Menperin Minta Industri Otomotif Libatkan IKM Perkuat Rantai Pasok Otomotif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang mengungkapkan industri alat angkut masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya adanya importasi komponen otomotif yang mengalami peningkatan hingga 20% sepanjang periode Januari-September 2025.
"Memang terjadi kenaikan tahun lalu dan tahun ini, hampir 20% kenaikanya, dari US$ 2,29 miliar (periode 2024), dan sekarang US$ 2,42 miliar," ucap Menperin Agus dalam acara Link and Match 2025 di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (2/12/2025).
Menperin Agus menilai, kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap komponen impor masih kuat, dan hal tersebut berimplikasi langsung pada struktur biaya industri serta ketahanan rantai pasok nasional.
Oleh karena itu, menurut Agus Gumiwang, tantangan tersebut harus dijawab dengan memperkuat kemitraan antara IKM dan industri otomotif besar nasional. Ia menilai, penurunan impor komponen hanya akan tercapai apabila IKM mampu mengambil peran yang lebih besar sebagai pemasok utama dalam rantai pasok domestik.
"Kalau saja bisa kita manfaatkan, kita berikan peluang bagi industri-industri dalam negeri, industri-industri lokal, khususnya industri kecil menengah (IKM), subsitusi mpor akan berhasil, pendalaman struktur manufaktur kita juga akan tercapai, dan pasti akan menciptakan nilai tambah bukan hanya untuk manufaktur, tapi juga untuk perekonomian nasional," terangnya.
Baca Juga
Industri Otomotif Kontraksi Minus 10%, Menperin Agus 'Keukeuh' Perjuangkan Insentif di 2026
Untuk mendorong penguatan industri alat angkut tersebut, Kemenperin menggelar kerja sama kemitraan atau link and match antara industri besar yang berada pada naungan Astra Group dan dengan 36 industri kecil dan menengan (IKM) melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU).
Menperin Agus menilai, kerja sama antara industri besar dan IKM dalam sektor otomotif sudah diterapkan oleh sejumlah negara, yakni Jepang, Korea Selatan dan China. Hal tersebut memberikan fondasi yang kuat pada rantai pasok dan daya saing di industri otomotif, khususnya sektor komponen.
"Model seperti inilah yang menurunkan biaya produksi, menekan ketergantungan impor, dan meningkatkan daya saing global mereka. Di sinilah peran IKM komponen alat angkut Indonesia menjadi sangat strategis," ungkap Agus Gumiwang.

