Rupiah Bergerak Menguat Jelang Pengumuman RDG BI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) jelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Rabu (21/10/2026). Rupiah menguat 0,04% ke posisi Rp 17.984 per dolar AS.
Selain rupiah, sejumlah mata uang di kawasan Asia turut menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia menguat 0,04% dan rupee India menguat 0,03%.
Sementara itu, pelemahan terjadi pada yen Jepang, yuan China, baht Tailan, dan dolar Singapura. Yen melemah 0,06%, yuan dan dolar Singapura melemah melemah 0,03%, serta baht melemah 0,17%.
Baca Juga
Corporate Indonesia Unveils Multi-Trillion-Rupiah Buybacks to Anchor Valuations Amid MSCI Turmoil
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan indeks dolar AS (DXY) melemah 0,27% ke level 101,70, tetapi masih menguat 3,44% secara YTD, seiring penurunan imbal hasil US Treaaury jangka panjang dan harga minyak yang mengurangi momentum penguatan dolar AS.
Harga minyak mentah Brent turun 0,69% menjadi US$ 108,8 per barel, terkoreksi dari level tertinggi dalam lima bulan seiring meredanya sebagian kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah. Namun, serangan Houthi yang masih berlanjut dan risiko terhadap pelayaran di kawasan Teluk tetap menjadi faktor yang berpotensi mendorong kenaikan harga.
Baca Juga
Rupiah Breaches Rp 18,000 as Global Shocks and MSCI Fallout Test Bank Indonesia’s Defense
Dari sisi kebijakan moneter, ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed masih mengarah pada penahanan suku bunga dalam rapat FOMC 27–28 Oktober, sementara kenaikan suku bunga kembali pada Desember masih menjadi skenario utama. Survei Reuters menunjukkan 94 dari 100 ekonom memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan (FFR) pada kisaran 3,75–4,00% pada Oktober. Sementara itu, seluruh responden memperkirakan kenaikan suku bunga kembali pada Desember karena inflasi masih berada di atas target.
Andry memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.970–Rp 18.040 per dolar AS. Kami memperkirakan USD/IDR masih memiliki kecenderungan bergerak naik secara terbatas, yang mencerminkan potensi pelemahan rupiah, karena arus keluar dana asing dari pasar saham yang persisten dan ketidakpastian terkait MSCI lebih dominan dibandingkan dukungan dari pelemahan DXY dan penurunan harga minyak.
"Ekspektasi bahwa BI akan mempertahankan suku bunga di level 5,75% seharusnya menjaga kesinambungan kebijakan moneter. Namun, arahan BI terkait stabilitas nilai tukar akan menjadi faktor penting yang menentukan arah pergerakan pasar," kata Andry.
