Likuiditas Perbankan Cukup, M0 Tumbuh 16,8%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Likuiditas perbankan nasional masih berada dalam kondisi memadai untuk menjaga stabilitas pendanaan dan mendukung penyaluran kredit, meskipun bank tetap perlu mengelola likuiditas dan biaya dana secara hati-hati di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.
Berdasarkan BRI Weekly Economic Update W4 April 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, dan diterbitkan di Jakarta, Selasa (28/04/2026) , pertumbuhan uang primer atau M0 adjusted melambat tipis menjadi 16,8% year on year (yoy) pada Maret 2026, dari 18,3% yoy pada Februari 2026.
Meski melambat, pertumbuhan M0 yang masih dua digit menunjukkan bahwa basis likuiditas sistem moneter domestik tetap solid. M0 adjusted mencerminkan uang kartal yang beredar dan giro bank umum di Bank Indonesia setelah menetralkan dampak insentif makroprudensial, sehingga memberi gambaran lebih tepat mengenai kondisi uang primer.
Baca Juga
OJK Pastikan Likuiditas Valas Perbankan Aman untuk Kebutuhan Utang Luar Negeri Korporasi
Di sisi lain, jumlah uang beredar dalam arti luas atau M2 justru meningkat menjadi 9,7% yoy pada Maret 2026, dari 8,7% yoy pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan bahwa likuiditas domestik tetap cukup kuat untuk menopang aktivitas ekonomi, menjaga stabilitas funding perbankan, dan mendukung ruang penyaluran kredit.
Pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit atau M1 juga tetap solid sebesar 14,4% yoy. Kinerja ini terutama ditopang oleh pertumbuhan giro rupiah yang melonjak 26,4% yoy serta tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu yang masih tumbuh 7,4% yoy. Pertumbuhan M1 yang tetap dua digit mengindikasikan bahwa aktivitas transaksi masyarakat dan korporasi masih terjaga.
Bagi perbankan, kondisi tersebut menciptakan ruang bagi permintaan kredit yang berpotensi tetap bertahan, seiring aktivitas transaksi ekonomi yang diperkirakan masih resilien. Namun, dominasi sumber dana yang lebih likuid juga mengandung risiko tersendiri karena struktur pendanaan perbankan dapat menjadi lebih volatil. Pergerakan dana berpotensi berlangsung lebih cepat ketika persepsi risiko berubah, terutama dalam situasi pasar global yang tidak menentu.
Sementara itu, pertumbuhan uang kuasi meningkat menjadi 5,2% yoy pada Maret 2026, dari 3,1% yoy pada Februari 2026. Kenaikan uang kuasi tetap ditopang oleh simpanan berjangka yang tumbuh 4,4% yoy dan memiliki porsi terbesar dalam struktur uang kuasi. Namun, komponen dengan pertumbuhan paling tinggi adalah tabungan lainnya yang naik 16,1% yoy.
Struktur tersebut menunjukkan bahwa likuiditas perbankan masih memadai, tetapi pengelolaannya harus tetap prudent. Bank perlu mencermati sensitivitas risiko likuiditas karena kombinasi antara dana likuid, tekanan nilai tukar, dan volatilitas pasar global dapat memengaruhi stabilitas funding.
Dari sisi faktor pembentuk M2, aktiva luar negeri bersih meningkat menjadi 2,7% yoy pada Maret 2026, dari 2,0% yoy pada Februari 2026. Kenaikan ini mencerminkan membaiknya posisi likuiditas eksternal dan adanya dukungan likuiditas valuta asing dalam sistem keuangan domestik.
Pada saat yang sama, aktiva dalam negeri bersih tumbuh 11,7% yoy, meningkat dari 10,6% yoy pada bulan sebelumnya. Tagihan kepada sektor lainnya masih menjadi komponen utama aktiva dalam negeri bersih, meskipun pertumbuhannya melambat tipis menjadi 8,8% yoy.
Di sisi lain, tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat melonjak 39,8% yoy, seiring percepatan realisasi belanja pemerintah pada awal tahun. Peningkatan ini ikut memperkuat ruang likuiditas domestik dan memberi bantalan bagi perbankan untuk menjaga stabilitas pendanaan.
Laporan BRI juga menempatkan perkembangan likuiditas domestik ini dalam konteks global yang lebih menantang. IMF merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 sebesar 0,2 poin persentase menjadi 3,1%, dengan tekanan lebih besar pada negara berkembang dibanding negara maju. Revisi tersebut mencerminkan meningkatnya sensitivitas ekonomi global terhadap guncangan eksternal, terutama kenaikan harga energi, ketidakpastian geopolitik, dan pengetatan kondisi finansial global.
Tekanan inflasi global juga meningkat. Estimasi inflasi CPI global naik dari sekitar 3,22% yoy pada awal Maret 2026 menjadi 3,91% yoy pada akhir April 2026. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa guncangan harga energi dan biaya logistik akibat konflik di Timur Tengah mulai tertransmisikan ke harga konsumen global.
Dalam kondisi tersebut, ruang pelonggaran moneter global menjadi terbatas. Pasar masih memperkirakan The Fed mempertahankan Fed Funds Rate di level 3,75% pada FOMC April 2026, seiring risiko inflasi yang tetap bertahan. Ekspektasi suku bunga AS yang tetap tinggi berpotensi menjaga yield global tetap tinggi, memperketat kondisi likuiditas, dan menahan aliran modal ke emerging markets.
Baca Juga
OJK Sebut Transmisi Suku Bunga Butuh Waktu, Fokus Bangun Ekosistem Kredit yang Sehat
Di dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dalam RDG 22 April 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan ini menunjukkan bahwa stabilitas rupiah masih menjadi prioritas di tengah tekanan eksternal, meskipun BI tetap mendukung pertumbuhan melalui kebijakan makroprudensial yang pro-growth.
Bagi industri perbankan, kombinasi likuiditas domestik yang masih memadai dan tekanan global yang meningkat menghadirkan dua sisi yang harus dikelola bersamaan. Di satu sisi, pertumbuhan M2, M1, dan dukungan aktiva dalam negeri memberi ruang bagi penyaluran kredit. Di sisi lain, volatilitas global, kenaikan harga minyak, tekanan rupiah, dan suku bunga global yang tinggi membuat pengelolaan likuiditas serta cost of fund tetap menjadi tantangan utama.
Dengan demikian, likuiditas perbankan masih cukup untuk mendukung fungsi intermediasi. Namun, ruang tersebut bukan tanpa risiko. Perbankan perlu menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit, stabilitas pendanaan, dan kehati-hatian dalam menghadapi pasar global yang masih bergejolak.

