Fluktuasi Harga Energi Fosil Dorong Urgensi Transisi Energi Global
JAKARTA, investortrust.id – Fluktuasi harga energi fosil di tengah ketegangan geopolitik dan gangguan jalur perdagangan energi memperkuat urgensi transisi energi global. Ketergantungan terhadap energi fosil dinilai meningkatkan risiko terhadap stabilitas ekonomi global.
Pergerakan harga minyak yang berfluktuasi tidak hanya memengaruhi biaya energi, tetapi juga dapat meningkatkan tekanan inflasi, memengaruhi arah suku bunga, serta menciptakan ketidakpastian bagi perekonomian global.
Kondisi tersebut memperkuat kebutuhan untuk membangun sistem energi yang lebih beragam, efisien, dan berkelanjutan. Transisi menuju ekonomi rendah karbon tidak lagi semata-mata didorong oleh komitmen pengurangan emisi, tetapi juga kebutuhan menjaga ketahanan energi di tengah meningkatnya risiko geopolitik.
Baca Juga
Airlangga Ungkap Modal US$ 20 Miliar untuk 'Green Economy', RI Bidik Peluang Digital US$ 600 Miliar
Volatilitas harga minyak diperkirakan masih menjadi sorotan selama lalu lintas dan volume pasokan energi belum sepenuhnya kembali normal. Kondisi tersebut dapat menjadi pemicu volatilitas harga, tekanan inflasi, dan perubahan arah kebijakan suku bunga.
Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Freddy Tedja mengatakan, tantangan tersebut sekaligus menegaskan bahwa transisi energi merupakan perubahan struktural yang akan berlangsung dalam jangka panjang.
“Transisi energi kini tidak lagi hanya berbicara tentang komitmen lingkungan. Ketidakpastian pasokan dan volatilitas harga energi fosil menunjukkan pentingnya membangun sistem energi yang lebih beragam dan berdaya tahan. Hal ini mendorong kebutuhan terhadap energi rendah karbon, elektrifikasi, efisiensi, serta penguatan keamanan sumber daya,” ujar Freddy.
Transisi Energi Libatkan Ekosistem Luas
Menurut Freddy, perjalanan menuju ekonomi rendah karbon tidak hanya bergantung pada pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Perubahan tersebut memerlukan ekosistem yang lebih luas, mulai dari pengembangan jaringan listrik, teknologi penyimpanan energi, kendaraan listrik, peralatan hemat energi, hingga ketersediaan mineral dan material yang mendukung elektrifikasi.
Dalam proses tersebut, perusahaan dari berbagai sektor dapat memainkan peran penting. Perusahaan industri dapat menyediakan peralatan dan teknologi yang meningkatkan efisiensi energi. Sementara itu, perusahaan material dapat menghasilkan bahan yang diperlukan untuk membangun jaringan listrik, baterai, kendaraan listrik, serta berbagai infrastruktur rendah karbon.
Baca Juga
DEN Ungkap Peluang RI Rebut Bisnis Data Center dari Singapura
Di sisi lain, perusahaan teknologi dapat mendukung pengelolaan energi yang lebih efisien melalui digitalisasi, otomatisasi, dan sistem pemantauan yang semakin canggih. Hal ini menunjukkan bahwa peluang investasi dari transisi energi tersebar pada berbagai sektor dan tidak terbatas pada perusahaan penghasil energi terbarukan.
“Ketika mendengar transisi energi, banyak orang langsung membayangkan panel surya atau turbin angin. Padahal, perubahan ini mencakup rantai nilai yang jauh lebih luas. Elektrifikasi membutuhkan jaringan, material, teknologi, dan peningkatan efisiensi dalam skala besar. Karena itu, peluang investasinya juga dapat ditemukan pada berbagai perusahaan yang menyediakan solusi bagi proses tersebut,” jelas Freddy.
Empat tema utama yang dinilai berperan dalam perubahan tersebut adalah energi rendah karbon, material pendukung transisi, efisiensi dan elektrifikasi, serta ketersediaan sumber daya. Keempat tema tersebut mencerminkan keterkaitan antara kebutuhan mengurangi emisi, menjaga ketahanan energi, dan memenuhi permintaan sumber daya yang semakin meningkat.
Akses Transisi Energi
Pasar modal Indonesia memiliki berbagai perusahaan berkualitas. Namun, pilihan emiten yang memperoleh pendapatan utama dari solusi transisi energi global masih relatif terbatas. Karena itu, investasi global dapat membantu memperluas cakupan portofolio terhadap perusahaan dan subsektor yang belum banyak tersedia di pasar domestik.
Diversifikasi global juga memberikan kesempatan bagi investor untuk memperoleh sumber pertumbuhan yang berbeda. Portofolio tidak hanya bergantung pada perkembangan ekonomi dan pasar lokal, tetapi juga memiliki paparan terhadap perubahan struktural yang berlangsung di berbagai negara.
Baca Juga
BKPM: Membidik Investasi US$618,1 Miliar, Hilirisasi Hijau Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
“Kombinasi reksa dana lokal dan global bisa saling melengkapi. Reksa dana lokal dapat memberikan eksposur terhadap pertumbuhan Indonesia, sementara reksa dana global membuka akses terhadap tema dan perusahaan yang belum tentu tersedia secara memadai di pasar lokal,” tutur Freddy.
Bagi investor Indonesia, diversifikasi mata uang turut menjadi bagian dalam pengelolaan risiko investasi.
Dalam periode 10 tahun hingga 2026, mata uang rupiah secara rata-rata terdepresiasi sekitar 3% per tahun terhadap dolar AS, sementara rata-rata inflasi Indonesia juga berada di kisaran 3% per tahun. Diversifikasi dalam mata uang berbeda dapat membantu menyebarkan risiko nilai tukar dan menjaga daya beli aset.
MAGET Buka Akses
Investor dapat memperoleh eksposur terhadap tema transisi energi global melalui Manulife Saham Syariah ESG Transisi Global Dolar AS (MAGET).MAGET merupakan reksa dana dengan portofolio efek luar negeri yang berfokus pada perusahaan-perusahaan global yang memiliki peran dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Baca Juga
Strategi MAGET berfokus pada perusahaan yang terhubung dengan empat tema utama, yakni energi rendah karbon; material pendukung transisi; efisiensi dan elektrifikasi; serta ketersediaan dan keamanan sumber daya. Eksposur tersebut menjadi sumber diversifikasi tambahan bagi investor yang portofolio globalnya telah terkonsentrasi pada saham teknologi.
“Kebutuhan energi rendah karbon, elektrifikasi, efisiensi, dan keamanan sumber daya membuka peluang investasi jangka panjang, untuk itu dibutuhkan horizon investasi yang memadai dari sisi investor. Menyesuaikan tujuan investasi dan kendaraan investasi menjadi salah satu upaya mengoptimalkan potensi kinerja investasi. Pasar finansial sangat dinamis sehingga fluktuasi jangka pendek harusnya menjadi bagian dari proses yang harus dilalui,” tutup Freddy.
