Indosat (ISAT) Mau Ajak Starlink Bantu Kembangkan Sektor Pertahanan dan Perikanan
JAKARTA, investortrust.id - PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison membuka peluang kolaborasi dengan operator telekomunikasi berbasis satelit, termasuk Starlink guna mengembangkan layanan yang dapat mendukung aktivitas di sektor pertahanan dan perikanan.
President Director and Chief Executive Officer IOH Vikram Sinha mengatakan kehadiran operator telekomunikasi baru seperti Starlink akan membantu percepatan perluasan jaringan telekomunikasi sampai ke pelosok Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya mengupayakan adanya kolaborasi yang tidak terbatas pada satu perusahaan saja.
"Ini bukan sebuah kompetisi, IOH melihat adanya pemain baru yang hadir dengan teknologi seperti satelit akan membantu percepatan (perluasan jaringan IOH) sampai ke daerah pelosok. Indosat membuka pintu kolaborasi untuk mengembangkan sektor pertahanan dan perikanan yang sedang kami jajaki tidak hanya satu perusahaan (operator telekomunikasi berbasis satelit)," katanya dalam Paparan Publik Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) IOH di Kantor Pusat IOH, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2024).
Selain Starlink, Vikram menyebut pihaknya sudah menjajaki kerja sama dengan OneWeb dan Kuiper yang mengoperasikan satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO). OneWeb memiliki 634 satelit yang selalu mengorbit bumi, sementara Kuiper yang merupakan perusahaan milik Amazon diketahui mengoperasikan 3.236 satelit.
Baca Juga
Sektor pertahanan dan perikanan dipilih lantaran sektor tersebut dinilai potensial. Tentunya, dipilihnya sektor tersebut juga tidak terlepas dari kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan.
"Sebelum memutuskan kolaborasi atau kerja sama, kami mempertimbangkan berbagai hal, mempertimbangkan harga, dan yang paling penting adalah memberdayakan masyarakat," tegasnya.
Selesaikan Persoalan Akses Internet
Pada kesempatan yang sama, Senior Vice President (SVP) Head of Corporate Communications IOH Steve Saerang menyebut kehadiran operator telekomunikasi baru seperti Starlink bisa menyelesaikan persoalan akses internet yang belum merata. Oleh karena itu, dia berharap Starlink bisa diarahkan untuk fokus memberikan layanan di wilayah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T), khususnya wilayah Indonesia bagian timur.
"Kalau ini bisa menambah (opsi layanan telekomumikasi) di sana akan sangat baik. Akan lebih baik jika pelanggan itu dikasih opsi yang lebih banyak. Itu juga memotivasi kita untuk memberikan kualitas layanan yang lebih baik. Kita enggak melihat itu sebagai sebuah kompetisi," ujarnya.
Baca Juga
Indosat: Kelanjutan Proyek Indonesia AI Nation Tergantung Gibran
Sejauh ini, menurut Steve, kehadiran Starlink belum akan berpengaruh terhadap bisnis operator seluler. Sebab, masing-masing layanan telekomunikasi, termasuk layanan seluler punya segmen pelanggan tersendiri sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan kemampuan mereka.
"Masyarakat ingin produk yang berkualitas dan layanan yang mereka andalkan. Fokus itu membuat kami ingin memberikan layanan terbaik kepada masyarakat Indonesia yang kami sebut sebagai marvelous experience," tuturnya.
Steve mengklaim IOH sudah mengetahui layanan seperti apa yang dibutuhkan masyarakat Indonesia, khususnya pelanggan IOH yang jumlahnya mencapai 100,7 juta. Oleh karena itu, pihaknya percaya diri dan dengan tegas menyatakan tidak akan ikut-ikutan banting harga atau memangkas harga layanan.
"Kalau ditanyakan apakah kami takut? Otomatis kami akan menyampaikan bahwa kami akan tetap fokus untuk memberikan pelayanan terbaik buat customer [pelanggan] kami dengan harga yang ada saat ini," tegasnya.
Baca Juga
Ini 3 Kewajiban yang Harus Dipenuhi Starlink untuk Beroperasi di Indonesia
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menilai kehadiran Starlink bakal membantu layanan publik, khususnya Kesehatan dan pendidikan di daerah 3T.
“Dengan adanya Starlink komunikasi kita di daerah terpencil itu akan sangat bagus. Jadi, nanti masalah kesehatan dan pendidikan akan sangat-sangat banyak terbantu,” katanya ketika ditemui usai Konferensi Pers Ekspedisi Bersama Indonesia - OceanX, di Badung, Bali, Rabu (15/5/2024),
Menurut Luhut, persoalan akses internet yang belum merata sebenarnya tidak hanya di luar Jawa. Masih ada beberapa titik di Jawa yang belum tersentuh akses internet dan Starlink diharapkan bisa menjadi solusi.
“Banyak area di Indonesia ini yang enggak di-cover [akses internet]. Di selatan Jawa itu masih banyak daerah yang belum terhubung dengan baik. Di Bali pun masih ada area-area yang spot-nya enggak bagus. Jangankan di Papua, NTB [Nusa Tenggara Barat], dan Nusa Tenggara Timur [NTT],” ujarnya.
Terkait dengan kehadiran Starlink yang dikhawatirkan mengancam operator telekomunikasi nasional, Luhut menegaskan kompetisi merupakan sebuah keniscayaan. “Semua kan harus berkompetisi,” tegasnya.

