Starlink Banting Harga Perangkat, Begini Tanggapan Telkomsel
JAKARTA, investortrust.id - PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) akhirnya angkat bicara terkait dengan polemik banting harga perangkat Starlink setelah resmi meluncur di Indonesia beberapa waktu lalu.
Seperti diketahui, SpaceX Corp memberikan penawaran khusus bagi pelanggan Starlink di Indonesia. Penawaran berupa potongan harga atau diskon itu diberikan tak lama setelah layanan tersebut resmi diluncurkan pada Minggu (19/5/2024) di Denpasar, Bali.
Penawaran khusus yang ditawarkan adalah penurunan harga perangkat keras Starlink untuk layanan residensial (rumah) dan jelajah (bepergian). Kini, perangkat tersebut dibanderol dengan harga Rp 4,68 juta dari sebelumnya Rp 7,8 juta.
Vice President Corporate Communications Telkomsel Saki Hamsat Bramono meminta pemerintah dapat terus berlaku adil terhadap seluruh penyelenggara layanan telekomunikasi di Tanah Air, termasuk Starlink. Hal tersebut diharapkan dapat mendorong inovasi dan pembangunan infrastruktur serta industri telekomunikasi yang lebih baik dan sehat.
Baca Juga
Ternyata Begini Cara Starlink Agar Layanannya Tak Dipakai RT/RW Net
"Mulai dari kewajiban pendirian badan usaha yang berkedudukan di Indonesia, penerapan kebijakan perpajakan, kewajiban pembayaran PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), kewajiban pemenuhan QoS (Quality of Services), TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri), hingga aspek potensi interferensi, aspek perlindungan dan keamanan data, serta aspek kedaulatan bangsa," katanya kepada Investortrust, dikutip Senin (27/5/2024).
Saki menyatakan pihaknya meyakini kondisi industri telekomunikasi di Indonesia sangat dinamis yang mana persaingan memang menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Pihaknya menilai kompetisi yang sehat akhirnya akan mendatangkan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi serta kemajuan bangsa dan negara secara keseluruhan.
Terkait persaingan Telkomsel dengan Starlink, Saki menjelaskan teknologi satelit memiliki perbedaan mendasar dengan teknologi kabel serat optik (fixed broadband) maupun seluler (mobile broadband). Internet berbasis satelit, seperti yang ditawarkan Starlink, sangat bermanfaat untuk menjangkau wilayah-wilayah pelosok yang secara geografis sulit dijangkau oleh infrastruktur telekomunikasi kabel fiber optik.
"Namun untuk kawasan urban, teknologi satelit masih menghadapi sejumlah kendala. Di daerah perkotaan, banyaknya bangunan vertikal dan berbagai hambatan lainnya dapat menyebabkan redaman propagasi yang bisa mengurangi stabilitas jaringan satelit," paparnya.
Baca Juga
Starlink Berpotensi Predatory Pricing, Menkominfo: Bukan Ranah Kami untuk Menilai
Sebelumnya, Direktur Jenderal Penyelenggara Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Dirjen PPI Kemenkominfo) Wayan Toni Supriyanto mengatakan banting harga perangkat Starlink sama halnya dengan operator telekomunikasi lainnya di Indonesia. Ketika baru saja meluncur, mereka menghadirkan beragam promosi untuk menarik lebih banyak pelanggan baru.
"Dari dulu semua operator telekomunikasi selalu menawarkan harga yang bersaing untuk menarik pelanggan. Tentunya pelanggan bisa menentukan sendiri dengan banyaknya pilihan sesuai kemampuannya," katanya ketika dihubungi oleh Investortrust pada Rabu (22/5/2024).
Wayan memastikan Starlink mendapatkan perlakuan yang sama dengan operator telekomunikasi lainnya di Tanah Air. Operasional layanan internet berbasis satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO) itu sudah sesuai dengan Undang-Undang No. 39/1999 tentang Telekomunikasi dan sederet aturan turunannya yang mengatur secara detail.
"Regulasi dari kami (Kemenkominfo) tidak ada yang mengatur tarif. Semuanya diserahkan ke mekanisme pasar. Namun, kami selalu mengawasi dari sisi kualitas layanannya. Jangan sampai merugikan pelanggan," tuturnya.

