Likuiditas Cukup, BRI Punya Ruang Tingkatkan Kucuran Kredit
JAKARTA, Investortrust.id - Di tengah tekanan inflasi yang tinggi di berbagai belahan dunia akibat sejumlah faktor seperti kelangkaan komoditas pangan akibat perang dan sejumlah bencana alam skala besar, mendorong banyak bank sentral melakukan kebijakan moneter yang ketat. Salah satunya langkah adalah dengan menaikkan tingkat suku bunga.
Akibat sejumlah kebijakan moneter yang ketat, bisa dipastikan ketersediaan likuiditas di pasar pun akan berkurang. Ketatnya likuiditas juga dialami oleh sejumlah lembaga finansial penyalur kredit, sehingga mereka kesulitan melakukan ekspansi untuk meningkatkan porsi kucuran kreditnya.
Namun hal ini tidak terjadi pada PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk, yang di tengah situasi sulit seperti saat ini, masih memiliki tingkat likuiditas yang mencukupi. Tingkat likuiditas yang cukup tentunya masih memberikan ruang yang besar bagi Bank Wong Cilik ini untuk terus berekspansi.
Baca Juga
Disampaikan Direktur Utama pada PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk Sunarso pada acara Gathering BRI-Media di BRILink Stadion, Selasa (12/09/2023), rasio likuiditas perseroan yang tecermin dalam rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) terjaga di level 87,26%.
“Artinya kalau ditanya likuiditasmu aman gak? Saya jawab sangat aman,” ujarnya. “Yang penting rasio likuiditas kita, LDR terjaga di level 87,26%,” imbuhnya.
Disampaikan Sunarso, di tengah tingkat suku bunga tinggi oleh bank sentral, tingkat likuiditas yang cukup menjadi tantangan bagi industri perbankan.
Baca Juga
“Saya kalau ditanya dalam situasi suku bunga tinggi seperti sekarang, bank sentral melakukan pengetatan, artinya likuiditas di pasar juga ketat. Terus kita mau tumbuh, kan butuh likuiditas. Dan ternyata likuiditas kita terkelola dengan baik, karena apa? LDR kita terjaga di 87,26%,” imbuhnya.
Namun Sunarso juga menyampaikan, jika ada pertanyaan apakah tingkat LDR yang sangat layak di 87,26% tersebut merupakan kondisi yang optimal bagi bank, khususnya BRI, tegas ia mengatakan belulm optimal.
Baginya, rasio likuiditas atau LDR yang bisa dikatakan optimal berada di kisaran 90-92%. Artinya, tingkat kucuran kredit di BRI masih perlu didorong untuk diperbesar hingga kisaran 90-92%.
“Rasio likuiditas yang optimal itu berkisar di antara 90-92%. Dan ini masih di bawah level 90%. Artinya apa, masih perlu didorong menumbuhkan kredit sampai LDR di kepala 9, 90-92%. Artinya tidak ada kesulitan likuiditas. Namun kita harus tetap tumbuh dengan menjaga kualitas pertumbuhan,”kata Sunarso.
Dalam kesempatan tersebut, Sunarso memaparkanbahwa pangsa kredit UMKM di BRI secara konsolidasi per Juni 2023 mencapai 84,5%, terdiri atas kredit mikro sebesar Rp 577,9 triliun dengan porsi yakni 48,10%, disusul Usaha Kecil dan Menengah senilai Rp 259,4 triliun dengan porsi 21,60%, dan kredit konsumer senilai Rp 178,2 triliun dengan porsi 14,80%.
Baca Juga
Sunarso: Kalau Meleset, Laba BRI Tahun 2023 Bakal di Atas Target
Sementara itu kredit korporasi yang telah dikucurkan pada paruh pertama tahun ini tercatat sebesar Rp 186,6 triliun dengan porsi 15,50%. “Posisi kredit BRI secara konsolidasi per Juni 2023 sebesar Rp 1.202 triliun. Kredit mikro dan ultra mikro BRI, Pegadaian, dan PMN pada semester I 2023 naik 11,4% year on year, mencapai Rp 578 triliun. Sementara total debitur yang dilayani BRI, Pegadaian, dan PMN mencapai 36,1 juta,” ujar Sunarso

