Harga Emas Melemah, Investor Tunggu Sinyal Suku Bunga The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas melemah pada Selasa (28/7/2026) setelah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam 1 bulan. Pelaku pasar memilih menahan posisi sambil menunggu keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), serta pernyataan ketua Kevin Warsh yang diperkirakan akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Harga emas turun 1,1% menjadi US$ 4.032,42 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga turun 1,1% menjadi US$ 4.032,40 per ons.
Penguatan dolar AS membuat harga emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli dari luar AS. Kondisi ini menekan permintaan dan membatasi ruang kenaikan logam mulia.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Senin 27 Juli 2026 Menguat, Cek Daftar Lengkapnya
"Harga energi yang tinggi tetap menjadi kekhawatiran inflasi bagi anggota Fed, dan kecenderungan kebijakan moneter yang lebih ketat dari Fed telah memicu ekspektasi kenaikan suku bunga dan penguatan dolar AS, sehingga memberikan tekanan pada pasar emas," kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger dilansir CNBC.
Harga emas telah turun sekitar 24% sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran pecah pada akhir Februari. Penurunan tersebut dipicu kekhawatiran bahwa lonjakan inflasi akibat perang dapat memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Meskipun emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga justru mengurangi daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Investor kini memusatkan perhatian pada hasil rapat Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (29/7/2026). Selain keputusan suku bunga, pasar juga akan mencermati komentar Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengenai prospek inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan arah kebijakan selanjutnya.
Berdasarkan ekspektasi pasar, peluang The Fed mempertahankan suku bunga berada di level 69% pada pertemuan kali ini. Namun, pelaku pasar juga memperkirakan peluang sebesar 77% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September jika tekanan inflasi masih bertahan.
Selain rapat The Fed, perhatian investor pekan ini juga tertuju pada data Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat periode Juni yang dijadwalkan dirilis Kamis (31/7/2026). Data tersebut merupakan salah satu indikator inflasi favorit Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Sementara itu, Commerzbank memangkas proyeksi harga emas akhir tahun sebesar US$ 300 menjadi US$ 4.500 per ons. Bank asal Jerman tersebut menilai pemulihan harga emas akan sulit terjadi apabila ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi tidak berubah dan arus dana ke exchange traded fund (ETF) emas belum kembali menguat.
Baca Juga
Faktor geopolitik juga masih menjadi perhatian investor. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Washington sedang menjalankan "pembicaraan yang baik" dengan Iran dan masih membuka peluang tercapainya kesepakatan. Namun, Trump menegaskan serangan militer dapat kembali dilakukan apabila negosiasi gagal, sementara Iran juga menyampaikan ancaman balasan jika konflik kembali meningkat.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 2,2% menjadi US$ 57,10 per ons. Platinum melemah 1,4% menjadi US$ 1.599,26 per ons, sedangkan paladium turun 2,4% menjadi US$ 1.260,13 per ons.
