Kadin Ungkap 6 Tantangan yang Dihadapi Dunia Usaha Saat Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyebut, setidaknya ada enam tantangan yang dihadapi dunia usaha saat ini, seiring dengan fragmentasi ekonomi global.
Menurut Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie, tekanan tersebut berasal dari gejolak geopolitik dan harga energi, disrupsi rantai pasok, perang dagang, perlambatan perdagangan dunia, persaingan investasi, serta disrupsi teknologi.
“Ekonomi global sedang tidak baik-baik saja. Dunia mengalami fragmentasi ekonomi dan terdapat enam tekanan eksteral yang sedang menekan ekonomi dunia hari ini,” ujarnya, dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi VI DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Anindya menjelaskan, gejolak geopolitik turut menyebabkan volatilitas harga energi. Harga minyak Brent yang sempat menembus US$ 126 per barel kini berada di sekitar US$ 75 per barel. Fluktuasi itu dinilai merugikan dunia usaha sekaligus meningkatkan beban subsidi energi negara.
Tekanan kedua berasal dari disrupsi rantai pasok (supply chain). Ia menyebut, ongkos angkut kapal meningkat sekitar 50% sejak terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz sehingga berdampak terhadap kenaikan biaya logistik.
Selanjutnya, perang dagang juga menjadi tantangan serius. Kerugian output ekonomi dunia diperkirakan mencapai US$ 2 triliun hingga akhir 2027. Sementara itu, Indonesia menghadapi tarif Amerika Serikat (AS) hingga 19% terhadap ekspor dengan nilai sekitar US$ 28 miliar per tahun.
“Keempat, perdagangan dunia melambat. Diperkirakan pertumbuhan perdagangan barang dunia 2026 hanya 1,9%, anjlok dari 4,6%,” kata Anindya.
Tekanan kelima adalah persaingan investasi global. Arus investasi asing global mencapai sekitar Rp 1,6 triliun, sementara aliran investasi ke Asia Tenggara cenderung stagnan.
Baca Juga
Di lain sisi, negara-negara tetangga semakin agresif menawarkan insentif dan kepastian lembaga untuk menarik para investor.
Lalu, tekanan keenam berasal dari disrupsi teknologi. Pasar semikonduktor global diproyeksikan mencapai US$ 1,5 triliun, terutama didorong perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Ini peluang besar bagi yang mau masuk ke rantai nilai lainnya dan disrupsi bagi yang tertinggal,” ucap Anindya.
Berbagai tantangan tersebut, kata dia, mulai dirasakan dunia usaha domestik. Nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 17.700 per dolar AS, sementara sektor manufaktur kembali mengalami kontraksi.
Ekonomi RI Tetap Tumbuh Positif
Meski begitu, ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 5,29% pada kuartal II 2026. Anindya menilai, capaian tersebut menunjukkan kondisi ekonomi yang relatif solid, tapi masih diperlukan terobosan untuk mengejar taret pertumbuhan 8% menuju Indonesia Emas 2045.
Ia mengatakan, ekspor Indonesia yang mencapai US$ 282,9 miliar pada tahun lalu perlu terus ditingkatkan melalui diversifikasi produk dan perluasan pasar. Sejumlah perjanjian perdagangan baru, termasuk preferential trade agreement (PTA) dan comprehensive economic partnership agreement (CEPA) dengan Kanada, Uni Eropa, serta negara-negara regional, dinilai menjadi salah satu langkah untuk memperkuat ekspor dan rupiah.
Di sisi investasi, penanaman modal asing tumbuh 27,5%, sementara penanaman modal dalam negeri turun 7,78%. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang sekaligus peringatan agar dunia usaha domestik semakin diperkuat.
Baca Juga
“92,5% PDB (produk domestik bruto) Indonesia digerakkan oleh dunia usaha, oleh 64 juta unit usaha,” ujar Anindya.
Dari jumlah tersebut, sekitar 98% merupakan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Sektor ini berkontribusi sekitar 62% terhadap PDB nasional dan menyerap 97% tenaga kerja.
UMKM Hadapi Tantangan Naik Kelas
Namun, Anindya menilai UMKM masih menghadapi tantangan untuk naik kelas. Sekitar 58% pekerja masih berada di sektor informal, sementara baru sekitar 15 juta dari 64 juta pelaku usaha yang memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).
Kontribusi UMKM terhadap ekspor juga baru sekitar 15,7%, jauh di bawah kontribusinya terhadap PDB.
“Setiap tahun, 4 juta angkatan kerja baru menanti lapangan kerja berkualitas yang lebih dari 70%-nya diciptakan oleh sektor swasta,” kata Anindya.
