Harga Emas Menguat Seusai Harga Minyak Anjlok, Pasar Tunggu Suku Bunga The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas naik pada Senin (27/7/2026) setelah meredanya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong harga minyak mentah turun ke level terendah dalam satu minggu. Kondisi tersebut memangkas kekhawatiran inflasi sekaligus meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memiliki ruang lebih besar menurunkan suku bunga, sehingga menopang daya tarik logam mulia.
Harga emas naik 0,9% menjadi US$ 4.087,59 per ons, sementara kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus menguat 0,5% menjadi US$ 4.090 per ons.
Penguatan emas juga didukung pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,1%. Penurunan nilai dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi pembeli di luar Amerika Serikat sehingga meningkatkan permintaan.
Baca Juga
'Update' Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Naik Rp 7.000 per Gram
"Pada dasarnya yang kita lihat adalah pasar minyak turun dari lebih dari US$ 100 minggu lalu menjadi US$ 90, dan ini mendorong prospek suku bunga lebih rendah," kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities dilansir CNBC.
Harga minyak sebelumnya turun sekitar 6% dan menyentuh level terendah dalam satu minggu setelah AS dan Iran menghentikan aksi saling serang selama akhir pekan. Gencatan permusuhan yang terjadi setelah konflik selama dua pekan memunculkan harapan bahwa solusi diplomatik dapat ditempuh dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali berjalan normal.
Meredanya harga energi ikut menurunkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi tersebut mengurangi spekulasi bahwa bank sentral AS harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga umumnya mengurangi daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.
Pasar Menunggu Keputusan The Fed
Fokus investor kini tertuju pada rapat kebijakan moneter Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (29/7/2026). Berdasarkan data CME FedWatch, sekitar 66% pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Meski demikian, pasar masih melihat peluang sekitar 79% bahwa Federal Reserve akan mulai menaikkan suku bunga pada September, tergantung perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi Amerika Serikat.
Baca Juga
Perdagangan Fisik Emas Digital ICDX Melesat 338% di Semester I 2026
Selain keputusan suku bunga, investor juga menunggu rilis data pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi pilihan Federal Reserve, yang akan diumumkan pada Kamis. Data tersebut diperkirakan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang.
Sementara itu, data Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong yang dirilis pada Senin menunjukkan impor emas bersih China melalui Hong Kong pada Juni meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, volumenya masih turun lebih dari 5% dibandingkan bulan sebelumnya.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak naik 1,3% menjadi US$ 58,92 per ons. Platinum menguat 2,3% menjadi US$ 1.625,31 per ons, sedangkan paladium melonjak 3,4% menjadi US$ 1.285,79 per ons.
