Aprindo: Masa Depan Ritel Indonesia Bukan Hanya Buka Gerai, Tapi Soal Hal Berikut Ini
Poin Penting
|
TOKYO, investortrust.id - Peluang pertumbuhan industri ritel Indonesia ke depan tidak hanya terletak pada penambahan gerai, tetapi juga pada kemampuan menghubungkan produsen, pusat distribusi, jaringan ritel, dan konsumen hingga wilayah yang semakin luas.
Perspektif tersebut disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin dalam Indonesia Country Report pada Asia-Pacific Retailers Convention and Exhibition (APRCE) 2026 di Tokyo, Jepang, 7-10 Oktober 2026.
Indonesia memiliki karakteristik konsumen dan kondisi geografis yang beragam. Dalam konteks tersebut, distribusi dan logistik menjadi elemen penting yang menopang akses masyarakat terhadap produk sekaligus membuka peluang pertumbuhan bagi industri ritel.
Dalam paparannya, Solihin menggambarkan rantai distribusi ritel sebagai sebuah ekosistem yang menghubungkan produsen, distribusi dan logistik, jaringan ritel, serta konsumen di pusat perkotaan, kota-kota sekunder, hingga wilayah perdesaan.
Rantai tersebut juga membuka peluang pengembangan infrastruktur dan layanan, mulai dari rantai dingin (cold chain), pergudangan, logistik, distribusi tahap akhir (last-mile distribution), hingga ritel digital dan pusat aktivitas ekonomi lokal. Bagi industri ritel, konektivitas ini penting untuk memperluas jangkauan pasar dan mendukung ketersediaan produk.
"Bagi konsumen, sistem distribusi yang semakin terhubung dapat mendukung kemudahan akses dan kontinuitas pasokan," tutur Solihin dalam keterangan yang diterima, Jumat (9/10/2026).
Baca Juga
Bapanas dan Aprindo Bakal "Guyur" 800.000 Ton Beras SPHP ke Ritel Modern
Perubahan perilaku konsumen turut memperkuat kebutuhan tersebut. Konsumen Indonesia semakin mengutamakan kemudahan, kedekatan, dan layanan digital. Pembayaran digital melalui QRIS serta integrasi pengalaman belanja melalui omnichannel juga menjadi bagian dari perkembangan ekosistem ritel.
"Namun, konektivitas ritel tidak hanya berkaitan dengan integrasi kanal penjualan. Infrastruktur fisik, jaringan distribusi, kemampuan pemasok, dan akses menuju wilayah yang beragam tetap menjadi fondasi penting agar produk dapat menjangkau konsumen secara efektif," tandasnya.
Bagi Aprindo, agenda penguatan industri membutuhkan dukungan kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha, regulasi yang dapat diprediksi, ketahanan rantai pasok, serta integrasi UMKM yang lebih mendalam.
Pendekatan ini membuka perspektif baru terhadap pertumbuhan ritel. Ekspansi tidak hanya diukur melalui jumlah gerai yang dibangun, tetapi juga melalui kemampuan industri menciptakan jaringan yang menghubungkan lebih banyak produsen, wilayah, dan konsumen.
Dengan karakteristik geografis Indonesia yang luas, penguatan konektivitas menjadi salah satu peluang strategis bagi industri ritel nasional sekaligus ruang kerja sama dengan mitra regional di Asia Pasifik.
Baca Juga
Aprindo Proyeksikan Omzet Ritel Bakal Melonjak hingga 20% di Ramadan dan Idulfitri
Ada lima isu yang dipertegas Aprindo di panggung Asia Pasifik. Penguatan daya beli konsumen, pengembangan ekosistem ritel–UMKM yang inklusif, penguatan ketahanan rantai pasok, percepatan transformasi digital dan keberlanjutan melalui green and sustainable retail, serta penguatan kolaborasi pemerintah dan industri.
APRCE 2026 dibuka oleh Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang berharap perhelatan APRCE 2026 dapat membahas isu-isu ritel dan memberikan kontribusi besar terhadap industri ini, khususnya di kawasan Asia Pasifik. Turut hadir Founder Alfamart Djoko Susanto bersama para pemimpin dan pelaku industri ritel dari berbagai negara. Partisipasi Indonesia di forum ini menjadi momentum untuk memperluas wawasan, membangun sinergi lintas negara, serta mendorong industri ritel yang semakin adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
