Bisnis Tak Cukup Kejar Omzet, Profitabilitas dan Loyalitas Pelanggan Jadi Kunci Berusaha
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pelaku usaha perlu mengubah strategi bisnis dengan tidak hanya mengejar pertumbuhan omzet, tetapi juga memastikan profitabilitas, membangun loyalitas pelanggan, dan memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara tepat. Hal tersebut disampaikan CEO TOCO, Arnold Sebastian dalam paparannya mengenai strategi bisnis di era baru.
Menurut Arnold, salah satu tantangan pelaku usaha saat ini adalah kecenderungan untuk terlalu berfokus pada besarnya penjualan tanpa memperhitungkan keuntungan yang benar-benar diperoleh. Padahal, omzet yang tinggi tidak selalu mencerminkan bisnis yang sehat apabila biaya operasional dan pemasaran tidak dikelola dengan baik.
“These days, it's not about the numbers. It's about hasilnya,” ujar Arnold dalam presentasinya di acara Indonesia Digital Meetup 2026 di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, pelaku usaha perlu memahami berapa keuntungan yang tersisa setelah seluruh biaya diperhitungkan. Arnold menjelaskan, biaya produk, sewa, gaji karyawan, biaya pemasaran, hingga potongan dari platform penjualan dapat memengaruhi profitabilitas. Karena itu, pelaku usaha perlu menghitung margin keuntungan setiap produk dan mengevaluasi struktur biaya secara berkala.
Arnold menilai bahwa pemahaman terhadap angka-angka bisnis menjadi dasar untuk menentukan strategi yang tepat, termasuk mengidentifikasi produk yang paling menguntungkan dan pengeluaran yang perlu diperbaiki.
"Yang penting kita punya strategi. Yang terbaik. Untuk nanti biar mereka nanti balik lagi. Biar kita nanti punya customer itu. Ya, karena dari sana nanti dapat margin yang jauh lebih besar. Karena market sudah enggak perlu," ungkapbya.
Arnold juga menyoroti ketergantungan pelaku usaha terhadap marketplace sebagai salah satu tantangan dalam menjalankan bisnis di era digital. Ia menjelaskan bahwa marketplace memang dapat membantu penjual menjangkau pelanggan, tetapi biaya administrasi, komisi, dan iklan berpotensi mengurangi margin keuntungan.
Baca Juga
AI Buka Peluang UMKM Produksi Konten Berkualitas Tanpa Modal Besar
Arnold mengibaratkan marketplace sebagai kolam ikan tempat penjual harus terus mengeluarkan biaya untuk mendapatkan pelanggan. “Kalau berhenti bayar di kolam itu, kalian gak akan dapat ikan lagi. Bisnis langsung mati,” imbuhnya.
Melalui analogi tersebut, Arnold menggambarkan risiko bisnis yang terlalu bergantung pada platform pihak ketiga. Ketika penjual menghentikan aktivitas pemasaran berbayar, arus pelanggan baru berpotensi ikut menurun. Karena itu, ia mendorong pelaku usaha untuk mulai membangun saluran penjualan dan hubungan pelanggan yang tidak sepenuhnya bergantung pada marketplace.
Dalam kesempatan tersebut, Arnold juga memperkenalkan TOCO sebagai marketplace yang, menurut penjelasannya, tidak membebankan komisi kepada merchant. Pendekatan tersebut ditawarkan sebagai alternatif bagi pelaku usaha untuk mempertahankan lebih banyak hasil penjualannya. Meski demikian, ia menekankan pentingnya memahami struktur biaya dan memilih saluran penjualan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing bisnis.
CNah, itu filosofi kita. Jadi, itu janji kita selama lama, at least selama aku hidup. So by the way, ini mungkin penting buat kalian juga lihat sebenarnya. Karena itu potongan dari admin fee atau iklan atau lain-lain. Itu belum tentu semuanya. So, pasti juga harus beli barang dulu. Ada cost disana, ada sewa, ada karyawan mungkin dan lain-lain," paparnya.
