ISP Lokal Takut Starlink Banting Harga
JAKARTA, investortrust.id - Penyedia layanan internet (Internet Service Provider/ISP) khawatir Starlink bakal "banting harga", demi menarik lebih banyak pelanggan di Tanah Air.
Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Muhammad Arif Angga menyebut, Starlink bisa saja menawarkan harga khusus untuk pengguna layanannya di Indonesia. Sebab, strategi tersebut bukan pertama kalinya dilakukan oleh penyedia layanan internet berbasis satelit orbit rendah (Low Earth Orbit/LEO) itu.
"Hal itu (harga khusus untuk Indonesia) mungkin terjadi. Saya enggak bilang pasti, tetapi mungkin saja terjadi," katanya ketika ditemui di Menara Tendean, Jakarta Selatan, Rabu (15/5/2024).
Apa yang disampaikan oleh Arif bukan tanpa dasar. Starlink sudah berhasil menggeser peran operator telekomunikasi lokal lewat strategi "banting harga" di Nigeria.
Setelah memangkas harga perangkat kerasnya hingga 45% untuk pasar Nigeria, jumlah pelanggannya langsung melejit mengalahkan jumlah pelanggan operator telekomunikasi lokal.
Baca Juga
Menko Luhut: Starlink Bantu Layanan Kesehatan dan Pendidikan di Wilayah Terpencil
Mengutip Nairametric pada Rabu (15/5/2024), harga perangkat keras Starlink di Nigeria tadinya dibanderol 800.000 naira kini hanya dipatok senilai 440.000 naira dengan biaya bulanan 38.000 naira. Jumlah pelanggannya di Nigeria hingga kuartal-III 2023 diketahui mencapai 11.207 yang sudah melampaui pelanggan operator lokal.
Terkait dengan kekhawatiran dijalankannya strategi "banting harga", Arif mengaku pihaknya sudah berkomunikasi dengan PT Starlink Services Indonesia selaku entitas bisnis Starlink di Indonesia. Harapannya, harga yang sudah ditetapkan saat ini tidak mengalami perubahan.
"APJII sudah bicara ke mereka (Starlink Services Indonesia) kalau bisa harganya jangan terlalu murah, tetap normal saja. Jadi, setidaknya industri tetap sehat. Kalau harganya dibanting-banting, ada harga khusus di Indonesia akan merusak ekosistem," tegasnya.
Saat ini, harga layanan termurah Starlink yang ditawarkan di Indonesia adalah paket standar untuk pelanggan pribadi tanpa batas penggunaan (unlimited) adalah Rp750.000 per bulan. Selain biaya berlangganan, di awal berlangganan pelanggan juga harus membayar biaya senilai Rp 7.800.000 untuk perangkat keras dan biaya pengiriman sebesar Rp 345.000 ke seluruh Indonesia.
Selain itu, Arif juga berharap kebijakan pemerintah untuk mengatur Starlink agar jangan sampai menggilas operator telekomunikasi lokal. Karena bagaimanapun juga operator telekomunikasi lokal berkontribusi besar terhadap pendapatan negara dan pengembangan jaringan telekomunikasi, khususnya akses internet.
"Kita ini harus punya national interest (kepentingan nasional). Pemerintah ini national interest-nya apa? Apakah ingin pemerataan (akses internet)? ISP yang sudah puluhan tahun beroperasi mungkin harus dipikirkan juga," ujarnya.
Baca Juga
Kunjungi Bali, Elon Musk Bakal Resmikan Operasional Starlink di Indonesia
Menurut Arif, sebagai regulator, pemerintah seharusnya ikut memikirkan bagaimana nasib ekosistem yang sudah terbangun. Jangan sampai ekosistem tersebut rusak karena kedatangan pemain baru dari luar negeri yang hadir dengan kekuatan modal dan teknologinya.
"Ekosistemnya harus dipikirkan juga, bukan hanya semua dimasukkan. Kita juga enggak ingin seperti itu. Harus ada filterisasi dari pemerintah yang punya kuasa, punya national interest (kepentingan nasional) untuk infrastruktur, terutama yang vital seperti telekomunikasi," imbuhnya.
Bantu Layanan Kesehatan dan Pendidikan
Terpisah, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menilai kehadiran Starlink bakal membantu layanan publik, khususnya Kesehatan dan pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Dengan adanya Starlink komunikasi kita di daerah terpencil itu akan sangat bagus. Jadi, nanti masalah kesehatan dan pendidikan akan sangat-sangat banyak terbantu,” katanya ketika ditemui usai Konferensi Pers Ekspedisi Bersama Indonesia - OceanX, di Badung, Bali, Rabu (15/5/2024),
Menurut Luhut, persoalan akses internet yang belum merata sebenarnya tidak hanya di luar Jawa. Masih ada beberapa titik di Jawa yang belum tersentuh akses internet dan Starlink diharapkan bisa menjadi solusi.
“Banyak area di Indonesia ini yang enggak di-cover (akses internet). Di selatan Jawa itu masih banyak daerah yang belum terhubung dengan baik. Di Bali pun masih ada area-area yang spot-nya enggak bagus. Jangankan di Papua, NTB (Nusa Tenggara Barat), dan Nusa Tenggara Timur (NTT),” ujarnya.
Terkait dengan kehadiran Starlink yang dikhawatirkan mengancam operator telekomunikasi nasional, Luhut menegaskan kompetisi merupakan sebuah keniscayaan. “Semua kan harus berkompetisi,” tegasnya.
Sebelumnya, Luhut menyampaikan operasi komersial Starlink di Indonesia akan diresmikan langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) SpaceX Elon Musk dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di sela-sela gelaran World Water Forum ke-10 di Bali pada Minggu (19/5/2024).
“Elon Musk akan meresmikan (bersama dengan) Presiden Jokowi. Itu untuk mempermudah komunikasi kita di daerah-daerah terpencil dan akan dilakukan pada hari Minggu [19 Mei 2024],” katanya usai memberikan arahan di Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Bareskrim Polri di Bali, Selasa (14/5/2024).

