Kucuran Kredit Melesat, Laba BBTN Menggelembung 15%
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebagai bank terbesar ke-5 yang memiliki positioning yang kuat pada bisnis perumahan, terus mencatatkan kinerja apik di tengah periode yang menantang pasca pandemi Covid-19. Hal ini terlihat salah satunya dengan kucuran kredit di double digit di angka 11,9% year on year di tahun 2023, menjadi Rp 334 triliun.
“Tahun lalu kredit kita tumbuh 11,9%. Dan yang menariknya, yang pertama setelah covid kita double digit,” kata Direktur Utama BBTN Nixon Napitupulu dalam kesempatan Berbuka Puasa Bersama para pemimpin media massa di Jakarta, Selasa (2/4/2024).
Nixon pun masih optimistis bahwa di akhir tahun 2024, di tengah periode yang masih menantang akibat likuiditas yang makin ketat, kucuran kredit BBTN masih akan bertumbuh di kisaran 11%-12%. “”Mudah-mudahan di 2024, walaupun challenging, kita masih kekeuh tumbuh di 11%-12% di tahun ini,” kata Nixon.
Ekspansifnya kucuran kredit perseroan, maka tak heran laba yang bisa diraup pun ikut melesat sebesar 15% year on year di 2023 sebesar Rp3,5 triliun.
Menariknya, jika dihitung dengan Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan atau pre-provisioning operating profit (PPOP), laba BBTN sejatinyacukup masif, di angka Rp 8,2 triliun.
Baca Juga
BBTN Bidik Pertumbuhan Kredit dan Laba Double Digit di Tahun Ini
Disampaikan Nixon, pihaknya memilih untuk tidak mengakui mayoritas laba yang diperoleh, dan menjadikannya sebagai provisi atau cadangan. Upaya ini menurutnya sebagai bagian dari penguatan fondasi bank.
“Selain tumbuh laba 15%, yang menarik laba sebelum pencadangan itu masih growth dan yang menariknya kalau dikurangin Rp 8,2 triliun ke Rp 3,5 triliun, majority laba tidak kita akui sebagai laba. Tapi yang Rp 4,7 triliun atau yang terbesar kita akui sebagai cadangan dulu,” ujar Nixon.
Dikatakan Nixon, selama lima tahun terakhir BTN hanya menyiapkan pencadangan di bawah 50% dari laba yang diperoleh. Namun kali ini sebagai langkah penguatan fondasi kas perusahaan, maka BBTN akan diarahkan untuk menerapkan pencadangan di atas 50%.
“Saat saya masuk masih di 35%-39%, hari ini sudah 150%,” kata Nixon. “Kalau ditanya pencadangan sampai berapa? Saya bilang samapai 200%. Jadi kalau pencadangan sudah mencapai dua kali lipat dari NPL, baru saya merasa lebih tenang,” imbuhnya.
Untuk itu, BBTN akan menjaga laba di level yang konservatif demi menjaga pencadangan. Hal ini pula yang selalu ia tekankan kepada pemilik saham, dalam hal ini pemerintah. Begitu pencadangan sudah bisa mencapai dua kali lipat dari NPL, maka berikutnya BBTN akan berani kebut pencatatan laba, demikian disampaikan Nixon.
Sementara itu NPL secara gradual mengalami perbaikan dengan posisi kredit bermasalah per Desember 2023 berada di angka 3,0%, atau turun 0,4%.
Masih menurut Nixon, sejumlah indikator kinerja BBTN juga cukup mentereng. Tengok saja pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang terkerek 8,7% YoY, di tengah pertumbuhan DPK perbankan nasional yang di kisaran 3,8% secara rerata.
BBTN juga mampu meningkatkan dana murah (Current account saving account/CASA) sebesar 5,2% YoY, menjadi 53,7% dari total DPK. Sementara dari sisi profitabilitas yang bisa dilihat dari angka return on asset (ROA), perusahaan mampu mengereknya ke level 1,1% di 2023 atau naik tipis 0,1%.
Pada akhir tahun yang sama, emiten yang diberitakan akan melepas unit usaha syariahnya ini mencatatkan aset sebesar Rp 439 triliun, atau tumbuh sebesar 9,1% secara tahunan.

