending yang tepat.
Kedelapan, reformasi birokrasi dan reformasi hukum guna menurunkan angka korupsi dan kebocoran. Selama ada korupsi dan kebocoran, Indonesia akan tetap menjadi negara menengah, bahkan terancam menjadi negara miskin dan negara gagal.
Kesembilan, stimulus ekonomi, khususnya UMKM agar bangkit. UMKM bangkit pada masa pandemi, 2020-2022, karena stimulus yang diberikan pemerintah.
Kesepuluh, pertumbuhan ekonomi harus inklusif, berkeadilan, dan memperhatikan pemerataan pendapatan dan keadilan sosial. Kesenjangan sosial harus dipersempit. Karena kesenjangan akan menghancurkan prestasi ekonomi yang sudah dibangun. Kesebelas, stabilitas politik dan keamanan.
Danantara
Presiden Prabowo Subianto sangat yakin, laju perrtumbuhan ekonomi bakal menembus 8% tahun 2030. Untuk mendongkrak investasi, ia membentuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), lembaga pengelola investasi milik negara yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang Badan Usaha Milik Negara.
Sebagai pemegang saham mayoritas atas BUMN melalui kepemilikan 99% saham Seri B, Danantara mengelola dan mengembangkan portofolio BUMN agar lebih efisien, menguntungkan, dan berkontribusi ke perekonomian nasional. Danantara menjadi tulang punggung konsep “Indonesia Inc.” – pengelolaan terpusat atas aset dan investasi negara.
Saat ini, Danantara sudah memiliki dana investasi Rp 150 triliun yang berasal dari dividen BUMN. Danantara akan menjadi kekuatan baru di samping Kementerian Investasi/BKPM untuk menggerakkan investasi.
Sedangkan untuk menggerakkan ekonomi dan menciptakan pemerataan, Presiden Prabowo menggulirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk SD–SMA, Koperasi Desa Merah Putih: 80.021 koperasi untuk pemberdayaan ekonomi rakyat, pembangunan 3 juta rumah dan stimulus fiskal dan kredit produktif (KUR, FLPP, padat karya), swasembada pangan dan energi, dsb.
Mari kita simak visi ekonomi Prabowo-Gibran: Asta Cita, 17 progran prioritas, serta program quick wins.
Sejumlah perkembangan data ekonomi Indonesia berikut ini cukup menggembirakan.
Komitmen Presiden Prabowo
Menarik untuk dicermati komitmen Presiden Prabowo Subianto tentang upaya menggapai pertumbuhan ekonomi 8%. Pada Musyawarah Nasional Konsolidasi Kadin Indonesia, (16/1/2025), dia menegaskan: “Saya baru mungkin menginjak bulan ketiga memimpin pemerintahan Republik Indonesia dan makin saya mempelajari keadaan perekonomian kita, saya makin merasa percaya diri, saya merasa optimis, saya percaya, saya yakin kita akan mencapai bahkan mungkin melebihi 8 persen pertumbuhan”.
Pada Sarasehan Ekonomi Nasional, 8 April 2025, Presiden optimistispertumbuhan ekonomi bahkan bisa melampaui 8%.” “Indonesia ini besar. Indonesia ini kaya raya. Semua yang dibutuhkan manusia ada di bumi Indonesia. Kita harus bertindak sebagai satu entitas, sebagai satu korporasi raksasa: Indonesia Incorporated,” kata Presiden.
Pada Musrenbangnas RPJMN 2025–2029, (30/12/ 2024), Presiden menegaskan:“Kalau kita kerja sama, gotong royong, efisien, disiplin, saya kira kita bisa mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Kita bisa bikin dunia kaget.”
Selama seluruh komponen bangsa bekerja sama, bahu-membahu dalam semangat Indonesia Inc atau semangat gotong royong, Pertumbuhan 8% bisa kita raih tahun 2030 dan tahun-tahun selanjutnya selama periode puncak bonus demografi.
Indonesia bukan bangsa pesimistis, bangsa loyo, bangsa kuli yang membuatkan negaranya hancur menuju negara gagal. Indonesia adalah bangsa besar, bangsa yang punya martabat, bangsa mandiri, bangsa yang bangkit ketika ditantang, dan bersatu saat diuji. Berhentilah menyinyir. Janganlah menjadi bangsa yang seperti kata Bung Karno: Bangsa yang mencabik-cabik dirinya sendiri!
Saatnya semua pihak bersatu, berkolaborasi dalam semangat Indonesia Inc atau gotong royong, dan memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara. Bukan hanya pemerintah, tapi juga dunia usaha, kampus, media, masyarakat sipil, dan kita semua: kita wujudkan pertumbuhan 8% sebagai perjuangan bersama!
Jangan kita membuat dosa sejarah dan membiarkan kesempatan ini menjadi penyesalan sepanjang masa.***

