Harga Emas Anjlok 1,7%, Saat Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga AS Menguat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas dunia turun pada perdagangan Kamis (16/7/2026) setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi, menopang penguatan dolar AS, serta meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga.
Harga emas spot turun 1,7% menjadi US$ 3.989,95 per ons. Sebelumnya, logam mulia itu sempat melemah hingga 2%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS turun 1,4% menjadi US$ 3.994,30 per ons.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Naik ke Rp 2,635 Juta, Inflasi AS Jadi Pemicu
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 55% bahwa The Fed, bank sentral Amerika Serikat, akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang.
Tekanan terhadap emas juga datang dari kenaikan tipis imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun. Pada saat yang sama, indeks dolar AS menguat sekitar 0,3%, sehingga harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar AS.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada pekan ini menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi. Namun, ia tidak memberikan petunjuk yang lebih rinci mengenai langkah kebijakan moneter yang akan ditempuh dalam waktu dekat.
Sebelumnya, data ekonomi yang dirilis pada Selasa (14/7/2026) menunjukkan inflasi konsumen Amerika Serikat melambat pada Juni. Sehari kemudian, Pemerintah AS juga melaporkan bahwa indeks harga produsen mengalami penurunan.
Baca Juga
Meski demikian, pelaku pasar menilai perlambatan inflasi tersebut belum cukup kuat untuk mengubah arah kebijakan moneter Federal Reserve karena tekanan harga energi masih tinggi di tengah meningkatnya tensi geopolitik.
“Meskipun beberapa data ekonomi jangka pendek melunak, harga energi yang terus tinggi akan menyulitkan The Fed untuk mengadopsi sikap yang lebih lunak. Karena alasan yang sama, investor lebih memilih dolar daripada emas yang tidak memberikan imbal hasil,” kata Fawad Razaqzada, analis pasar di Forex.com, dalam sebuah catatan.
