Rupiah Menguat ke Posisi Rp 17.942 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat sebesar 0,13% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (2/10/2026). Dengan penguatan tersebut, rupiah berada di posisi Rp 17.942 per dolar AS.
Tak hanya rupiah, penguatan juga terjadi pada sejumlah mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang menguat 0,06%, yuan China menguat sebesar 0,02%, dan baht Tailan menguat 0,04%.
Di sisi lain, sejumlah mata uang di kawasan ini juga terpantau melemah. Rupee India melemah 0,5%, won Korea Selatan melemah 0,06%, ringgit Malaysia melemah sebesar 0,03%, dan dolar Singapura melemah 0,01%.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan DXY menguat 0,64% menjadi 102,10 dan telah menguat 3,84% secara year-to-date (ytd), didukung oleh penguatan dolar AS secara luas di tengah tingginya imbal hasil global. P
MI Manufaktur ISM AS September 2026 tetap berada di zona ekspansi pada level 54,5, dibandingkan 54,6 sebelumnya, sementara indeks prices paid melonjak menjadi 77,9 dari 71,1, menandakan tekanan biaya input yang masih persisten.
Klaim pengangguran awal turun menjadi 197.000 dibandingkan ekspektasi 200.000. Pasar akan mencermati data nonfarm payrolls September 2026 yang dirilis malam ini, yang diperkirakan meningkat sekitar 90.000, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap di 4,1%.
Baca Juga
BI Optimistis Rupiah Menguat pada Kuartal IV, Kebutuhan Valas Importir Mereda
Andry melihat bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mereda secara signifikan, dengan pasar kini hanya memperkirakan probabilitas sekitar 25% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC 27–28 Oktober, turun dari sekitar 70% sepekan sebelumnya.
Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson dan Presiden The Fed New York John Williams mengisyaratkan bahwa para pembuat kebijakan dapat menunggu data tambahan sebelum kembali memperketat kebijakan, meskipun kenaikan suku bunga kembali pada akhir tahun masih mungkin terjadi.
“Oleh karena itu, laporan ketenagakerjaan malam ini akan menjadi ujian penting bagi prospek kebijakan The Fed pada Desember,” kata Andry.
Andry menyebut kontrak minyak mentah Brent front-month terbaru melonjak 4,37% menjadi US$ 102,31 per barel, karena kekhawatiran baru terkait pasokan lebih besar daripada sinyal pemulihan ekspor dari kawasan Teluk.
China menangguhkan ekspor produk bahan bakar ke luar Hong Kong dan Makau, sementara laporan mengenai kemungkinan AS mengerahkan tambahan pasukan dan kapal induk ketiga ke Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran mengenai eskalasi konflik dengan Iran.
“Ketatnya pasokan diesel global juga menjadi risiko tambahan terhadap kenaikan harga energi dan inflasi,” ujar dia.
