Rantai Pasok Otomotif Dibuka Lebih Lebar, UMKM Dibidik Jadi Pemasok Komponen
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk masuk lebih dalam ke rantai pasok industri otomotif nasional. Langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja.
Dorongan tersebut disampaikan dalam gelaran Automechanika Jakarta 2026. Kementerian UMKM menilai sektor otomotif membuka peluang bagi UMKM untuk berkembang dari sekadar pemasok tingkat bawah menjadi bagian dari rantai pasok industri, khususnya pada tier 2 dan tier 3.
"Kalau kita bicara industri ini ada dua hal. Pertama nilai tambah, yang kedua meningkatkan penyerapan tenaga kerja," ujar Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman kepada awak media belum lama ini.
Menurutnya, keberadaan UMKM dan Industri Kecil Menengah (IKM) tidak perlu dipertentangkan karena IKM pada dasarnya merupakan bagian dari UMKM yang telah berkembang dan bertransformasi ke sektor industri.
Dalam rantai pasok otomotif, peluang bagi UMKM dan IKM terbuka mulai dari penyediaan bahan baku hingga produksi berbagai komponen kendaraan. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan kelapa yang dapat diolah menjadi coco fiber dan kemudian digunakan sebagai bagian dari komponen kendaraan, seperti material untuk kursi maupun interior.
Baca Juga
"Ini menjadi penting, industri Indonesia bisa membangun komponen-komponen dari sebuah mobil. Tentunya kualitasnya akan dijaga sampai kepada original manufacturer (OM)," katanya.
Kementerian UMKM juga menyiapkan ekosistem kemitraan bisnis berbasis klaster melalui program Holding UMKM. Salah satu klaster yang dikembangkan adalah industri komponen otomotif.
Dalam pengembangan klaster tersebut, Kementerian UMKM menyebut telah menjalin kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk Astra, untuk memperluas pembinaan dan membuka akses UMKM yang berminat masuk ke sektor industri otomotif.
Sementara itu, salah satu perkumpulan industri komponen otomotif yang berada dalam pembinaan Kementerian Perindustrian disebut telah memiliki sekitar 900 IKM anggota. Jumlah tersebut dinilai masih dapat berkembang karena rantai bisnis otomotif tidak hanya mencakup produksi kendaraan, tetapi juga sektor purnajual seperti jasa servis dan berbagai kebutuhan pendukung lainnya.
Kementerian UMKM menilai skema kemitraan antara perusahaan besar dengan UMKM menjadi salah satu kunci untuk memperkuat hilirisasi industri. Pola tersebut dilakukan dengan terlebih dahulu melihat kebutuhan pasar dan perusahaan besar. Setelah kebutuhan tier 1 maupun original manufacturer diketahui, UMKM dapat diarahkan untuk memproduksi komponen yang dibutuhkan pada tier 2 dan tier 3.
"Kalau pasar sudah ada, berarti kita tarik mana yang bisa membuat tier 2 dan tier 3. Nah ini kita menghubungkan," ujarnya.
Model tersebut, lanjutnya, dapat menjadi contoh bagaimana rantai pasok industri dibangun dari hulu hingga hilir dengan melibatkan UMKM, IKM, dan industri besar. Dalam konteks tersebut, Kementerian UMKM juga melihat peluang untuk memperluas keterlibatan UMKM ke sektor lain, tidak hanya otomotif roda empat dan roda dua. Industri perkapalan juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan melalui pendekatan serupa.
"Bagaimana sebetulnya kita bicara hilirisasi. Dari bawah sampai ke atas itu kita terhubung. Jadi ada UMKM, industri besar," katanya.
