Insentif GWM BI Berperan Jaga Likuiditas Perbankan, Kredit Tumbuh 12,4%
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengatakan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7,44% secara tahunan (year on year/yoy) pada Maret 2024 menjadi Rp 8.601 triliun. Angka itu juga tumbuh 1,9% dibanding bulan sebelumnya (month to month/mtm).
“Itu dengan giro menjadi kontributor pertumbuhan terbesar. Pertumbuhannya mencapai 9,37% yoy,” kata Dian, saat Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan & Kebijakan OJK RDK Bulanan (RDKB) April 2024, Senin (13/5/2024).
Baca Juga
OJK: Volatilitas Rupiah Relatif Tak Signifikan Pengaruhi Permodalan Bank, Likuiditas Memadai
Dian menjelaskan, likuiditas perbankan per Maret 2024 memadai. Ini ditandai dengan rasio Alat Likuid terhadap Non Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 121,05% dan 27,18% per Maret 2024.
"Kualitas kredit juga tetap terjaga. Rasio Non-Performing Loan (NPL) net perbankan sebesar 0,77% per Maret 2024 dan NPL gross sebesar 2,25% pada Maret 2024, jika dibandingkan Februari yang 2,35%," kata dia.
Dian menambahkan, volatilitas nilai tukar rupiah belakangan juga tidak memberi pengaruh signifikan terhadap permodalan perbankan di Indonesia.
Kenaikan BI Rate Berpengaruh
Sementara itu, Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan, kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) memang ada pengaruh terhadap likuiditas perbankan. Tapi, di sisi lain, ada Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) berupa Giro Wajib Minimum (GWM) terhadap beberapa sektor.
“Insentif diberikan terkait (seperti kredit ke sektor) hilirisasi, perumahan, otomotif, UKM, pariwisata, dan lain-lain. Hal ini juga berperan mendukung likuiditas tetap terjaga,” kata Sumual, kepada investortrust.id, Senin (13/5/2024).
Baca Juga
Suku Bunga Acuan Tinggi, Pefindo Proyeksikan Penerbitan Obligasi Korporasi Rp 155,46 Triliun
Sumual mengatakan juga, walaupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) cenderung naik, namun imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) relatif lebih stabil.
“Sehingga, hal itu tidak signifikan memengaruhi kondisi fiskal,” ujar dia.
Membandingkan dengan lain, Sumual mengatakan, kondisi likuiditas di Cina saat ini lebih longgar. Sementara itu, negara-negara lain relatif agak ketat.
“Rata-rata negara di dunia mengikuti kebijakan moneter Amerika Serikat yang relatif ketat. Yang melawan arus sejauh ini mungkin Cina,” ujar dia.
Kredit Maret 2024 Meningkat Rp 150 T
Senada dengan David, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat pertumbuhan kredit pada Maret 2024 bagus. Kredit meningkat sebesar Rp 150 triliun atau tumbuh 2,12% secara mtm dan tumbuh double digit sebesar 12,4% secara year on year menjadi Rp 7.245 triliun.
“Selain menaikkan suku bunga acuan BI, di sisi kebijakan makroprudensial Bank Indonesia memperkuat KLM. Ini untuk mendorong pertumbuhan kredit sehingga pertumbuhannya tetap solid, tumbuh double digit sekitar 12,4% yoy,” kata Josua.
Josua mengatakan, dengan fungsi utama intermediasi, perbankan akan cenderung mengelola ketersediaan likuiditasnya. Dengan cara ini, kata dia, perbankan akan mendukung penyaluran kredit ke sektor riil.
“Dari sisi pemerintah, sekalipun kepemilikan investor asing pada SBN masih menurun, namun kepemilikan BI pada SBN cenderung meningkat,” kata dia.
Josua memproyeksikan ke depan, pasar masih akan menunggu peluang bank sentral AS, the Fed, untuk menurunkan suku bunga sebesar 50 bps. Dengan begitu, potensi foreign capital inflow di pasar SUN diperkirakan akan membaik pada semester II-2024.
“Di mana di saat yang sama defisit APBN cenderung meningkat dan kebutuhan pembiayaan juga meningkat. Sehingga, di sisi pemerintah, cost of borrowing pun cenderung akan menurun,” ucap dia.

