Paradoks, EBT Banyak Namun Impor Energi Fosil Besar
JAKARTA, investortrust.id - Deputi III Kementerian Koordinator bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Rachmat Kaimuddin mengatakan, Indonesia memiliki potensi renewable energy atau energi baru terbarukan (EBT) yang luar biasa. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat potensinya 3.600 gigawatt dari EBT, tetapi hal ini memiliki paradoks.
“Paradoksnya, 86% (penggunaan energi) masih dari fosil. Jadi, kondisi ekonomi kita masih banyak (menggunakan energi) fosil. Kemudian untuk LPG, untuk masak, 80% hingga 90% juga diimpor. Jadi, punya banyak renewable tapi masih banyak pakai fosil, fosilnya diimpor pula. Itu PR kita,” kata dia dalam diskusi Energy Transition Outlook 2025, yang digelar daring, Kamis (5/12/2024)
Baca Juga
Stimulus dan Perbaikan Infrastruktur, Tarik Dana Asing Long Term
Rachmat menjelaskan banyak bahan bakar fosil lain yang diimpor. Misalnya bahan bakar mineral (BBM).
"Pemakaian BBM untuk transportasi 60%-nya berasal dari impor,” tutur dia.
Perlu Ikuti Jalur Benar
Ia menegaskan, pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia perlu mengikuti jalur yang benar. Langkah ini perlu disertai dengan pemberian nilai tambah atau hilirisasi pada komoditas sumber daya alam yang dimiliki Indonesia.
“Yang kita lakukan membuat nilai tambah. Punya mineral banyak tapi (akan) habis, mumpung belum habis berikan nilai tambahnya,” kata Rachmat.
Rachmat menilai target pertumbuhan ekonomi dapat dicapai, dengan swasembada energi yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, dengan menjaga upaya menuju net zero emission (NZE) pada 2060.
Dia menjelaskan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa memanfaatkan mineral kritis yang dimiliki. “Tapi, yang kita punya ini bukanlah tak terbatas, suatu ketika habis,” tandas dia.
Baca Juga
Dalam paparannya, Rachmat menunjukkan ruang hilirisasi di Indonesia masih terbuka lebar. Dia menyatakan, saat ini, kompleksitas produk yang dimiliki Indonesia baru mencapai 40%.
“Nilai tambahnya masih relatif belum banyak. Ini dibandingkan Cina yang mengekspor green product sebesar 80%,” ucap dia.

