Starlink Banting Harga, Begini Tanggapan Asosiasi ISP
JAKARTA, investortrust.id - Pemberian diskon harga perangkat khusus untuk pelanggan Starlink di Tanah Air mengejutkan beberapa pihak, tak terkecuali Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Asosiasi penyedia layanan internet (internet service provider/ISP) itu mengaku tak tahu menahu perihal diskon tersebut.
Ketua Umum APJII Muhammad Arif Angga mengaku belum menerima pemberitahuan dari PT Starlink Services Indonesia selaku entitas bisnis Starlink di Indonesia terkait diskon tersebut. Informasi mengenai diskon perangkat Starlink dia dapatkan dari pemantauan yang dilakukan oleh sejumlah anggota APJII.
"Terkait tiba-tiba diskon setelah Elon Musk mengumumkan [peluncuran] kemarin di Bali terus terang saya enggak tahu. Saya tahu dari beberapa rekan APJII yang memonitor harga Starlink, terutama dari sisi perangkat," katanya kepada Investortrust pada Senin (20//5/2024).
Lebih lanjut, Arif mengungkapkan bahwa Starlink sudah terdaftar sebagai anggota APJII. Bergabungnya Starlink menjadi anggota APJII lebih cepat dari pernyataan asosiasi tersebut sebelumnya, yakni mulai Juni 2024.
Baca Juga
"Mereka [Starlink] sudah resmi menjadi anggota APJII karena izin penyelenggaraan ISP mereka sudah keluar dari Kemenkominfo [Kementerian Komunikasi dan Informatika]," ungkapnya.
Sebelumnya Arif menyebut pihaknya sudah berkomunikasi dengan Starlink Services Indonesia agar harga perangkat maupun layanan yang sudah ditetapkan saat ini tidak mengalami perubahan.
"APJII sudah bicara ke mereka [Starlink Services Indonesia] kalau bisa harganya jangan terlalu murah, tetap normal saja. Jadi, setidaknya industri tetap sehat. Kalau harganya dibanting-banting, ada harga khusus di Indonesia akan merusak ekosistem," katanya ketika ditemui di Menara Tendean, Jakarta Selatan, Rabu (15/5/2024).
Dia menyebut Starlink mungkin saja menawarkan harga khusus untuk pengguna layanannya di Indonesia. Sebab, strategi tersebut bukan pertama kalinya dilakukan oleh perusahaan milik Elon Musk itu.
"Hal itu [harga khusus untuk Indonesia] mungkin terjadi. Saya enggak bilang pasti, tetapi mungkin saja terjadi," ujar dia.
Baca Juga
Starlink Berpotensi Mendisrupsi Layanan Seluler, Ini Alasannya
Apa yang disampaikan oleh Arif bukan tanpa dasar. Starlink sudah berhasil menggeser peran operator telekomunikasi lokal lewat strategi "banting harga" di Nigeria.
Setelah memangkas harga perangkat kerasnya hingga 45% untuk pasar Nigeria, jumlah pelanggannya langsung melejit mengalahkan jumlah pelanggan operator telekomunikasi lokal.
Mengutip Nairametric pada Senin (20/5/2024), harga perangkat keras Starlink di Nigeria tadinya dibanderol 800.000 naira kini hanya dipatok senilai 440.000 naira dengan biaya bulanan 38.000 naira. Jumlah pelanggannya di Nigeria hingga kuartal-III 2023 diketahui mencapai 11.207 yang sudah melampaui pelanggan operator lokal.
Seperti diketahui, SpaceX Corp memberikan penawaran khusus bagi pelanggan Starlink di Indonesia. Penawaran berupa potongan harga atau diskon itu diberikan tak lama setelah layanan tersebut resmi diluncurkan pada Minggu (19/5/2024) di Denpasar, Bali.
Baca Juga
Penawaran khusus yang ditawarkan adalah penurunan harga perangkat keras Starlink untuk layanan residensial (rumah) dan jelajah (bepergian). Kini, perangkat tersebut dibanderol dengan harga Rp 4,68 juta dari sebelumnya Rp 7,8 juta.
“Menjelajah bersama Starlink, penawaran untuk pelanggan awal - berakhir 10 Juni Rp 4,68 juta untuk perangkat keras,” demikian informasi yang dikutip dari situs resmi Starlink, Senin (20/5/2024).
Sebagai catatan, layanan Starlink terdiri atas tiga jenis paket yang bisa dipilih pelanggan, mulai dari residensial (rumah), jelajah (berpergian), dan kapal (perairan).
Untuk paket residensial, biaya berlangganan layanan standar Starlink untuk paket residensial Rp750.000 per bulan dengan kuota tanpa batas (unlimited). Kemudian untuk paket jelajah internet berkecepatan tinggi biaya langganannya adalah Rp990.000 per bulan (mobile regional) dan Rp 4,34 juta per bulan (prioritas mobile 50 GB).
Starlink juga menyediakan paket layanan untuk kebutuhan kapal atau perairan. Layanan tersebut dapat dinikmati dengan biaya berlangganan mulai dari Rp 4,34 juta per bulan dengan biaya perangkat keras senilai Rp 43,73 juta.
Selain perangkat keras dan biaya berlangganan bulanan, pelanggan layanan internet berbasis satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO) itu harus membayar biaya pengiriman sebesar Rp 345.000 ke seluruh Indonesia.

