JP Morgan: Pembatasan Energi Fosil Bisa Dorong Harga Minyak ke US$ 150/Barel
JAKARTA, Investortrust.id - Kepala Riset Ekuitas EMEA JPMorgan, Christyan Malek, memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak Brent baru-baru ini bisa terus naik hingga $150 per barel pada tahun 2026, hal ini ia sampaikan melansir hasil penelitian baru, Jumat (22/9/2023).
Menurutnya beberapa pendorong potensi harga mencapai $150 tersebut, termasuk gangguan kapasitas, supercycle energi, dan tentu saja, upaya pembatasan penggunaan bahan bakar fosil.
Supercycle energi adalah istilah yang merujuk pada periode panjang di mana harga energi, khususnya minyak dan gas bumi mengalami kenaikan yang signifikan dan berkelanjutan.
Baru-baru ini, harga minyak mentah telah melonjak berkat pemotongan produksi OPEC+, yang sebagian besar dipimpin oleh Arab Saudi. Arab Saudi sendiri mengurangi pasokan hampir sebanyak 1 juta barel per hari dari pasar.
Peningkatan harga juga terjadi menyusul larangan ekspor bahan bakar dari Rusia. Peningkatan permintaan minyak mentah berbarengan dengan pembatasan pasokan telah mendorong harga minyak mentah naik dan berkontribusi pada peningkatan harga konsumen.
Harga minyak mentah di Brent diperdagangkan sekitar U$93,55 pada Jumat sore (22/9/2023). Namun Malek memperkirakan harga di Brent akan berada di kisaran antara US$90 dan US$110 tahun depan, dan bahkan bisa lebih tinggi pada tahun 2025.
"Pasang sabuk pengaman Anda. Ini akan menjadi super siklus yang sangat bergejolak," kata Malek kepada Bloomberg, seraya memperingatkan tentang pemotongan produksi OPEC dan kurangnya investasi dalam produksi minyak baru.
Pada bulan Februari tahun ini, JPMorgan mengatakan bahwa harga minyak tidak mungkin mencapai US$100 per barel tahun ini, kecuali terjadi peristiwa geopolitik besar yang mengguncang pasar, dan potensi bahwa OPEC+ bisa menambahkan sebanyak 400.000 barel per hari ke pasokan global.
Situasi di atas juga baru bisa terjadi jika pemulihan ekspor minyak Rusia pada pertengahan tahun ini terlaksana. Pada saat itu, JPMorgan memperkirakan pertumbuhan permintaan sebanyak 770.000 barel per hari dari China, satu jumlah yang lebih rendah dari perkiraan IEA dan OPEC.
Saat ini JPMorgan melihat ketidakseimbangan pasokan dan permintaan global sebesar 1,1 juta barel per hari pada tahun 2025, dan bergerak menjadi defisit sebesar 7,1 juta barel per hari pada tahun 2030 karena permintaan yang kuat terus bertabrakan dengan pasokan yang terbatas.

