Starlink Banting Harga, Indosat (ISAT) Mau Ikutan?
JAKARTA, investortrust.id - PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) angkat bicara terkait strategi banting harga yang dilakukan oleh Starlink setelah resmi beroperasi di Indonesia pada Minggu (19/5/2024). Strategi Starlink itu dianggap perlu diikuti oleh komitmen pemerataan akses internet di wilayah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T).
Seperti diketahui, SpaceX Corp memangkas harga perangkat keras untuk layanan residensial atau rumah dan jelajah atau bepergian dari Rp 7,8 juta menjadi Rp 4,68 juta. Diskon tersebut diberikan kepada pelanggan yang mendaftar atau mengajukan layanan sampai dengan 10 Juni 2024.
Senior Vice President (SVP) Head of Corporate Communications IOH Steve Saerang menilai kehadiran operator telekomunikasi baru seperti Starlink bisa menyelesaikan persoalan akses internet yang belum merata. Untuk itu, dia berharap Starlink bisa diarahkan untuk fokus memberikan layanan di wilayah 3T, khususnya wilayah Indonesia bagian timur.
"Indosat fokus memerdekakan Indonesia timur supaya mereka bisa mendapatkan akses yang sama seperti yang ada di metropolitan di daerah Jawa. Kami berharap hal yang sama juga dapat dilaksanakan oleh pemain-pemain yang baru ada di Indonesia dengan komitmennya untuk memerdekakan daerah pelosok," katanya ketika ditemui di Kantor Pusat IOH, Jakarta Pusat Senin (20/5/2024).
Baca Juga
Starlink Berpotensi Mendisrupsi Layanan Seluler, Ini Alasannya
Sejauh ini, menurut Steve kehadiran Starlink belum akan berpengaruh terhadap bisnis operator seluler. Hal ini karena masing-masing layanan telekomunikasi, termasuk layanan seluler punya segmen pelanggan tersendiri sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan kemampuan mereka.
"Masyarakat ingin produk yang berkualitas dan layanan yang mereka andalkan. Fokus itu membuat kami ingin memberikan layanan terbaik kepada masyarakat Indonesia yang kami sebut sebagai marvelous experience," tuturnya.
Steve mengeklaim IOH sudah mengetahui layanan yang dibutuhkan masyarakat Indonesia, khususnya pelanggan IOH yang jumlahnya mencapai 100,7 juta pelanggan. Untuk itu, IOH percaya diri dan dengan tegas menyatakan tidak akan ikut-ikutan banting harga atau memangkas harga layanan.
"Kalau ditanyakan apakah kami takut? Otomatis kami akan menyampaikan bahwa kami akan tetap fokus untuk memberikan pelayanan terbaik buat customer (pelanggan) kami dengan harga yang ada saat ini," tegasnya.
Baca Juga
Sebelumnya, Director & Chief Business Officer IOH M Danny Buldansyah berharap ada regulasi yang mampu mencegah adanya persaingan tidak sehat setelah hadirnya Starlink. Salah satunya adalah praktik jual rugi atau predatory pricing untuk menjaring banyak pelanggan.
"Pada intinya, kita bersaing yang penting ada regulasi yang mengatur dan di level playing field yang sama, tidak ada keberpihakan," katanya ketika ditemui di Kantor Pusat IOH, Jakarta Pusat, Kamis (18/4/2024).
Danny menyebut Starlink bukanlah satu-satunya pemain di layanan internet berbasis satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO). Bukan tidak mungkin mereka semua akan hadir di Indonesia menyusul Starlink yang sudah diberikan lampu hijau oleh pemerintah.
"Setahun lagi ada OneWeb, Quipper, dan operator lain yang berbasis satelit LEO akan menjadi saingan Starlink. Sekarang bagaimana pemerintah, apakah memperbolehkan semua produk itu masuk Indonesia atau akan disaring lagi," tuturnya.

