Bioenergi Bisa Gantikan Energi Fosil, Sudah Sumbang Hampir 65% di Bauran EBT
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa pengembangan bioenergi dapat mensubstitusi energi fosil di sektor kelistrikan, transportasi, industri, hingga rumah tangga. Apalagi, potensi bioenergi itu sendiri sangat besar di Indonesia.
Koordinator Investasi dan Kerja Sama Bioenergi Direktorat Jenderal EBTKE, Trois Dilisusendi menyebutkan, bioenergi adalah bagian dari renewable energy yang paling lengkap.
“Bioenergi bisa menggantikan seluruh energi fosil. Bisa di kelistrikan sebagai pembangkit bioenergi, bisa untuk transportasi sebagai pengganti BBM. Kita punya bio-diesel, bio-ethanol, bio-avtur. Bisa juga untuk industri dan rumah tangga,” kata Trois dalam acara METI Green Talk, Senin (30/9/2024).
Baca Juga
Kapasitas Terpasang Pembangkit Bioenergi Baru 27 MW, Masih Butuh Beleid untuk Akselerasi PLTBm
Terkait dengan potensi bioenergi, Trois mengungkapkan, Indonesia memiliki potensi bioenergi dari sumber biomassa yang apabila dikonversi menjadi listrik setara dengan 56,97 gigawat (GW).
“Di mana sangat kita pahami, bahwa sesuai dengan kebijakan energi nasional (KEN), pemerintah ingin menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) di tahun 2025 adalah 23%,” ujar dia.
Lebih lanjut Trois memaparkan, saat ini capaian bauran EBT nasional berada di angka 13,3%. Namun, lebih dari setengahnya atau sekitar 7% dari angka tersebut disumbang oleh bioenergi.
“Hal yang sama juga terjadi di dunia. Saat kita bicara dengan IRENA, mereka menyampaikan bahwa tahun 2021, seluruh dunia, EBT ini hampir 18%, dan bioenergi menyumbang 12%,” terang Trois.
Baca Juga
Sasar Limbah Kelapa, Jokowi: Berpotensi Jadi Bioenergi dan Bioavtur
Maka dari itu, bioenergi dipandang sebagai energi terbarukan yang sangat vital dalam upaya mewujudkan target net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat. Di tahun 2025, pemerintah menargetkan pembangkit bioenergi harus meng-generate 5,5 GW.
Untuk penggunaan biomassa yang memang disiapkan sebagai pengganti batu bara, dipasang target 10,2 juta ton untuk 2025. Sedangkan saat ini, realisasi penggunaan baru di angka 7,5 juta ton.
“Kemudian kita punya biofuel, Target 2025, 13,9 juta KL, dan realisasi sudah mendekati 13,1 juta KL. Ini baru kita bicara di B35. Insya Allah tahun depan kita akan masuk dengan B40,” ungkapnya.
Sementara itu untuk biogas, yang notabenenya diproyeksikan untuk menggantikan natural gas, dipasang target 490 juta meter kubik. Adapun capaian hingga saat ini di atas sekitar 340 juta meter kubik.

