ESDM Sebut Harga Listrik EBT Dekati Energi Fosil, Ada yang di Bawah 6 Sen/kWh
JAKARTA, Investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut harga listrik dari energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia semakin bersaing dengan energi listrik berbasis fosil. Bahkan ada sejumlah EBT yang lebih efisien sehingga membuat seumber energi ini mulai dilirik investor.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana mengatakan, sumber energi yang mulai terlihat kompetitif dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan angin (PLTB). Untuk PLTB, Dadan menjelaskan, pada 2016, saat persetujuan kontrak listrik PLTB Sidrap dan PLTB Janeponto, harga listrik dari sumber tersebut masih US$ 0,109 atau 10,9 sen AS per kilowatt hour (kWh).
"Dibandingkan 6-7 tahun lalu, harganya sekarang sudah di bawah 6 sen AS (US$ 0,06) per kWh. Apalagi sekarang ada kontrak baru dengan PLTB di Kalimantan Selatan dengan kapasitas 75 megawatt (MW)," ujarnya dikutip Senin (18/12/2023).
Di samping itu, ada juga PLTS Cirata di Jawa Barat yang mampu menghasilkan listrik dengan harga 5,8 sen AS per kWh. Dadan mengatakan bahan bakar fosil misal batu bara membutuhkan sekitar 0,7-0,8 kg untuk menghasilkan listrik 1 kWh.
Baca Juga
Potensi EBT Indonesia Capai 3.687 GW, Ternyata Baru Dimanfaatkan 12.817 MW
Dia menegaskan jika harga batu bara acuan (HBA) saat ini mencapai US$ 125-130 per ton maka harga listrik dari EBT mulai bersaing dengan bahan bakar fosil. "EBT sekarang sudah masuk skala keekonomian sehingga sekarang tidak ada alasan lagi untuk tidak memakai EBT," tuturnya.
Sebelumnya, firma multinasional Ernst & Young (EY) mengungkap harga listrik dari bahan bakar fosil di Indonesia berada di angka 5 sen AS per kWh. Energy Transition and Climate Partner di EY Singapura, Gilles Pascual mengungkap penutupan pembangkit listrik berbasis fosil bakal membuat harga listrik EBT semakin kompetitif.
"Apabila dilihat dari harga solar, kita bisa mencapai misal 5 sen AS kWh. Bila hambatan struktural dari sisi kebijakan sudah ditangani dan lebih banyak proyek energi terbarukan dijalankan di Indonesia, maka akan terlihat semakin jelas bahwa harga pembangkitan listrik dari energi terbarukan lebih kompetitif dari bahan bakar fosil," katanya dalam diskusi publik bertema 'Mengatasi Hambatan Pembiayaan Energi Terbarukan di Indonesia' yang digelar Yayasan Indonesia Cerah secara daring pada Rabu (13/12/2023). (CR-14)
Baca Juga

