87,53% Pemegang Polis Tak Tahu Asuransi yang Dimilikinya Dijamin LPS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) menggelar Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) pada 2026. Salah satu hasil dari survei tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 87,53% pemegang polis tak mengetahui bahwa asuransi yang mereka miliki telah dijaminkan pada 2028.
“Hasil SNLIK 2026 menunjukkan masih terdapat kesenjangan pemahaman mengenai penjaminan polis asuransi,” kata Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, di kantornya, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Amalia menjelaskan bahwa dari penduduk usia 15-79 tahun yang memiliki produk asuransi non-BPJS, hanya 12,47% yang mengetahui bahwa polis asuransinya akan dijamin pada 2028.
“Artinya 87,53% belum mengetahui adanya penjaminan polis asuransi yang akan diberikan LPS [Lembaga Penjamin Simpanan]” kata dia.
Amalia membeberkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap penjaminan simpanan masyarakat juga terbilang belum menyeluruh. Dalam SNLIK terlihat bahwa baru 62,51% penduduk usia 15-79 tahun yang memiliki pengetahuan bahwa simpanan yang dimilikinya dijamin oleh LPS.
Baca Juga
Survei SNLIK 2026: 62,51% Masyarakat Tahu Simpanan Bank Dijamin LPS
Secara kelembagaan, sebanyak 46,31% penduduk telah mengetahui adanya LPS. Sisanya, 53,69% penduduk tak mengetahui keberadaan lembaga tersebut.
Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu menjelaskan bahwa data SNLIK tersebut sangat penting dan bukan hanya sekadar angka.
“Tetapi menentukan siapa yang perlu kami jangkau dan bagaimana cara mengedukasinya,” kata Anggito.
Berdasarkan data yang dikaji, Anggito menjelaskan terdapat 14 provinsi yang menjadi prioritas edukasi dan komunikasi. Sebanyak 14 provinsi ini masuk dalam kategori tak mengetahui adanya penjaminan simpanan dan kelembagaan LPS.
Dalam paparan yang disajikan, 14 provinsi yang masuk dalam kategori sasaran edukasi antara lain, Sulawesi Utara, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Kalimantan Selatan, NTB, Papua Selatan, Jawa Tengah, Bengkulu, Sulawesi barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Papua Pegunungan.
“Itulah yang menjadi prioritas utama,” ujar dia.
Menurut Anggito, edukasi yang diberikan LPS ke depan harus dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Pesannya harus sederhana menggunakan panel visual dan hadir di pasar, koperasi, BPR, hingga ATM.
“Edukasi harus hadir di tempat masyarakat beraktivitas dan terfokus,” kata dia.

