Kisah Petani yang Terdampak Kekeringan Ekstrem di Demak
Demak, Investortrust.id – Siang itu Pak Sadikun (70 tahun) hanya bisa membuat tanggul-tanggul dari tanah kering di lahan yang ia kelola di Desa Sambung, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, Sabtu (19/9/2026). Tak banyak yang bisa ia lakukan. Pak Sadikun keluar rumah pagi dan sebelum makan siang sudah kembali ke rumah.
Sawah yang ia garap tidak terlalu luas dan tentu saja bukan miliknya. Pak Sadikun hanya buruh tani yang menggarap sawah sesuai perintah. Ia dan kawan-kawan menanam produk hortikultura yang tahan panas dan tidak membutuhkan banyak air seperti semangka, melon dan kacang hijau. Namun, musim kemarau kali ini lebih panjang dari tahun kemarin akibat fenomena Super El Niño.
Pemanasan suhu permukaan laut yang luar biasa kuat di Samudra Pasifik melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Menyebabkan kekeringan parah dan juga karhutla di Kalimantan. Di Demak, Super El Niño atau El Niño Godzilla menyebabkan kekeringan ekstrem dan krisis air bersih. Pak Sadikun mengatakan bahwa untuk mandi pun susah. "Kami harus membeli satu gembes (istilah lokal untuk jeriken) senilai Rp 5.000 untuk mandi dan cuci piring." Ujarnya dalam bahasa Jawa.
"Untuk lahan yang saya kelola ini, airnya menunggu pembagian dari waduk Pak. Nanti ada aliran air dari Waduk Dungombo (Kedung Ombo -Red), tapi masih menunggu pembagian." tukas pak Sadikun saat ditanya bagaimana ia akan mendapatkan air bila hujan belum juga turun. "Ya kapannya saya nggak tahu, saya nunggu boss saja." jawabnya sambil terkekeh.
Suhu tertinggi yang tercatat di wilayah Semarang-Demak di Jawa Tengah mencapai sekitar 38,5°C hingga 39°C selama puncak bulan-bulan kering Super El Niño, Maret-September 2026. Mengenai tingkat keparahan kekeringan, tahun 2026 secara resmi diakui sebagai salah satu episode kekeringan terburuk dan terintensif dalam sejarah baru-baru ini, melampaui tingkat keparahan krisis 2019.
Di Demak saja, kekeringan ekstrem menyebabkan kekurangan air bersih yang meluas yang memengaruhi lebih dari 33.000 penduduk di 21 desa. Pada medio September, Bupati Demak dr. Hj. Eisti’anah, S.E., memberikan arahan agar berbagai potensi dampak kemarau dipetakan dan diantisipasi sejak awal, termasuk kekeringan, krisis air bersih dan kebakaran.
“Jangan sampai kita bergerak setelah persoalan terjadi. Mari melangkah lebih cepat sebelum masalah membesar,” kata Bupati Eisti’anah. Ia juga mengimbau para petani untuk memilih tanaman yang tidak membutuhkan banyak air, seperti dikutip dari Jateng Daily.
Tidak jauh dari lahan Pak Sadikun, Pak Nyono yang dibantu dua rekannya juga sedang menggarap lahan yang baru saja dipanen melon dan kacang hijau. Ia bertutur bahwa kemarau kali ini membuat pendapatan menurun. "Saya jual semangka ini (dari lahan seluas satu bau) hanya dapat Rp 6 juta pak. Untuk masa tanam 50 hari. Jadi mepet sekali dengan modalnya." Investortrust sempat dijamu sebutir semangka di teras rumah yang menghadap sawah.
Sebutir semangka seberat 5-6kg dijual oleh pak Nyono kepada pengepul seharga Rp. 20.000. Sementara pengamatan Investortrust, di kota-kota besar, harga semangka berkisar antara Rp 18.000-20.000/kg. Jadi satu butir semangka yang disajikan untuk Investortrust siang itu, bila di kota berharga Rp 120.000, namun di lahan pak Nyono, bisa ditukar dengan selembar 20 ribuan.
Kepala Bagian Darurat dan Logistik di BPBD Demak, Suprapto, mengungkapkan bahwa ribuan warga di berbagai kecamatan mengalami hambatan pasokan. "Masalahnya adalah tidak ada hujan, dan kemudian sumber mata air alami dan sistem air komunitas (Pamsimas)—yang bahan bakunya bersumber langsung dari sungai atau sumur dangkal/dalam—telah berhenti menghasilkan sama sekali."
Pemerintah daerah terpaksa menyatakan status siaga darurat kekeringan resmi. Mengeringnya sungai-sungai besar mengakibatkan sistem pasokan mengalami kemacetan, memaksa ketergantungan yang besar pada tangki air darurat yang dikerahkan oleh badan penanggulangan bencana.
